JAKARTA — Tensi yang semakin memuncak di kawasan Timur Tengah akibat serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, serta respons balasan dari Teheran, diperkirakan akan meningkatkan permintaan terhadap aset safe haven oleh para investor. Investor cenderung beralih ke aset berisiko rendah seperti obligasi atau emas sebagai strategi perlindungan terhadap volatilitas pasar.
Menurut analisis sejumlah ahli, pasar keuangan akan memperhatikan dampak konflik ini terhadap pasar energi. Volatilitas diperkirakan akan meningkat seiring dengan meningkatnya ketegangan. Oleh karena itu, manajer investasi dikhawatirkan akan mengalihkan portofolio mereka dari pasar ekuitas.
John Briggs, Kepala Strategi Suku Bunga AS dari Natixis, memprediksi bahwa pasar akan lebih fokus pada strategi pengamanan aset. Ia menilai bahwa serangan balasan Iran lebih besar dari prediksi pasar. Dalam situasi ini, obligasi pemerintah AS diperkirakan akan terus menunjukkan tren positif, terutama setelah yield jangka pendek turun ke level terendah sejak 2022.
“Skala serangan dan balasan Iran lebih besar dari yang diperkirakan pasar,” ujarnya pada Minggu (1/3/2026).
Ed Al-Hussainy, Manajer Portofolio dari Columbia Threadneedle Investments, menjelaskan bahwa valuasi yang terlalu tinggi di hampir seluruh saham dan kredit global memperkuat alasan bagi investor untuk mengurangi risiko di pasar saham. Selain itu, pasar sebelumnya telah gelisah terkait perubahan kebijakan tarif AS terhadap negara-negara mitra dagang. Belum lagi, adanya ketidakpastian terkait disrupsi AI dan tekanan pada kredit swasta.
“Sejauh mana pengurangan risiko ini akan terjadi, tidak ada yang tahu,” kata Al-Hussainy.
Kecemasan pasar atas aksi militer di Timur Tengah sudah terlihat sejak perdagangan Jumat (27/2/2026). Pada hari itu, harga minyak mentah Brent mencapai level tertinggi sejak Juli, sementara indeks S&P 500 mengalami penurunan sebesar 0,4%. Indeks Tadawul All Share Arab Saudi juga dibuka dengan penurunan hampir 5% sebelum mengurangi sebagian besar kerugiannya pada perdagangan Minggu (1/3/2026).
Sementara itu, Bitcoin diperdagangkan di kisaran US$68.000. Data Derbit menunjukkan bahwa opsi jual pada mata uang kripto tersebut senilai US$1,87 miliar terkonsentrasi di level $60.000, menandakan permintaan yang persisten untuk perlindungan terhadap penurunan harga.
Ajay Rajadhyaksha, ahli strategi dari Barclays Plc, memperingatkan investor agar tidak terburu-buru membeli saat harga turun. Menurutnya, kondisi saat ini berbeda dari biasanya. Ia menekankan potensi korban jiwa dari pihak AS, serangan terhadap kepemimpinan Iran, dan ancaman terhadap lalu lintas di Selat Hormuz.
“Rasio risiko-imbalan saat ini tidak terlihat menarik. Jika ekuitas turun cukup dalam, mungkin akan tiba saatnya untuk membeli. Namun, belum sekarang,” tegasnya.
Dave Mazza dari Roundhill Financial menyoroti risiko jika Selat Hormuz ditutup oleh Iran sebagai bagian dari upaya perlawanan. Ia menjelaskan bahwa jalur ini sangat penting bagi perdagangan minyak dunia, karena sekitar seperempat pasokan minyak melalui laut melewati wilayah tersebut.
“Ini tentang risiko Hormuz, bukan sekadar pembalasan. Jika jalur pelayaran tetap terbuka, pasar saham mungkin bisa bertahan. Jika tidak, semua skenario bisa berubah,” katanya.





