Perang Israel-AS, Investor Beralih ke Obligasi Daripada Saham

Persis Solo Makin Terpuruk Di Dasar Klasemen Gagal Menang Di 15 Laga
Persis Solo Makin Terpuruk Di Dasar Klasemen Gagal Menang Di 15 Laga

Fenomena Flight to Quality di Pasar Modal

Di tengah volatilitas saham yang tinggi akibat ketegangan geopolitik antara Israel, Amerika Serikat, dan Iran, investor terlihat melakukan flight to quality, yaitu perpindahan dana dari aset berisiko seperti saham ke instrumen pendapatan tetap seperti obligasi. Hal ini menunjukkan bahwa pasar modal sedang mengalami perubahan strategi investasi.

Salvian Fernando, Kepala Departemen Riset dan Informasi Pasar PT Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI), menjelaskan bahwa dalam situasi geopolitik yang memanas, biasanya terjadi fenomena flight to quality. Investor cenderung mencari aset yang lebih aman untuk melindungi portofolio mereka.

“Pasar obligasi Indonesia yang terkenal cukup resilience dari berbagai sentimen global berpotensi mendapat sebagian aliran tersebut karena yield obligasinya juga terbilang masih cukup menarik terutama jika dibandingkan dengan instrumen investasi lainnya,” ujarnya.

Yield Obligasi yang Masih Menarik

Selain itu, peningkatan tensi geopolitik berpotensi mendorong volatilitas global dan membuat yield obligasi tetap tinggi atau naik sementara, seiring meningkatnya premi risiko yang diminta investor. Namun, struktur kepemilikan obligasi pemerintah Indonesia yang didominasi oleh investor domestik menjadi bantalan penting. Porsi kepemilikan lokal yang besar membuat pengaruh sentimen global terhadap pasar obligasi relatif lebih terbatas.

Tren Penerbitan Obligasi yang Tinggi

Di sisi lain, minat penerbitan obligasi justru menunjukkan tren yang cukup tinggi sejak awal tahun. Sepanjang 2026, PHEI mencatat pemerintah telah menerbitkan sekitar Rp206 triliun obligasi melalui mekanisme lelang. Sementara itu, penerbitan obligasi korporasi baru tercatat mencapai Rp37,5 triliun.

Tingginya permintaan investor terhadap obligasi, ditambah kondisi yield yang dinilai masih relatif menarik, mendorong banyak penerbit memanfaatkan momentum awal tahun untuk masuk ke pasar.

Aliran Dana Asing yang Masih Stabil

Data yang dihimpun dari Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) per 25 Februari 2026 menunjukkan investor asing mencatatkan net sell sebesar Rp3,25 triliun secara year to date. Meski nilainya masih relatif kecil dibandingkan outflow di pasar saham, Salvian juga mencermati minimnya aliran dana masuk sejak awal tahun mencerminkan sikap hati-hati investor global terhadap emerging markets, termasuk Indonesia.

Dia pun menilai kecenderungan net sell ini menjadi sinyal bahwa investor asing masih berada dalam mode risk off.

Perubahan Arah Investasi Asing

Sementara itu, Muhammad Wafi, Head of Research Korea Investment and Sekuritas Indonesia, mencermati pangsa pasar kepemilikan asing di obligasi yang pada akhir 2025 berada di kisaran 13%, mulai naik mendekati 14% pada Januari 2026. Fenomena ini menunjukkan adanya aksi switching dari ekuitas ke fixed income.

Artinya, dana asing tidak sepenuhnya keluar dari Indonesia, melainkan berpindah instrumen investasi. Kondisi ini pula yang dinilai ikut menjaga stabilitas nilai tukar rupiah meskipun terjadi outflow di pasar saham.

“Untuk obligasi kemungkinan akan ada peningkatan permintaan dalam waktu dekat akibat sentimen Iran-AS, sedangkan dari sisi global bond kemungkinan masih akan stabil,” katanya.

Pos terkait