Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Sulawesi Selatan Tahun 2026
Bank Indonesia (BI) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Sulawesi Selatan (Sulsel) pada tahun 2026 berada dalam kisaran 5% hingga 5,8%, dengan titik tengah sekitar 5,4%. Angka ini tidak jauh berbeda dari capaian pertumbuhan ekonomi Sulsel pada tahun 2025 yang mencapai 5,43%.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Sulsel, Rizki Ernadi Wimanda, menyampaikan bahwa perekonomian Sulsel masih menghadapi beberapa tantangan selama tahun ini, terutama dari sisi investasi. Pembiayaan investasi di Sulsel pada 2025 masih didominasi oleh investasi dalam negeri atau Domestic Direct Investment (DDI) yang mencapai Rp11,53 triliun. Sementara itu, investasi asing atau Foreign Direct Investment (FDI) hanya mencapai Rp8,02 triliun.
Rendahnya kontribusi FDI bisa menjadi kendala dalam pembangunan ekonomi Sulsel, karena dapat memperlambat penciptaan lapangan kerja produktif dan membuat daerah ini lebih rentan terhadap krisis ketika sentimen global memburuk.
“FDI di Sulsel bisa menjadi tantangan, apalagi di tengah investasi portofolio jangka pendek yang fluktuatif seiring dinamika global,” ujar Rizki di Makassar, Sabtu (21/2/2026).
Efisiensi Investasi dan Indikator ICOR
Lebih lanjut, Rizki menjelaskan bahwa Incremental Capital Output Ratio (ICOR) Sulsel pada 2025 berada pada angka 6,62%. Angka ini menunjukkan bahwa efisiensi investasi di Sulsel masih belum optimal. Meskipun nilai ICOR mengalami penurunan dibandingkan 2024, pemangkasan Transfer ke Daerah (TKD) berpotensi menghambat Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB). Oleh karena itu, pertumbuhan ekonomi Sulsel perlu tetap didukung oleh penguatan permintaan domestik.
“Oleh sebab itu, pemangku kepentingan mesti menopang PMTB dan aktivitas konstruksi dengan memastikan proyek strategis yang telah berjalan tidak tertahan kendala administratif ataupun pembiayaan,” jelasnya.
Kondisi Investasi Nasional dan S-I Gap
Kondisi investasi di Sulsel secara langsung dipengaruhi oleh situasi nasional. Rizki menyebutkan bahwa nilai ICOR Indonesia masih lebih tinggi dibandingkan Malaysia dan Vietnam, yang menunjukkan bahwa investasi di negara ini belum cukup efisien. Belum lagi adanya S-I gap yang masih negatif, menandakan bahwa tabungan domestik belum cukup untuk menopang kebutuhan investasi secara nasional.
Tantangan dan Peluang Masa Depan
Meskipun ada tantangan, Sulsel memiliki potensi besar untuk meningkatkan pertumbuhan ekonominya melalui peningkatan investasi baik dalam maupun luar negeri. Diperlukan kolaborasi antara pemerintah, pelaku bisnis, dan lembaga keuangan untuk memastikan proyek-proyek strategis dapat berjalan lancar tanpa hambatan administratif atau finansial.
Selain itu, penting bagi Sulsel untuk meningkatkan efisiensi penggunaan modal dan memperkuat daya saing melalui inovasi serta pengembangan sumber daya manusia. Dengan langkah-langkah tersebut, Sulsel dapat mengoptimalkan pertumbuhan ekonomi dan menciptakan kesejahteraan yang lebih merata bagi masyarakatnya.





