Perubahan Pola Aktivitas Selama Ramadan
Selama bulan Ramadan, pola aktivitas tubuh seringkali mengalami penyesuaian yang signifikan. Hal ini bisa memengaruhi energi, fokus, dan stabilitas emosi. Salah satu hal penting yang perlu diperhatikan adalah hidrasi. “Hidrasi bisa menjadi bagian dari self care di bulan Ramadan,” ujar Muhammad Assad, seorang ahli agama, dalam acara #TemanAdemRamadan by Aqua pada pertengahan Februari 2025.
Muhammad Assad menekankan bahwa menjaga kesehatan fisik merupakan bagian dari amanah yang dianjurkan dalam ajaran Islam. Ia juga mengingatkan bahwa Nabi Muhammad SAW memberikan contoh keseimbangan dalam pola makan dan minum, termasuk menjaga proporsi asupan cairan agar tubuh tetap optimal.
Menurutnya, puasa bukanlah seperti lari sprint yang hanya berjarak 100-400 meter, melainkan seperti seseorang yang sedang menjalani lari marathon yang menempuh jarak 42 kilometer. “Puasa itu seperti marathon, bukan sprint. Yang terpenting bukan siapa yang paling cepat, tapi siapa yang mampu menjaga stamina hingga akhir,” katanya.
Pentingnya Mengenali Kebutuhan Tubuh
Sementara itu, aktris Vebby Palwinta menyoroti pentingnya mengenali kebutuhan tubuh selama Ramadan. Ia mengaku sering mengalami pusing ketika kurang minum dan menyadari bahwa hidrasi memiliki peran besar dalam menjaga produktivitas. “Hidrasi itu bukan cuma soal haus, tapi juga bagaimana kita menjaga energi dan emosi tetap stabil,” ujarnya.
Marketing Director Aqua, Adisti Nirmala, menjelaskan bahwa kebutuhan masyarakat terhadap hidrasi kini berkembang seiring meningkatnya kesadaran akan wellness. “Hidrasi berkualitas menjadi fondasi agar tubuh tetap segar dan pikiran lebih fokus selama menjalani aktivitas Ramadan,” jelasnya.
Adisti menambahkan bahwa Ramadan kini tidak lagi dijalani dalam ruang hening semata, melainkan di tengah distraksi digital, tekanan pekerjaan, hingga dinamika sosial yang semakin kompleks. Ia memperkenalkan inisiatif #TemanAdemRamadan sebagai gerakan yang mendorong masyarakat menjalani Ramadan dengan tubuh yang terhidrasi baik serta pikiran yang lebih sejuk. Konsep “adem” dalam kegiatan ini bukan hanya soal rasa sejuk secara fisik, tetapi juga mencakup kondisi emosional dan mental yang lebih stabil.
“Ramadan saat ini dijalani dalam realitas modern yang penuh tantangan. Melalui #TemanAdemRamadan, kami ingin mengajak masyarakat menjaga keseimbangan antara tubuh dan pikiran agar ibadah dapat dijalani dengan lebih optimal,” ujar Adisti.
Esensi Puasa dalam Perspektif Spiritual
Dari sisi spiritual, Muhammad Assad pun mengingatkan bahwa esensi puasa tidak sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga latihan mengelola emosi dan menjaga hubungan sosial. Menurutnya, seseorang bisa saja kuat menahan rasa haus, namun belum tentu mampu menahan lisan atau emosi. Di situlah makna puasa yang sebenarnya diuji.
“Adem bukan hanya rasa, tapi cerminan kematangan iman. Ketika seseorang mampu memilih diam saat emosi, menjaga kata-kata, dan bersikap bijak dalam situasi sulit, di situlah nilai puasa terasa,” jelasnya.
Membangun Keseimbangan dalam Ramadan Modern
Dalam era modern yang penuh tantangan, Ramadan menjadi momen penting untuk membangun keseimbangan antara tubuh dan pikiran. Dengan mengedepankan hidrasi yang optimal, masyarakat dapat menjalani ibadah dengan lebih maksimal. Inisiatif seperti #TemanAdemRamadan memberikan panduan praktis untuk menjaga kesehatan fisik dan mental selama bulan suci ini.
Penting bagi setiap individu untuk memahami kebutuhan tubuh mereka sendiri dan mengambil langkah-langkah preventif untuk menjaga kesehatan. Dengan kombinasi hidrasi yang tepat, pengelolaan emosi, dan kesadaran akan kesehatan, Ramadan bisa menjadi waktu yang bermakna dan menyenangkan.





