Perang Iran-AS Meletus, Ini Rekomendasi Saham Hari Ini dari Kiwoom Sekuritas (2/3)

Aa1wtirn 6
Aa1wtirn 6

Perkembangan Pasar Saham dan Proyeksi IHSG

Pasar saham kembali memasuki pekan ini dengan sentimen utama yang berasal dari risiko geopolitik. Bagaimana proyeksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan rekomendasi saham hari ini, Senin, 2 Maret 2026?

IHSG menutup perdagangan hari terakhir bulan Februari (27/2) di level 8235,49, naik tipis 0,22 poin. IHSG berhasil bangkit dari intraday low 8093,75, didukung oleh sektor Industrial yang naik 4,48%, Consumer Cyclicals meningkat 2,88%, serta Basic Materials bertambah 1,88%.

Di sisi lain, asing melakukan aksi jual dengan foreign net sell sebesar Rp 694 miliar.

Secara teknikal, Kepala Riset Kiwoom Sekuritas Liza Carmelia Suryanata menyebutkan bahwa IHSG mentok persis di Resistance MA20 pada weekly High 8.437. Hal ini menunjukkan bahwa tekanan jual masih mendominasi pasar.

Kiwoom Research merekomendasikan untuk mengurangi posisi portofolio dan lebih banyak menjaga sikap wait and see dalam waktu dekat.

Meskipun demikian, melihat kejadian Perang Russia-Ukraina tahun 2022, pasar Indonesia yang commodity-driven sejatinya diuntungkan oleh kenaikan harga komoditas, sehingga mampu menguat sekitar 5% dari awal serangan hingga titik tertinggi April 2022.

“Walaupun berspekulatif tinggi, potensi trading di saham-saham berbasis komoditi terdampak perang seperti energi dan emas mungkin bisa dilirik, dengan mengedepankan disiplin money-management yang ketat.”

Support IHSG hari ini diperkirakan berada di level 8.000-7.950 / 7840.

Rekomendasi Saham Hari Ini

Berikut sejumlah rekomendasi saham yang bisa diperhatikan investor. Rekomendasi teknikal ini bukan ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Setiap keputusan investasi membawa risiko yang ada di tangan masing-masing investor.

  1. AKRA

    Entry Buy : 1.260 – 1.295

    Target Price : 1.335 – 1.375

    Support : 1.245 – 1.260

    Cut loss : 1.235

  2. ESSA

    Entry Buy : 630 – 645

    Target Price : 665 – 685

    Support : 620 – 630

    Cut loss : 610

  3. MEDC

    Entry Buy : 1.680 – 1.725

    Target Price : 1.780 – 1.835

    Support : 1.655 – 1.680

    Cut loss : 1.645

  4. TINS

    Entry Buy : 4.480 – 4.600

    Target Price : 4.740 – 4.880

    Support : 4.420 – 4.480

    Cut loss : 4.400

Tensi Geopolitik yang Mengkhawatirkan

Perhatian pasar akan didominasi oleh kondisi geopolitik yang memanas, yang diperkirakan belum akan reda dalam waktu dekat. Risiko tail-risk konflik lebih luas meningkat, apalagi jika mendengar Presiden AS Donald Trump bahwa serangan gabungan AS+Israel ke Iran bisa berlangsung selama empat pekan.

Bukan hanya ekskalasi di Timur Tengah, sentimen global memburuk akibat kombinasi faktor valuasi tinggi sektor teknologi, kekhawatiran AI yang menggerus free cash flow hyperscalers, dan inflasi yang membandel.

Pecahnya perang Iran diperkirakan memicu harga minyak dan emas. Terutama setelah Iran menutup akses jalur perdagangan di Selat Hormuz.

“Energi dan logam mulia menjadi sektor defensif utama, sementara ekuitas global dan aset berisiko menghadapi volatilitas tinggi pada pembukaan pasar Senin ini, dan setidaknya sepekan ke depan,” tulis Liza.

Fokus utama investor adalah durasi konflik dan tingkat eskalasi, stabilitas Selat Hormuz, dan arah harga minyak di atas US$ 90–100 / barrel.

Harga minyak Brent melonjak 10% ke sekitar USD 80 / barrel dalam perdagangan OTC akhir pekan dan berpotensi membuka mendekati USD 90–100 / barrel jika gangguan Selat Hormuz berkepanjangan.

Sekitar 20% pasokan minyak global melewati Selat tersebut. Penutupan atau gangguan Selat Hormuz berisiko menghilangkan 8–10 juta bpd pasokan efektif, bahkan setelah dialihkan melalui pipa Arab Saudi dan Abu Dhabi. Kapasitas cadangan OPEC+ dinilai terbatas, kecuali Arab Saudi.

Harga emas spot berpotensi gap up dengan level teknikal kunci US$ 5.400 dan rekor USS 5.595 / oz. Sejumlah analis memperkirakan emas dapat menguji USS 5.500–5.600, meski penguatan dollar dapat membatasi kenaikan.

Katalis Dalam Negeri

Katalis dari dalam negeri Indonesia, pelaku pasar hari ini menunggu rilis data Inflasi Februari dan Trade Balance Januari, di mana diperkirakan surplus akan meningkat ke angka US$ 2,76 miliar dari sebelumnya US$ 2.52 miliar, serta terlihat adanya pertumbuhan impor dan ekspor.

Pos terkait