Dampak Perang Iran-Amerika Serikat-Israel pada Inflasi dan Pangan di Indonesia
Perang antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel diperkirakan dapat memiliki dampak yang signifikan terhadap inflasi dalam negeri, khususnya jika konflik tersebut berlangsung secara terus-menerus. Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Hendri Saparini, menilai bahwa tekanan inflasi pangan juga bisa meningkat, mengingat Indonesia adalah negara pengimpor pangan yang cukup besar.
“Kita juga pengimpor pangan cukup besar. Jadi kalau perang semakin dalam dan lama, inflasi pangan di Indonesia akan ada tekanan lebih tinggi,” ujar Hendri dalam talkshow “Ramadan Tenang Harga Terkendali” pada Senin (2/3).
Meski demikian, ia memperkirakan tekanan harga dalam jangka pendek hingga Lebaran masih terbatas meskipun ada gejolak dari sisi nilai tukar rupiah. Pelaku usaha dinilai sudah melakukan stok barang sehingga kenaikan harga bisa tertahan.
Namun, jika konflik berkepanjangan dan meluas, tekanan inflasi pangan berpotensi meningkat, terutama melalui jalur impor dan pelemahan nilai tukar.
Stabilitas Inflasi Pangan Saat Ini
Menurut Hendri, inflasi pangan menjelang Ramadan 2026 saat ini relatif stabil jika dibandingkan tahun lalu. Namun, pada 2025, Indonesia justru mengalami deflasi. Hal ini menunjukkan bahwa kondisi pangan tidak sepenuhnya stabil, meskipun saat ini belum terlihat adanya peningkatan signifikan.
Dari sisi konsumsi, Hendri melihat daya beli masyarakat masih rapuh. Upah riil belum sepenuhnya pulih, sedangkan kebijakan fiskal seperti bantuan sosial (bansos) di awal Ramadan belum tentu mampu mendorong konsumsi secara signifikan.
Perubahan Struktur Kelas Menengah
Ia juga menyoroti fenomena pergeseran kelas menengah, di mana banyak yang turun menjadi calon kelas menengah. Saat ini, porsi konsumsi lebih besar justru berasal dari kelompok calon kelas menengah sekitar 44%, sedangkan kelas menengah sekitar 37%.
Jika inflasi pangan melonjak, dampaknya akan langsung terasa pada kelompok menengah ke bawah. Mereka cenderung memprioritaskan belanja kebutuhan pokok dan mengurangi konsumsi barang tahan lama.
“Kalau inflasi pangan naik, masyarakat terutama kelompok menengah bawah akan makan tabungan atau bahkan makan pinjaman,” ujarnya.
Dampak pada Pembiayaan
Fenomena “makan tabungan” dan “makan pinjaman” ini berpotensi mendorong peningkatan pembiayaan, baik melalui perbankan maupun lembaga non-bank yang menyediakan akses dana cepat. Kondisi ini bisa memicu lonjakan permintaan kredit dan penggunaan dana darurat oleh masyarakat.
Tantangan bagi Otoritas Moneter
Karena itu, ia menilai otoritas moneter seperti Bank Indonesia perlu memperhitungkan ulang proyeksi inflasi dan pertumbuhan konsumsi, dengan mempertimbangkan dinamika geopolitik global yang berkembang. Perubahan situasi internasional seperti konflik di Timur Tengah dapat memengaruhi stabilitas ekonomi nasional, termasuk harga pangan dan daya beli masyarakat.
Dengan situasi yang terus berubah, penting bagi pemerintah dan lembaga keuangan untuk terus memantau perkembangan inflasi serta mengambil langkah-langkah mitigasi agar stabilitas ekonomi tetap terjaga, terutama di tengah tantangan global yang semakin kompleks.





