Kehilangan Seorang Tokoh Militer dan Negarawan
Wafatnya Wakil Presiden ke-6 Republik Indonesia, Jenderal (Purn) Try Sutrisno, menjadi duka bagi bangsa Indonesia. Ia meninggal dunia di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto, Jakarta, pada pukul 06.58 WIB, setelah dalam satu tahun terakhir masih aktif menghadiri berbagai agenda kenegaraan dan kegiatan kebangsaan.
Kabar wafatnya Try Sutrisno dikonfirmasi oleh mantan Kepala RSPAD Letjen TNI (Purn) Albertus Budi Sulistya. “Benar,” ujarnya singkat saat dikonfirmasi, Senin pagi. Jenazah rencananya akan dimandikan di rumah duka RSPAD sebelum kemudian disemayamkan di kediamannya di Jalan Purwakarta Nomor 6, Menteng, Jakarta Pusat.
Perjalanan panjang seorang prajurit yang pernah berada di lingkar inti kepemimpinan nasional, baik di bidang militer maupun pemerintahan, kini berakhir. Dalam setahun terakhir sebelum wafat, Try Sutrisno masih beberapa kali tampil di ruang publik dan agenda resmi negara. Kehadirannya tidak sekadar simbolis, tetapi menunjukkan posisinya sebagai tokoh senior yang tetap dihormati lintas generasi pemimpin nasional.
Peran Penting dalam Berbagai Acara
Salah satu momen penting terjadi pada acara halal bihalal Persatuan Purnawirawan TNI Angkatan Darat (PPAD) di Balai Kartini, Jakarta, Mei 2025. Dalam kesempatan itu, Presiden Prabowo Subianto secara khusus menyebut nama Try Sutrisno ketika berbicara mengenai tradisi para purnawirawan TNI yang terjun ke dunia politik. Prabowo menilai langkah tersebut dilandasi semangat pengabdian terhadap bangsa. Ia menekankan bahwa para senior militer mengajarkan nilai perjuangan dan keteguhan dalam menjaga kepentingan rakyat.
Pernyataan itu sekaligus menegaskan posisi Try Sutrisno sebagai figur panutan bagi generasi penerus di lingkungan TNI maupun politik nasional.
Kehadiran Try Sutrisno kembali menarik perhatian publik saat upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila pada 2 Juni 2025 di Gedung Pancasila, Jakarta. Dalam acara tersebut, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka terlihat menyalami Try Sutrisno dengan sikap membungkuk sebagai bentuk penghormatan kepada senior bangsa. Momen itu diunggah Gibran melalui akun media sosialnya dan menjadi sorotan publik, terlebih karena sebelumnya hubungan keduanya sempat diperbincangkan setelah Forum Purnawirawan TNI-Polri mengusulkan kepada Majelis Permusyawaratan Rakyat agar mengevaluasi posisi wakil presiden.
Meski demikian, pertemuan keduanya dalam upacara kenegaraan memperlihatkan gestur saling menghormati di ruang publik.
Penghormatan dari Para Tokoh Nasional
Penghormatan serupa juga terlihat dalam Sidang Tahunan MPR dan Sidang Bersama DPR-DPD pada 15 Agustus 2025 di Kompleks Parlemen, Senayan. Setelah menyampaikan pidato kenegaraan, Presiden Prabowo Subianto menghampiri balkon tempat para mantan presiden dan wakil presiden mengikuti jalannya sidang. Setelah menyalami Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono serta sejumlah tokoh nasional lainnya, Prabowo secara khusus memberikan hormat militer kepada Try Sutrisno.
Gestur tersebut langsung dibalas oleh Try Sutrisno sebelum keduanya berjabat tangan, sebuah momen yang dinilai mencerminkan penghargaan mendalam antar generasi prajurit dan pemimpin negara.
Try Sutrisno juga masih terlihat menghadiri peringatan Hari Ulang Tahun ke-80 Tentara Nasional Indonesia pada 5 Oktober 2025 di kawasan Monumen Nasional (Monas), Jakarta. Dalam upacara tersebut, Presiden Prabowo menyebut langsung nama Try Sutrisno saat memberikan amanat, sejajar dengan para mantan pemimpin nasional lainnya yang hadir. Di tengah deretan tokoh negara, kehadiran Try Sutrisno menjadi simbol kesinambungan sejarah TNI dan perjalanan demokrasi Indonesia.
Keberlanjutan Tradisi Kepemimpinan Nasional
Meski usia tidak lagi muda, ia tetap menunjukkan komitmen menghadiri peristiwa-peristiwa penting kebangsaan. Rangkaian kemunculan publik itu kini dikenang sebagai momen-momen terakhir seorang tokoh yang sepanjang hidupnya dikenal sebagai prajurit disiplin, pemimpin tenang, dan figur yang menjembatani era Orde Baru hingga masa reformasi.
Kepergian Try Sutrisno bukan hanya kehilangan bagi keluarga dan kalangan militer, tetapi juga bagi bangsa Indonesia yang menyaksikan perjalanan panjangnya dalam menjaga stabilitas negara serta membangun tradisi kepemimpinan nasional lintas generasi.





