Pertina Medan Jalani Latihan Mandiri Saat Ramadan

3be104e4 8ae1 431f 88e4 Cd1a2bf914fe
3be104e4 8ae1 431f 88e4 Cd1a2bf914fe

Program Latihan Mandiri untuk Atlet Tinju Medan Selama Ramadan

Pengurus Kota (Pengkot) Persatuan Tinju Amatir Indonesia (Pertina) Kota Medan mengambil kebijakan khusus dalam menjaga kondisi fisik dan performa atlet selama bulan suci Ramadan. Kebijakan ini diambil sebagai upaya agar para atlet tetap dalam kondisi terbaik meskipun menjalani ibadah puasa.

Ketua Pertina Kota Medan, Adol Frian Rumaijuk menjelaskan bahwa program latihan mandiri tetap berada dalam pengawasan pelatih. Setiap atlet wajib berkoordinasi dengan pelatih terkait materi dan intensitas latihan agar sesuai dengan program pembinaan yang telah ditentukan.

“Untuk saat ini, latihan dilakukan secara mandiri. Namun, jika ada atlet yang ingin berlatih di sasana, mereka tetap harus berkoordinasi dengan pelatih. Atlet yang berlatih mandiri juga harus koordinasi dengan pelatihnya terkait materi latihan,” ujar Adol pada Senin (23/2).

Saat ini, Pertina Medan memiliki total 75 atlet binaan. Dari jumlah tersebut, 10 atlet merupakan binaan KONI Kota Medan dan 10 lainnya binaan Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora). Selebihnya merupakan atlet hasil pembinaan internal yang dipersiapkan untuk berbagai agenda kejuaraan.

“Total atlet pilihan kita dari KONI Kota Medan adalah 10 orang, sedangkan dari Dispora ada 10 orang. Jika dijumlahkan keseluruhannya, kita memiliki 75 atlet binaan,” jelas Adol.

Program pembinaan ini difokuskan untuk menghadapi Pekan Olahraga Provinsi Sumatera Utara (Porprovsu) 2026. Selain itu, dalam waktu dekat para petinju muda Medan juga akan turun pada ajang Kejuaraan Daerah (Kejurda) yang dijadwalkan berlangsung pada April 2026 di Kabupaten Karo.

“Pembinaan kita ini dalam persiapan untuk Porprovsu salah satunya. Namun dalam waktu dekat kita juga akan menghadapi Kejurda di bulan April di Karo,” katanya.

Setelah Idulfitri, Pertina Medan berencana kembali mengintensifkan latihan terpusat. Namun selama Ramadan, fokus utama adalah menjaga kebugaran, stamina, dan berat badan atlet agar tetap ideal sesuai kelas masing-masing.

“Kemungkinan nanti di bulan Maret setelah Lebaran kita kembalikan ke latihan terpusat,” ujarnya.

Meski latihan dilakukan secara mandiri, pengawasan tetap berjalan ketat. Para pelatih diminta aktif memberikan program latihan harian dan memastikan komunikasi dengan atlet tetap terjalin. Bahkan, pengurus rutin memantau perkembangan berat badan atlet setiap hari.

“Meskipun atlet latihan mandiri, kita tetap pantau melalui pelatih mereka. Kita berikan program latihan agar mereka tetap komunikasi. Kita suruh pelatih memberikan program latihan supaya tetap ada kontrol kita kepada atlet dan tiap hari kita menanyakan timbangan mereka untuk selalu dicatat,” tegas Adol.

Adol mengakui, berdasarkan pengalaman tahun-tahun sebelumnya, bulan Ramadan kerap menjadi tantangan tersendiri bagi atlet tinju, terutama dalam menjaga berat badan agar tidak melebihi batas kelas tanding.

“Berkaca dari pengalaman kita tahun-tahun sebelumnya, atlet kita itu kalau di bulan Ramadan sering overweight. Makanya kita minta atlet supaya bisa memperhatikan timbangan dengan pola latihan yang koordinasi dengan pelatih. Sehingga nanti selama bulan Ramadan ini timbangan mereka tetap bisa kita toleransi dan saat kembali latihan sudah siap menjalankan program,” jelasnya.


Pos terkait