Kenaikan Harga Komoditas Pokok di Yogyakarta Saat Ramadan 2026
Memasuki awal bulan Ramadan 2026, masyarakat Kota Yogyakarta mulai menghadapi tekanan kenaikan harga sejumlah komoditas pokok. Hal ini tercatat oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Yogyakarta, yang mencatat inflasi year on year (y-on-y) sebesar 5,19 persen pada Februari 2026 dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) mencapai 111,77.
Kenaikan harga cabai rawit menjadi salah satu faktor utama yang menyebabkan inflasi meningkat. Perubahan pola konsumsi masyarakat di tengah bulan suci ini turut berkontribusi terhadap kenaikan harga komoditas pangan, terutama cabai. Kepala BPS Kota Yogyakarta, Joko Prayitno, menjelaskan bahwa inflasi kali ini sangat dipengaruhi oleh tren musiman yang meningkatkan permintaan pasar.
“Februari sudah masuk Ramadan, artinya pola konsumsi berubah. Dari sisi demand meningkat untuk kebutuhan buka puasa dan sebagainya, sehingga mendorong komoditas makanan naik harga,” ujarnya pada Senin (2/3/2026).
Selain itu, data terbaru dari BPS Kota Yogyakarta menunjukkan bahwa kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami kenaikan sebesar 3,10 persen. Sementara emas perhiasan memberikan andil inflasi month to month (m-to-m) sebesar 0,28 persen, dan secara year on year andilnya mencapai 1,58 persen.
“Emas menjadi penyumbang cukup signifikan di bulan Februari. Ini bukan sekadar pola konsumsi lokal, tapi juga dipengaruhi harga emas dunia yang sedang naik akibat peristiwa global,” tambahnya.
Potensi Inflasi saat Lebaran
Menatap bulan Maret, Joko Prayitno memperingatkan warga masyarakat tentang potensi inflasi yang lebih tinggi, mengingat adanya perayaan hari raya Idulfitri di akhir bulan. Berdasarkan tren tahun sebelumnya, di mana Lebaran juga jatuh pada periode berdekatan, inflasi sempat menyentuh angka 1,29 persen di Maret dan 1,52 persen di April.
“Pola tahun lalu kemungkinan besar akan terulang. Namun, inflasi itu kan bicara perubahan harga. Kalau bulan ini harga cabai sudah tinggi dan bulan depan tetap, maka tidak terjadi inflasi secara month to month,” jelasnya.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Inflasi
Beberapa faktor utama yang memengaruhi inflasi di Kota Yogyakarta antara lain:
- Perubahan pola konsumsi: Masyarakat cenderung meningkatkan pengeluaran untuk kebutuhan buka puasa dan persiapan lebaran.
- Tren musiman: Permintaan pasar meningkat karena kondisi alam dan tradisi masyarakat.
- Harga emas dunia: Kenaikan harga emas global turut berdampak pada inflasi domestik.
Tantangan Ekonomi di Tengah Bulan Suci
Meski inflasi tercatat tinggi, masyarakat diharapkan dapat mengelola keuangan dengan baik agar tidak terganggu oleh kenaikan harga. Selain itu, pemerintah dan lembaga terkait perlu memastikan ketersediaan pasokan komoditas pokok agar tidak terjadi kelangkaan atau penyalahgunaan harga.
Dalam konteks ekonomi makro, inflasi yang tinggi bisa memengaruhi daya beli masyarakat dan stabilitas harga. Oleh karena itu, diperlukan langkah-langkah strategis untuk menjaga keseimbangan antara permintaan dan pasokan.
Langkah yang Dapat Dilakukan
Untuk menghadapi inflasi, masyarakat dapat melakukan beberapa langkah berikut:
- Membuat anggaran belanja: Menyusun rencana pengeluaran agar tidak terjadi pemborosan.
- Mencari alternatif produk: Mengganti produk mahal dengan barang substitusi yang lebih murah.
- Meningkatkan literasi finansial: Memahami cara mengelola keuangan secara efektif.
Dengan kesadaran dan persiapan yang matang, masyarakat dapat menghadapi tantangan inflasi dengan lebih baik.





