Perang Iran vs AS-Israel Memanas, Harga BBM Indonesia Naik?

Aa1xpfg1
Aa1xpfg1

Situasi Geopolitik di Timur Tengah dan Dampaknya terhadap Harga Minyak Dunia

Pecahnya konflik antara Iran dan Israel di kawasan Timur Tengah diperkirakan akan memicu kenaikan harga minyak dunia. Hal ini bisa berdampak langsung pada Indonesia, yang merupakan negara pengimpor energi. Kenaikan harga minyak global berpotensi menekan harga bahan bakar minyak (BBM) dalam negeri.

Prasasti Center for Policy Studies menilai bahwa situasi geopolitik di kawasan tersebut menjadi faktor penting yang harus diantisipasi oleh pemerintah. Kenaikan harga energi global tidak bisa dilepaskan dari risiko inflasi dan tekanan terhadap fiskal nasional.

Bacaan Lainnya

Policy and Program Director Prasasti, Piter Abdullah, menyatakan bahwa tekanan terhadap harga BBM domestik hampir tidak terhindarkan ketika harga minyak dunia meningkat. Ia mengatakan bahwa dalam situasi harga minyak naik, tekanan terhadap harga BBM domestik tentu meningkat.

“Dalam situasi harga minyak naik, tekanan terhadap harga BBM domestik tentu meningkat,” ujarnya dalam taklimat resmi, Kamis (3/3/2026).

Menurut dia, yang menjadi pertanyaan bukan sekadar apakah harga BBM akan naik atau tidak sebagai imbas dari konflik di Timur Tengah. Namun, lebih pada seberapa jauh pemerintah bisa menahan kenaikan itu dengan kemampuan fiskal yang terbatas.

Ketergantungan Impor Minyak dan Potensi Tekanan Inflasi

Piter menjelaskan bahwa Indonesia saat ini mengonsumsi hampir 1,5 juta barel minyak per hari. Sementara produksi dalam negeri tidak sampai setengah dari kebutuhan tersebut, tingkat ketergantungan impor masih sangat tinggi. Kondisi ini membuat Indonesia sensitif terhadap fluktuasi harga minyak global dan pergerakan nilai tukar dolar AS.

Kombinasi kenaikan harga energi dan pelemahan rupiah berpotensi memperbesar tekanan harga barang impor serta inflasi domestik. Dari sisi fiskal, setiap kenaikan harga minyak dunia sebesar US$10 per barel berpotensi menambah beban subsidi energi sekitar Rp50 triliun. Angka tersebut menunjukkan konsekuensi besar apabila pemerintah memilih menahan kenaikan harga BBM melalui subsidi.

Jika harga ditahan, beban APBN akan meningkat secara signifikan. Sebaliknya, jika harga dilepas mengikuti mekanisme pasar, tekanan inflasi dapat menguat dan memengaruhi daya beli masyarakat.

“Kenaikan harga energi akan memicu efek rambatan ke biaya produksi dan distribusi, sehingga tekanan inflasi bisa terjadi bertahap,” ujarnya.

Stabilitas Ekonomi Nasional dan Koordinasi Kebijakan

Meski demikian, dari sisi pasar keuangan, Piter menilai volatilitas global tidak otomatis memicu arus keluar modal besar-besaran. Struktur ekonomi Indonesia yang bertumpu pada pasar domestik dinilai memberi bantalan relatif terhadap guncangan eksternal.

Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya koordinasi kebijakan fiskal dan moneter dalam menghadapi situasi ini. “Dampak perang ini besar, mulai dari harga BBM hingga tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Ini yang harus diantisipasi oleh otoritas,” kata Piter.

Pos terkait