Pemulihan Kinerja UNVR Dibarengi Strategi Transformasi Portofolio
PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) menunjukkan tanda-tanda pemulihan kinerja setelah melewati fase penataan ulang fundamental bisnis. Hal ini terlihat dari pertumbuhan penjualan yang kembali positif serta efektivitas strategi transformasi portofolio perseroan.
Menurut laporan dari Muhammad Wafi, Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia, momentum pemulihan UNVR mulai terlihat setelah mengakhiri fase penataan ulang di tahun 2025. Pertumbuhan penjualan operasi berlanjut sebesar 4,3% menjadi Rp 31,9 triliun pada tahun buku 2025. Kenaikan tersebut didorong oleh kombinasi pertumbuhan volume (UVG) sebesar 1,2% dan pertumbuhan harga (UPG) sebesar 2,8%.
Kuartal IV-2025 Menjadi Titik Balik
Titik balik kinerja UNVR terlihat pada kuartal IV-2025 ketika segmen Home and Personal Care mencatat rebound penjualan sebesar 20,2%, didukung oleh lonjakan volume sebesar 13,6%. Hal ini mengindikasikan kembalinya permintaan konsumen secara nyata, meskipun basis pembandingnya lebih lemah dibandingkan tahun sebelumnya.
Wafi menjelaskan bahwa transformasi portofolio masih menjadi pilar utama dalam tesis investasi UNVR. Perseroan telah menyelesaikan pemisahan bisnis es krim dan melanjutkan rencana divestasi bisnis teh Sariwangi. Langkah ini mencerminkan strategi menukar skala dengan fokus pada segmen-segmen yang lebih menguntungkan.
Fokus pada Segmen Bertumbuh Tinggi
Dari sisi portofolio produk, manajemen semakin menitikberatkan pada segmen bertumbuh tinggi seperti premium skincare. Segmen ini mencatat pertumbuhan kontribusi sebesar 26,5% sepanjang 2025. Selain itu, upaya efisiensi juga terlihat dari penyesuaian biaya tenaga kerja sebesar 20% serta peningkatan efisiensi produksi sebesar 10,3%. Efisiensi ini berpotensi menjadi penopang margin secara struktural.
Belanja iklan dan promosi (A&P) tetap disiplin di level 8,5%. Perusahaan semakin memperkuat strategi penciptaan permintaan berbasis digital dan media sosial.
Risiko yang Perlu Diperhatikan
Meski prospek UNVR membaik, Wafi mengingatkan sejumlah risiko yang perlu diperhatikan. Salah satunya adalah pergeseran musiman Lebaran yang berpotensi memindahkan sekitar 3% pertumbuhan dari kuartal I ke kuartal II. Selain itu, ketentuan free float minimum 15% masih menjadi potensi tekanan teknikal karena posisi saat ini berada tepat di ambang batas.
Volatilitas harga bahan baku, terutama CPO, tetap menjadi risiko utama terhadap proyeksi ekspansi margin sekitar 20 basis poin pada tahun 2026.
Rekomendasi HOLD untuk Saham UNVR
Dengan berbagai faktor tersebut, Wafi mempertahankan rekomendasi HOLD untuk saham UNVR dengan target harga Rp 2.100 per saham. Rekomendasi ini didasarkan pada proyeksi multiple P/E FY26F sebesar 20,0 kali.
Meski valuasi UNVR saat ini masih tergolong premium dibandingkan emiten lokal berkapitalisasi lebih kecil, profil dividennya dinilai lebih menarik. Hal ini memberikan daya tarik bagi investor yang mencari keseimbangan antara pertumbuhan dan pengembalian dividen.





