Pertemuan Integrasi Ekonomi, BMK dan Islam Gelar Rakor

20221213 Img 20221213 Wa0000 1
20221213 Img 20221213 Wa0000 1

Penetapan Lokasi Project Memphis di Lhokseumawe

Islamic Relief Indonesia bekerja sama dengan Baitul Mal Kota Lhokseumawe dan Bappeda Kota Lhokseumawe mengadakan rapat awal untuk menentukan lokasi Project Memphis di Lhokseumawe. Acara ini berlangsung pada Minggu, 1 Maret 2026, di salah satu kafe yang berada di kawasan Alue Awe, Kota Lhokseumawe.

Rapat ini bertujuan untuk memetakan wilayah prioritas yang akan menjadi titik intervensi program. Dalam pembahasan tersebut, beberapa indikator sosial diperhitungkan, seperti jumlah penduduk miskin ekstrem, angka putus sekolah, kondisi rumah tidak layak huni, prevalensi stunting, serta tingginya tingkat penyalahgunaan narkoba yang bisa menghambat produktivitas masyarakat.

Dalam tahap awal, disepakati tiga titik project utama dan desa pendukung, yaitu Jeulikat, Alue Liem, dan Seuneubok. Ketiga wilayah tersebut berada di Kecamatan Blang Mangat, Kota Lhokseumawe, yang menjadi fokus awal implementasi Program Memphis berbasis ekonomi produktif.

Skema Program dan Kriteria Penerima

Project Memphis dirancang sebagai program pemberdayaan ekonomi produktif dengan dua kriteria penerima manfaat, yaitu individu dan kelompok usaha. Bantuan modal akan diberikan berdasarkan pengalaman, minat, serta bidang usaha yang telah ditekuni atau dipahami oleh calon penerima manfaat.

Selain pemberian modal, program ini juga menekankan aspek edukasi, pelatihan (training), serta fasilitasi berkelanjutan hingga masyarakat benar-benar mandiri secara ekonomi.

Namun demikian, tantangan yang dihadapi tidak ringan. Salah satu isu utama yang muncul dalam rapat adalah komitmen masyarakat, terutama dalam menghadapi pola ketergantungan terhadap bantuan langsung tunai (BLT) maupun pengaruh pinjaman online yang kerap memengaruhi stabilitas ekonomi keluarga.

Komitmen Pengentasan Kemiskinan Terpadu

Area Koordinator Aceh Islamic Relief Indonesia, Yusrizal Puteh, menegaskan bahwa Project Memphis bukan sekadar program bantuan modal. “Program Memphis ini kami rancang sebagai intervensi terintegrasi berbasis data. Kami tidak hanya memberikan modal, tetapi juga membangun kapasitas, mental kewirausahaan, serta pendampingan intensif agar masyarakat benar-benar mandiri. Kolaborasi dengan BMK dan Bappeda menjadi kunci agar program ini tepat sasaran dan berkelanjutan,” ujar Yusrizal.

Sementara itu, Ketua Baitul Mal Kota Lhokseumawe, H Dr Damanhur Abbas, menyampaikan bahwa ini merupakan program unggulan Baitul Mal dan mendukung penuh terhadap sinergi lintas lembaga dalam penguatan ekonomi umat. “Kami menyambut baik kolaborasi ini. Baitul Mal memiliki mandat untuk memberdayakan mustahik agar naik kelas menjadi muzaki. Program seperti Memphis ini sangat strategis karena tidak hanya menyentuh aspek bantuan, tetapi juga pembinaan dan perubahan karakter dan pola pikir masyarakat,” ungkapnya.

Dari sisi perencanaan daerah, Kepala Bidang P2IK Bappeda Kota Lhokseumawe, Desi Julianti, S.St, M.S.M, menekankan pentingnya pendekatan berbasis data dan indikator kemiskinan. “Kami akan memastikan pemetaan desa dilakukan secara objektif dan terukur. Indikator seperti kemiskinan ekstrem, stunting, rumah tidak layak huni, serta angka putus sekolah menjadi dasar utama dalam menentukan prioritas lokasi intervensi,” jelas Desi.

Adapun moderator sekaligus narasumber teknis Islamic Relief selaku Communication Memphis Program, Mawardii, memaparkan mekanisme teknis pelaksanaan program. “Pendekatan kami berbasis partisipatif. Masyarakat dilibatkan sejak tahap identifikasi potensi hingga pelaksanaan usaha. Fokus kami adalah membangun ekosistem ekonomi produktif yang berkelanjutan, bukan sekadar program jangka pendek,” terangnya.

Fokus Awal di Kecamatan Blang Mangat

Pada tahap awal, program difokuskan di Kecamatan Blang Mangat dengan tiga titik project utama: Jeulikat, Alue Liem, dan Seuneubok. Selanjutnya, tim gabungan akan melakukan peninjauan lapangan untuk memastikan kesiapan lokasi, potensi usaha masyarakat, serta komitmen calon penerima manfaat.

Melalui sinergi antara Islamic Relief Indonesia, Baitul Mal Kota Lhokseumawe, dan Bappeda Pemko Lhokseumawe, Project Memphis diharapkan menjadi model kolaborasi pengentasan kemiskinan berbasis ekonomi produktif yang mampu mendorong kemandirian masyarakat secara berkelanjutan di Kota Lhokseumawe.


Pos terkait