Pasar Minyak Menghadapi Kenaikan Harga yang Signifikan
Pasar minyak sedang bersiap menghadapi lonjakan harga yang tajam akibat serangan Amerika Serikat (AS) terhadap Iran dan respons agresif dari Teheran. Meski Iran hanya menyumbang sekitar 3-4% produksi minyak global, posisi strategisnya di dekat Selat Hormuz membuat pasar tetap waspada.
Serangan AS dan Israel terhadap Iran serta respons agresif dari Teheran telah mengguncang pasar minyak. Banyak analis memperkirakan bahwa harga minyak bisa melonjak tajam dalam waktu dekat. Meskipun Iran hanya menyumbang sekitar 3-4% dari produksi minyak dunia, keberadaannya di dekat Selat Hormuz, yang merupakan jalur paling penting bagi lalu lintas minyak global, memicu kekhawatiran akan gangguan pasokan.
Gangguan berkepanjangan terhadap lalu lintas di Selat Hormuz dapat membuat harga minyak melonjak melebihi ambang batas US$100 per barel. Kondisi ini berpotensi merugikan ekonomi global dan mendorong kenaikan harga yang sulit dikendalikan. Sebelum konflik terjadi, harga minyak telah naik ke level tertinggi dalam beberapa bulan karena para pedagang mencemaskan dampak kemungkinan serangan militer terhadap Iran.
Minyak mentah Brent naik ke sekitar US$73 per barel pada 27 Februari. Kelompok negara produsen minyak OPEC+ sepakat meningkatkan produksi mulai April guna menenangkan pasar. Namun, jika konflik berkepanjangan dan memengaruhi pasokan minyak secara nyata, baik akibat gangguan pasokan Iran maupun upaya Iran untuk memblokir Selat Hormuz, hal itu dapat menyebabkan harga minyak melonjak hingga sekitar US$100 per barel.
Berapa Banyak Minyak yang Diproduksi Iran?
Iran memproduksi sekitar 3,3 juta barel minyak per hari (bph), menjadikannya produsen minyak terbesar keempat di dalam Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC). Iran juga termasuk salah satu produsen gas alam terbesar di dunia. Meskipun memiliki cadangan minyak terbesar di dunia, produksinya tetap terbatas akibat bertahun-tahun kurangnya investasi dan sanksi internasional.
Iran kini menjual 90% ekspor minyaknya ke Cina, yang membantu meningkatkan produksi minyak mentahnya sekitar 1 juta bph dari 2020 hingga 2023. Ekonomi Iran relatif lebih terdiversifikasi dibandingkan banyak negara Timur Tengah lain yang bergantung pada minyak, tetapi ekspor energi tetap menjadi sumber pendapatan penting bagi pemerintah. Pada 2023, perusahaan minyak Iran meraih sekitar US$53 miliar pendapatan bersih dari ekspor minyak.
Mengapa Selat Hormuz Menjadi Sorotan?
Selat Hormuz merupakan jalur utama pengiriman minyak yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab. Jalur ini terletak di antara Iran dan Oman. Sejumlah besar minyak mentah yang diproduksi di kawasan tersebut oleh negara-negara seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Irak, serta dikonsumsi secara global, mengalir melalui selat ini.
Iran berulang kali mengancam akan menutup selat tersebut, namun belum pernah melakukannya karena risiko memicu respons internasional yang cepat. Di tengah perang yang sedang berlangsung, lalu lintas melalui Selat Hormuz praktis terhenti setelah sejumlah perusahaan pelayaran dan pedagang energi menangguhkan pengiriman melalui jalur itu karena alasan keamanan dan peringatan dari otoritas.
Hal ini mengancam terhambatnya 15 juta barel per hari minyak mentah, sekitar 30% perdagangan minyak laut global, untuk mencapai pasar. Bahkan jika infrastruktur alternatif digunakan untuk menghindari jalur tersebut, dampaknya akan berupa kehilangan pasokan 8-10 juta bph.

Bagaimana Respons OPEC+?
OPEC+, aliansi antara OPEC yang dipimpin Arab Saudi dan sejumlah produsen minyak lain termasuk Rusia, mengumumkan peningkatan kuota produksi yang lebih besar dari perkiraan. Arab Saudi telah meningkatkan ekspor minyak mentahnya dalam beberapa pekan terakhir, yang menurut analis merupakan upaya menciptakan penyangga jangka pendek menjelang serangan AS dan Israel.
Arab Saudi mengirim sekitar 7,3 juta bph dalam 24 hari pertama bulan Februari, tertinggi sejak April 2023. Arab Saudi juga meningkatkan ekspor minyak pada Juni tahun lalu, saat AS menyerang fasilitas nuklir Iran. Iran juga meningkatkan ekspor minyaknya menjelang negosiasi dengan AS.
Namun, penyangga semacam itu pada dasarnya terbatas dan dirancang untuk meredam guncangan jangka pendek, bukan untuk mengimbangi gangguan struktural yang berkelanjutan.
Dampak Terhadap Ekonomi Global
Dampak terhadap ekonomi global sangat bergantung pada seberapa tinggi harga minyak akan naik. Minyak mentah merupakan komoditas utama, sehingga kenaikan harganya mendorong kenaikan harga barang lainnya. Kenaikan harga minyak sebesar 5% secara tahunan biasanya menambah sekitar 0,1 poin persentase pada inflasi rata-rata di ekonomi utama.
Kenaikan Brent hingga US$100 per barel dapat menambah 0,6–0,7 poin persentase terhadap inflasi global. Inflasi yang lebih tinggi dapat menekan kepercayaan dan belanja konsumen. Bank sentral juga dapat menaikkan suku bunga untuk menekan inflasi, yang pada akhirnya memperlambat pertumbuhan ekonomi.





