Perang Memburu Api: Pesawat AS Jatuh, Kapal Tanker Tenggelam, 200 Orang Tewas

Aa1xmhsb 2
Aa1xmhsb 2

Perkembangan Konflik di Timur Tengah

Garda Revolusi Iran terus memperluas serangan balasan terhadap aset-aset Amerika Serikat dan Israel di kawasan Teluk, sehari setelah kematian Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei akibat serangan yang dilakukan oleh AS dan Israel. Konflik ini memasuki hari ketiga pada Senin (2/3/2026), dengan serangan-serangan yang terus berlangsung di berbagai wilayah, termasuk ke Israel dan pangkalan militer AS di beberapa negara Teluk.

Dalam perkembangan hingga hari ketiga konflik antara AS-Israel melawan Iran, lebih dari 200 orang tewas dan 747 luka-luka, menurut laporan kantor berita Mehr dan Fars. Sementara itu, Fox News melaporkan bahwa dari ratusan korban tewas tersebut, 48 di antaranya adalah pemimpin Iran. Di Kuwait, beberapa jet tempur yang diduga milik Amerika Serikat jatuh, dengan puing-puingnya jatuh di kilang Mina al-Ahmadi dekat Kuwait City. Rekaman video juga menunjukkan asap tebal di Kota al-Jahra.

Di Bahrain, Iran menargetkan fasilitas maritim dekat Pelabuhan Mina Salman di ibu kota Manama. Puing rudal memicu kebakaran di sebuah kapal asing di kawasan industri Salman. Pemerintah Bahrain mengaktifkan sirene peringatan serangan udara dan meminta warga segera mencari tempat aman.

Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengumumkan bahwa tiga tentaranya tewas dalam operasi melawan Iran, menjadi korban pertama dari pihak AS. Presiden Donald Trump juga berjanji akan membalas kematian tersebut dan menegaskan operasi militer akan terus berlanjut hingga seluruh tujuan tercapai.

Serangan rudal Iran juga terjadi di Irak, Suriah, Lebanon, dan Yordania, yang menewaskan 31 orang dan melukai 149 lainnya. Serangan ini terjadi setelah kelompok Hizbullah turut melancarkan serangan. Pada Senin (2/3/2026) dini hari, sebuah drone Shahed dilaporkan menghantam pangkalan Angkatan Udara Kerajaan Inggris (RAF) di Akrotiri, Siprus, menyebabkan kerusakan terbatas.

Konflik AS-Israel melawan Iran yang memasuki hari ketiga ini menunjukkan eskalasi yang semakin luas, dengan serangan lintas negara dan meningkatnya korban jiwa di berbagai wilayah. Konflik bersenjata antara Iran dan aliansi Israel-Amerika Serikat memicu lonjakan korban jiwa di sejumlah negara Timur Tengah.

Sejak serangan yang dimulai pada Sabtu (28/2/2026), total sedikitnya 220 orang dilaporkan tewas dan lebih dari 900 lainnya luka-luka akibat rangkaian serangan udara, rudal, dan drone.

Korban Jiwa dan Luka-Luka

Berikut rincian korban tewas dan luka per Minggu (1/3/2026) malam:

  • Iran: 201 tewas, 747 luka-luka
  • Israel: 9 tewas, 121 luka-luka
  • Irak: 2 tewas, 5 luka-luka
  • Kuwait: 1 tewas, 32 luka-luka
  • Uni Emirat Arab (UEA): 3 tewas, 58 luka-luka
  • Bahrain: 4 luka-luka
  • Qatar: 16 luka-luka
  • Amerika Serikat: 3 tewas

Menurut kantor berita Mehr, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa konflik ini bukan kehendak Teheran. Dalam wawancara dengan Al Jazeera, ia menyebut perang tersebut dipaksakan oleh Amerika Serikat dan Israel.

“Saya telah menghubungi semua rekan saya di wilayah tersebut dan telah menjelaskan posisi kami. Kita tahu bagaimana posisi mereka; mereka tidak senang, sebagian dari mereka bahkan marah, sebagian lagi mencoba memahaminya,”tegas Araghchi.

“Saya berharap mereka mengerti bahwa apa yang terjadi di wilayah ini bukanlah kesalahan kami, itu bukan pilihan kami. Ini adalah perang yang dipaksakan oleh AS dan Israel, jadi jika mereka marah, mereka seharusnya marah kepada Israel dan Amerika Serikat,”ujar Araghchi menambahkan.

Menurut Araghchi, negara-negara kawasan tidak seharusnya menekan Iran untuk menghentikan konflik. “Mereka seharusnya tidak menekan kita untuk menghentikan perang ini, mereka seharusnya menekan pihak lain,” katanya.

Kapal Tanker Tenggelam dan Jet Tempur Berjatuhan

Sebuah kapal tanker minyak tenggelam setelah ditembak saat mencoba melintasi Selat Hormuz. Peristiwa ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan antara Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel, yang berujung penutupan Selat Hormuz oleh Teheran.

Stasiun tv Pemerintah Iran melaporkan, “Nasib kapal tanker minyak yang dihantam saat mencoba melewati Selat Hormuz secara ilegal adalah, kapal itu sekarang tenggelam.” Rekaman yang disiarkan stasiun televisi itu memperlihatkan asap hitam tebal membubung dari kapal tanker yang terbakar di tengah laut.

Peristiwa ini terjadi saat Iran terlibat aksi saling serang dengan AS dan Israel, setelah kedua negara melancarkan serangan gabungan pada Sabtu (28/2/2026) yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran energi paling vital di dunia. Sekitar seperempat minyak dunia yang diangkut melalui laut dan seperlima dari total perdagangan gas alam cair global melintasi selat tersebut.

Jet Tempur Berjatuhan

Kabar berjatuhannya pesawat AS tersebut dikonfirmasi oleh Komando Pusat AS atau Central Command (Centcom), sebagaimana dilansir Wall Street Journal, Senin (2/3/2026). Meski demikian, Centcom tidak merinci jenis pesawat apa yang ditembak jatuh di Kuwait. “Awak pesawat berhasil melontarkan diri dari pesawat dengan selamat,” kata pejabat Centcom dilansir dari Wall Street Journal.

Selain satu pesawat AS, beberapa pesawat juga ditembak jatuh, sebagaimana dilaporkan media pemerintah Kuwait. “Penyebab indisen tersebut masih dalam penyelidikan,” lapor media pemerintah Kuwait.

Beberapa negara yang menjadi serangan balasan Iran adalah Oman, Uni Emirat Arab (UEA), Bahrain, Kuwait, dan Qatar. Pemerintah Iran pada Sabtu (28/2/2026) mengonfirmasi serangan terhadap beberapa target di Bahrain, Kuwait, Qatar, dan Uni Emirat Arab (UEA), sebagaimana dilaporkan kantor berita Fars.

Negara-negara tersebut diketahui menjadi lokasi pangkalan udara yang menampung aset militer AS. Garda Revolusi Iran (IRGC) mengeklaim seluruh target militer Israel dan AS di Timur Tengah dihantam oleh serangan dahsyat rudal Iran.

“Operasi ini akan terus berlanjut tanpa henti sampai musuh dikalahkan secara telak,” bunyi pernyataan IRGC, dikutip dari Al Jazeera, Senin (2/3/2026). IRGC juga menegaskan, seluruh aset AS di kawasan kini dianggap sebagai target sah bagi militer Iran.

Pos terkait