Perang Timur Tengah, Made Terlindungi di Kamar Mandi Saat Hujan Rudal

Booyah Pass Ff Season 3 Maret 2023 1
Booyah Pass Ff Season 3 Maret 2023 1

Pengalaman Mencekam Seorang Ibu di Doha Saat Konflik Timur Tengah

Doha – Ketegangan yang pecah di kawasan Timur Tengah sejak Sabtu 28 Februari 2026 menyisakan cerita mencekam bagi seorang ibu rumah tangga asal Desa Belayu, Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan, Bali. Warga Negara Indonesia (WNI) tersebut bernama Ni Made Meli Arisandi. Ia mengisahkan pengalamannya bertahan hidup bersama anak bungsunya, Omang, di tengah hujan rudal yang mengguncang wilayah tempat tinginggalnya di Al-Saad, Doha, Qatar.

Made Meli menceritakan, situasi mulai berubah drastis pada hari itu. Awalnya, temannya yang bekerja di Bandara Ngurah Rai Bali menanyakan kabarnya di Doha karena ada penutupan sejumlah bandara di Timur Tengah akibat eskalasi konflik antara Iran dan pihak Israel-AS. “Saat saya sedang bermain bersama Omang, ada teman orang India menanyakan keadaan di Doha karena beberapa bandara tutup,” ungkapnya.

Kabar tersebut kemudian terkonfirmasi setelah ia menghubungi temannya yang bekerja di bandara di Doha. “Teman saya membenarkan bandara di sini tutup,” ujarnya. Setelah itu, ia menghubungi suaminya yang kebetulan bekerja di bagian navigation services di bandara di Doha. Setelah ditanyakan ke kantornya, bandara dipastikan tutup akibat terjadinya perang.

“Setelah mendapat informasi terjadinya perang, langkah pertama saya adalah menyiapkan ‘run bag’ yang isinya barang-barang penting yang bisa kami bawa saat-saat genting,” terangnya. Made Meli mengaku seperti mimpi karena melihat dan mengalami kejadian ini di tahun 2026.

Sebagai penduduk Qatar, Made Meli dan warga lainnya bergantung pada sistem peringatan dini yang dikirimkan langsung ke ponsel melalui aplikasi Metrash. Peringatan darurat tersebut muncul dalam dua bahasa (Arab dan Inggris) dengan bunyi alarm yang menyita perhatian.

“Sebelum serangan kami warga di sini akan mendapat peringatan dari handphone kami seperti alarm. Semua warga punya aplikasi Metrash namanya, di mana semua data kami ada di sana sebagai resident,” bebernya. Isi pesan peringatan tersebut memerintahkan seluruh warga untuk segera mencari perlindungan: “All individuals are required to remain at home or in a safe place and not to go out except in cases of extreme necessity until the danger has passed.” (Seluruh individu diwajibkan untuk tetap di rumah atau di tempat yang aman dan tidak keluar rumah kecuali dalam keadaan yang sangat mendesak hingga bahaya mereda).

“Per hitungan detik dari warning itu, serangan langsung terjadi. Suara dentuman keras dan jendela di bergetar,” ujar Meli. Lokasi tempat tinggalnya di Al-Saad yang berjarak 41 km dari Al-Udeid Air Base yang merupakan markas USA. Sehingga membuat suara rudal Iran yang mengarah ke markas militer AS di Doha terdengar jelas sampai di rumahnya.

Ia mengatakan suara rudalnya terdengar sangat intens dari pagi hingga malam dan pagi di hari selanjutnya. Dalam kondisi genting saat serangan terjadi, Made Meli mengaku tidak berani keluar rumah. “Apalagi kami berdua di sini karena bapaknya pas lagi di Bali dan belum bisa kembali karena bandara di Bali dan Doha tutup. Saya berdua bersama Omang saat serangan hanya diam di kamar mandi, karena dirasa paling aman jika sesuatu terjadi dan serpihan kaca jendela tidak mengenai kami,” ungkapnya.

Selain itu, ia juga memasang dinding memakai kasur di kamar tidurnya untuk menjaga dan melindungi apabila kaca jendela sampai pecah sehingga tidak mengenai mereka berdua. “Tetap berdoa dan tenang dan siaga siap lari dengan run bag kami,” ucapnya.

Hingga Senin 2 Maret 2026, Made Meli melaporkan situasi masih mencekam dengan terdengarnya tujuh kali dentuman rudal tambahan. Meski demikian, ia tetap berusaha tenang dan mengikuti instruksi dari pemerintah Doha. Ia berharap semua kembali seperti sedia kala dan bisa berkumpul seperti biasanya. Made Meli juga mengapresiasi kesigapan pemerintah Qatar. “Kami sangat percaya Raja Qatar akan melindungi negara ini. Seperti apa yang mereka lakukan dari kemarin untuk melindungi rakyatnya, serangan dilakukan di atas laut perbatasan Qatar dan itu luar biasa,” kata dia.

Dampak Konflik di Timur Tengah pada Penerbangan dari Bali

Sementara itu, hingga kemarin penerbangan dari Bali ke Doha, Qatar dan sebaliknya masih dibatalkan dampak memanasnya konflik di Timur Tengah. Penerbangan ini dilayani oleh maskapai Qatar Airways dengan frekuensi terbang sehari dua kali pulang pergi. Protokol Konsuler KBRI di Doha, Qatar saat dikonfirmasi mengenai kondisi WNI dari Bali menyampaikan bahwa seluruh WNI di Qatar dalam kondisi baik.

“Insyaallah seluruh warga Indonesia termasuk dari Bali di Qatar dalam kondisi baik. Mohon doakan semua akan kembali baik,” ucap Protokol Konsuler KBRI di Doha. Ia menambahkan menurut catatan KBRI sekitar 45 orang namun banyak yang tidak lapor kedatangan ke KBRI. Di mana orang Bali yang berada di Qatar rata-rata kerja di industri hospitality.

Disinggung mengenai pembukaan penerbangan dari Qatar ke mancanegara termasuk Indonesia, pihaknya menyampaikan belum ada informasi lebih lanjut. “Pembukaan penerbangan belum ada informasi. Akan disampaikan lebih lanjut oleh pemerintah Qatar. Setiap saat selalu di-review oleh pemerintah setempat,” ujarnya.

Di sisi lain, sebanyak 12 Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Klungkung bekerja di negara UAE (Uni Emirat Arab) dan Kwait. Kedua negara tersebut merupakan wilayah yang juga menjadi sasaran serangan Iran, setelah konfrontasi dengan Israel dan Amerika Serikat (AS). Kepala Bidang Penempatan dan Perluasan Kesempatan Kerja Dinas Ketenagakerjaan Klungkung, Gusti Ayu Made Kusuma Asih mengatakan, 12 PMI tersebut terdiri dari pekerja di UAE sebanyak 4 orang dan di Kuwait sebanyak 8 orang. Warga tersebut di antaranya berasal dari Desa Akah, Desa Nyalian, maupun Desa Tegak.

“Sebagian besar PMI asal Klungkung yang bekerja di negara tersebut sebagai terapis di Spa. Ada juga seorang PMI yang bekerja sebagai barista di Kuwait,” ungkapnya, Senin 2 Maret 2026. Terkait keadaan para PMI tersebut, pihak Dinas Ketenagakerjaan juga masih menunggu informasi dari Kementerian PPMI, Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) maupun dari KBRI yang memiliki kewenangan pelindungan PMI di luar negeri.

Dampak Konflik pada Pariwisata Bali

Bali Terancam Kehilangan 30 Persen Wisatawan. Konflik militer yang memanas antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran terjadi ribuan kilometer dari Bali. Namun, dampaknya mulai terasa nyata di Bali khususnya di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai. Pelaku pariwisata di Bali kini mulai cemas akan kondisi pariwisata di Bali dampak perang di wilayah Timur Tengah tersebut.

Pasalnya perang di wilayah Timur tengah dipastikan akan mempengaruhi pariwisata di Bali khususnya Badung. Kondisi itu tidak dipungkiri Wakil Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali, I Gusti Ngurah Rai Suryawijaya. Menurutnya pariwisata di Bali sangat dipengaruhi dengan adanya perang di Timur Tengah. Hal itu bisa dibuktikan dengan adanya penundaan penerbangan dari Middle East atau negara-negara yang berada di Timur Tengah.

“Sangat berpengaruh perang ini dengan pariwisata kita di Bali. Apalagi penerbangan internasional ada yang tertunda khususnya untuk di Middle East,” ujarnya saat dikonfirmasi, Senin 2 Maret 2026. Kendati demikian, Rai Suryawijaya belum berani memastikan berapa persen perang itu akan mempengaruhi Bali, namun dipastikan dampaknya pasti akan dirasakan. Dia mengakui kunjungan wisatawan pasti akan turun karena keamanan global terganggu.

“Sebenarnya kunjungan wisatawan dari Middle East ke Bali sih tidak begitu banyak. Namun karena keamanan global terganggu yang mengakibatkan semua terdampak. Tidak hanya di Indonesia, negara-negara lain mungkin mengingatkan masyarakatnya untuk antisipasi jika berlibur keluar negeri,” bebernya. Dirinya mengaku saat ini memang buka musim liburan, namun untuk wisatawan Mancanegara biasanya ramai karena adanya Meetings, Incentives, Conferences, and Exhibitions (MICE) yang dilaksanakan di Bali.

Dia mengaku kalau hari normal biasanya kunjungan wisatawan mencapai 60 persen, namun dengan kondisi seperti saat ini ditakutkan akan menurun drastis. “Kalau berbicara masalah domestik, biasanya meningkat saat momen lebaran yang akan datang. Bahkan peningkatan diangka 10-15 persen. Tapi untuk tahun ini kita belum memastikan akan meningkat atau tidak, dengan situasi saat ini,” bebernya. Lebih lanjut pihaknya berharap agar pelaku pariwisata tetap waspada dengan pengaruh global ini, mengingat apapun bisa terjadi karena adanya perang di Timur Tengah.

Sayangnya Rai Suryawijaya yang juga merupakan ketua PHRI Badung itu tidak membeberkan berapa jumlah kunjungan wisatawan saat ini yang datang ke Bali. “Sementara untuk tingkat hunian hotel saat ini di angka 55 persen. Angka ini menurun dari biasanya yang di kisaran 60 persen,” imbuhnya. Untuk diketahui, dampak dari perang tersebut sudah terlihat dengan batalnya sejumlah penerbangan dari Bali ke sejumlah kawasan di Timur Tengah seperti Doha, Qatar, Dubai, dan Abu Dhabi.

Dampak Ekonomi dan Pemulihan Pariwisata

Pengamat Pariwisata dari Universitas Warmadewa, Dr. I Made Suniastha Amerta, S.S., M.Par., CPOD., mengungkapkan, dampak konflik ini langsung menyasar pada konektivitas, dimana penerbangan dibatalkan, rute diputar, dan harga tiket melonjak. “Selama ini, denyut pariwisata Bali dari Eropa dan Timur Tengah sangat bergantung pada hub penerbangan utama seperti Doha, Dubai, dan Abu Dhabi. Ketika ruang udara di kawasan Timur Tengah dibatasi, rantai kedatangan wisatawan internasional otomatis tercekik,” ungkap Suniastha Amerta, Senin 2 Maret 2026.

Ia pun menyoroti potensi penyusutan jumlah wisatawan secara signifikan jika eskalasi ini terus berlanjut. “Sulit untuk memprediksi persentase Bali kehilangan tamu dari wilayah terdampak secara pasti, tapi jika mengacu pada data sebelumnya, wisatawan dari Timur Tengah sekitar 10-20 persen dari total kunjungan wisatawan asing ke Bali,” ungkapnya. “Jika konflik berlanjut, kemungkinan kehilangan tamu dari wilayah terdampak bisa mencapai 10-30 persen. Harapan kita semoga perang AS-Israel versus Iran tidak berlanjut,” imbuhnya.

Ia pun menambahkan, permasalahan yang kemudian muncul bukan sekadar pembatalan sejumlah jadwal penerbangan, melainkan menyasar struktur ekonomi Bali yang hampir sepenuhnya bertumpu pada pariwisata internasional. Ketika konflik meletus, harga minyak dunia melonjak. Hal ini akan memaksa maskapai menaikkan tarif tiket penerbangan. Rantai ini pada akhirnya akan membuat wisatawan berpikir ulang untuk bepergian.

“Jika perang ini berlanjut hingga berbulan-bulan, pasar wisatawan Eropa dipastikan akan menyusut drastis. Dampaknya akan memukul tingkat hunian hotel berbintang, menekan industri MICE, dan secara langsung mencekik UMKM serta pekerja lapangan yang menggantungkan hidupnya pada daya beli wisatawan,” paparnya. Jika volume wisatawan turun, nilai belanja per wisatawan harus naik. Bali tidak bisa terus mengejar angka kunjungan tanpa memperhitungkan daya tahan ekonomi.

Ketiga, sudah saatnya pemerintah pusat dan daerah menyiapkan dana stabilisasi sektor pariwisata. Krisis global bukan kemungkinan, melainkan keniscayaan yang akan berulang dalam bentuk berbeda. “Konflik antara Amerika dan Iran adalah alarm keras. Dunia semakin tidak stabil. Harga energi mudah bergejolak. Jalur udara bisa sewaktu-waktu ditutup. Jika Bali tetap bergantung pada satu mesin ekonomi tanpa bantalan, maka setiap gejolak global akan menjadi ancaman eksistensial,” paparnya. Menurutnya, perang mungkin terjadi jauh dari Bali, tetapi dampaknya kini sudah mulai terasa di Bandara Ngurah Rai. “Dan jika kita tidak berbenah, setiap dentuman di Timur Tengah akan terus menggema di ekonomi Bali,” tandasnya.

Pos terkait