Perjuangan Try Sutrisno, Anak Sulung Pekerja Keras yang Jadi Wapres RI Ke-6

Perjalanan Hidup Try Sutrisno Sebelum Menjadi Wakil Presiden

Try Sutrisno adalah tokoh penting dalam sejarah Indonesia, khususnya di bidang militer dan politik. Namun, perjalanan hidupnya sebelum menjadi wakil presiden tidaklah mudah. Ia lahir dari keluarga yang tidak mampu dan harus menghadapi berbagai tantangan sejak usia muda.

Awal Kehidupan yang Sulit

Try Sutrisno tumbuh dalam situasi sulit masa penjajahan. Di usia yang masih belia, ia sudah harus bertanggung jawab atas keluarganya. Saat itu, usia 10 tahun seharusnya masih bisa bermain seperti anak-anak lainnya. Namun, ia harus menjadi tulang punggung keluarga. Orangtuanya bukan tergolong mampu. Ayahnya pergi berjuang membela NKRI, sementara ibunya menjual perhiasannya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Tanpa pilihan lain, Try Sutrisno mulai mencari cara untuk mendapatkan uang. Ia membeli kendi dan menjual air di stasiun. Dari hasil penjualan ini, ia kemudian mengembangkan usahanya dengan menjadi loper koran hingga penjual rokok keliling. Aktivitas ini dilakukannya di sela-sela waktu sekolah dasarnya.

Masa Keberadaan sebagai “Tobang”

Keluarga Try sempat mengungsi ke Kediri, di mana ia menjadi “tobang” atau pelayan bagi para pejuang. Tugasnya saat itu adalah membersihkan senjata dan melayani kebutuhan para tentara. Pengalaman ini membentuk karakter disiplin dan mental pejuangnya sejak usia dini.

Masuk Militer

Pada tahun 1956, Try Sutrisno memutuskan masuk militer melalui Akademi Teknik Angkatan Darat (Atekad). Motivasi utamanya adalah semangat juang tentara yang ia lihat di masa perang serta keterbatasan biaya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang fakultas.

Karier Militer yang Mengesankan

Selama karier militernya, Try Sutrisno pernah menjabat jabatan-jabatan penting di militer. Ia pernah menjadi Panglima ABRI pada tahun 1988 hingga 1993, KSAD pada 1986 hingga 1988, serta Panglima Kodam V/Jaya hingga Pangdam IV/Sriwijaya.

Kedekatan dengan Soeharto

Awal kariernya bahkan langsung mendampingi Soeharto sebagai ajudan pribadi. Semua bermula saat Try diterima sebagai taruna Akademi Teknik Angkatan Darat (Atekad) pada 1956. Pada 1974, ia dipercaya menjadi ajudan Presiden Soeharto. Penugasan itu menjadi titik penting dalam perjalanan karier militernya.

Dilantik Jadi Wakil Presiden

Setelah pensiun dari TNI, Try Sutrisno dipercaya menjadi Wakil Presiden ke-6 RI pada era Orde Baru. Kala itu ia mendampingi Presiden Soeharto untuk periode 1993–1998. Ia dicalonkan oleh Fraksi ABRI MPR-RI, mendahului pilihan terbuka dari Presiden Soeharto ketika itu.

Jejak Legasi untuk Ketujuh Anaknya

Try Sutrisno memiliki istri bernama Tuti Sutiawati dan dikaruniai tujuh orang anak. Berikut sosok ketujuh anaknya:

  • Drg. Nora Tristyana, M.A.R.S. – Anak pertama yang menjadi dokter gigi dan menikah dengan mantan Menteri Pertahanan RI Jenderal TNI (Purn) Ryamizard Ryacudu.
  • Dr. Taufik Dwi Cahyono, M.Sc. – Anak kedua yang merupakan akademisi dan dosen di Universitas Pertahanan (Unhan) RI.
  • Irjen Pol (Purn) Firman Santyabudi – Anak ke-3 yang aktif di Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri).
  • Nori Chandrawati – Anak keempat yang aktif sebagai Ketua Yayasan Krida Nusantara.
  • Isfan Fajar Satrio – Anak kelima yang menjadi Ketua Umum Persatuan Putra Putri Angkatan Darat (PPPAD).
  • Letjen TNI Kunto Arief Wibowo – Anak keenam yang menjabat sebagai Pangkogabwilhan I.
  • Natalia Indrasari – Anak bungsu yang berprofesi sebagai psikolog keluarga di Amerika Serikat.












Pos terkait