Penjualan Turun 46,7%, Gunung Raja Rugi US$ 36,83 Juta di 2025

Aa1dvy7t
Aa1dvy7t



Kinerja Keuangan dan Operasional PT Gunung Raja Paksi Tbk (GGRP) pada Tahun 2025

Pada tahun 2025, kinerja keuangan dan operasional PT Gunung Raja Paksi Tbk (GGRP) mengalami penurunan yang signifikan. Penjualan bersih GGRP turun sebesar 46,74% secara tahunan (year on year/ yoy) dari US$ 351,80 juta menjadi US$ 187,35 juta. Penurunan ini terjadi karena tekanan eksternal yang cukup besar, termasuk fluktuasi harga global dan persaingan ketat dari baja impor.

Mayoritas pendapatan GGRP berasal dari pasar lokal dengan kontribusi sebesar US$ 177,13 juta, sementara penjualan ke pasar ekspor hanya mencapai US$ 10,21 juta. Kedua segmen ini mengalami penurunan masing-masing sebesar 47,87% (yoy) untuk pasar lokal dan 14,77% (yoy) untuk pasar ekspor. Hal ini menunjukkan bahwa permintaan di pasar domestik juga mengalami penurunan.

Dalam konteks biaya produksi, beban pokok penjualan GGRP menyusut sebesar 38,54% (yoy) menjadi US$ 210,80 juta. Namun, penurunan ini tidak cukup untuk menutupi kerugian yang terjadi. Rugi bruto GGRP mencapai US$ 23,45 juta, berbanding rugi bruto sebesar US$ 8,78 juta pada tahun 2024.

Secara keseluruhan, GGRP mengalami rugi bersih sebesar US$ 36,83 juta pada tahun 2025. Padahal, pada tahun sebelumnya, perusahaan masih mampu meraih laba bersih sebesar US$ 122,27 juta. Penurunan drastis ini disebabkan oleh beberapa faktor seperti penurunan volume penjualan dan peningkatan biaya produksi.

Dalam laporan keterbukaan informasi yang dirilis di Bursa Efek Indonesia pada Senin (2/3/2026), Manajemen GGRP menyatakan bahwa tahun 2025 merupakan tahun evaluasi dan transisi strategis. Tahun ini menjadi dasar penting untuk menuju pertumbuhan keberlanjutan di masa depan.

“Meskipun menghadapi tekanan pada profitabilitas sebesar 129% (yoy) yang menyebabkan rugi bersih sebesar US$ 36 juta, kondisi ini mencerminkan upaya optimal GGRP di tengah dampak global terhadap tekanan harga dan impor baja yang meningkat,” ujar Manajemen GGRP.

Di tengah tantangan harga global, GGRP terus melakukan optimasi biaya produksi agar harga jual tetap kompetitif. Pasar lokal masih menjadi kontributor utama penjualan GGRP dengan kontribusi sekitar 95%, sedangkan ekspor hanya memberikan kontribusi sekitar 5%.

Secara operasional, volume produksi GGRP pada tahun 2025 turun sekitar 33% (yoy) dari 661.000 ton menjadi 446.000 ton. Sementara itu, volume penjualan GGRP merosot sekitar 37% (yoy) dari 490.000 ton menjadi 309.000 ton pada 2025. Penurunan ini mencerminkan adanya penurunan permintaan baik di pasar dalam maupun luar negeri.

Dalam hal likuiditas, GGRP berhasil mempertahankan cadangan kas yang stabil, sehingga mampu membayar kewajiban jangka pendek. Hal ini terlihat dari rasio cash ratio sebesar 1,85x dan current ratio sebesar 4,77x. Kekuatan likuiditas ini memungkinkan GGRP untuk meminimalkan risiko finansial dan memperkuat posisi modal melalui strategi deleveraging yang agresif.

GGRP berhasil menekan Debt to Equity Ratio (DER) hingga ke level 0,11x serta melunasi pinjaman jangka panjang hingga tersisa US$ 3,42 juta. Dengan posisi DER 0,11x, Manajemen menegaskan bahwa GGRP berada dalam posisi yang aman secara fundamental untuk melakukan penetrasi pasar kembali tanpa beban utang jangka panjang segera setelah siklus industri stabil.

“Meskipun secara operasional menantang, GGRP berhasil melunasi utang jangka panjang hingga ke level terendah sejak IPO sebesar US$ 3,42 Juta. Keberhasilan pendeleveraging ini, dikombinasikan dengan peningkatan kas yang signifikan hingga mencapai Cash Ratio 1,85x, memastikan GRP tetap likuid dan tangguh,” tambah Manajemen GGRP.

Pos terkait