bali.
DENPASAR – Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus segera mengambil langkah untuk menjalankan program rehabilitasi ekosistem pesisir di sekitar Pelabuhan Benoa setelah ratusan pohon mangrove di kawasan tersebut ditemukan mati kekeringan secara mendadak.
Area Manager Communication, Relations & CSR Jatimbalinus Ahad Rahedi menyampaikan bahwa dalam proses rehabilitasi ini, Pertamina bekerja sama dengan pihak yang berkompeten dalam bidang lingkungan. Langkah ini dilakukan sebagai bagian dari upaya mempercepat penelitian terhadap penyebab dan strategi penyelamatan lingkungan.
“Setelah sebelumnya melakukan pengecekan bersama Polairud dan berkoordinasi dengan DKLH Provinsi Bali, saat ini Pertamina Patra Niaga sedang melanjutkan upaya revegetasi,” ujar Ahad Rahedi, Senin (2/3).
Ratusan pohon mangrove jenis Sonneratia Alba (Prapat), Rhizophora Apiculata (Bakau), dan Avicennia Marina (Api-api) di kawasan Pelindo Benoa ditemukan mati kekeringan. Hasil penelitian dari RS Pertanian Unud menunjukkan adanya 41 senyawa hidrokarbon atau minyak bumi yang sebagian besar ditemukan pada Bahan Bakar Minyak (BBM).
“Dapat kami simpulkan bahwa sampel tanah mangrove positif tercemar oleh limbah minyak bumi, terutama diesel (solar),” kata Koordinator Tim peneliti Dr Dewa Gede Wiryangga Selangga.
Dari hasil sampel tanah di kawasan terdampak di sisi barat gerbang Tol Bali Mandara di Benoa, ditemukan ada 45 senyawa volatil, 41 di antaranya merupakan senyawa hidrokarbon.
Ahad Rahedi menjelaskan bahwa Pertamina akan melakukan pemetaan area terpapar serta uji kualitas air laut dan sedimen (substrat) mangrove. Sampling juga dilaksanakan sebagai bentuk inventarisasi mangrove terdampak. Hal ini dilakukan sebagai bagian dari strategi rehabilitasi lingkungan terdampak.
“Pertamina Patra Niaga mengucapkan terima kasih kepada pihak yang terlibat, mulai dari pemerintah daerah, APH, dan lembaga setempat yang telah turut bekerja sama hingga saat ini dalam proses pengecekan dan rehabilitasi kawasan,” kata Ahad Rahedi.
Mangrove memiliki peran penting dalam ekosistem pesisir karena berfungsi sebagai benteng alami yang melindungi pantai dari erosi, badai, dan gelombang tinggi. Ekosistem mangrove juga menyediakan habitat bagi berbagai spesies hewan dan tumbuhan, serta berperan dalam menyaring polutan dari air dan menyimpan karbon, yang membantu mengurangi dampak perubahan iklim.
Dalam satu dekade terakhir, Pertamina Patra Niaga telah melaksanakan penanaman hingga 7.041 bibit mangrove yang tersebar di sejumlah titik Provinsi Bali.
“Semoga dengan kolaborasi dengan pihak yang berkompeten dalam bidang lingkungan ini, dapat mempercepat pendalaman penyebab dan strategi penyelamatan lingkungan,” tutur Ahad Rahedi.





