Perusahaan Fintech PHK 4.000 Karyawan, Digantikan AI

Aa1xont1 1
Aa1xont1 1

Perusahaan Fintech Block Lakukan Pemangkasan Karyawan

JAKARTA — Perusahaan fintech Block, yang merupakan induk dari Square dan Cash App, mengumumkan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap sekitar 4.000 karyawan dari total sekitar 10.000 pegawai. Keputusan ini diambil sebagai bagian dari upaya perusahaan untuk meningkatkan produktivitas melalui pemanfaatan kecerdasan buatan (AI).

Dalam suratnya kepada pemegang saham, CEO Block Jack Dorsey menekankan bahwa AI telah secara signifikan mengubah cara perusahaan dibangun dan dijalankan. Menurutnya, tim yang lebih kecil kini mampu menghasilkan kinerja yang lebih besar dengan bantuan alat berbasis AI yang terus berkembang pesat setiap minggunya.

Efisiensi yang diperoleh melalui penggunaan AI telah terlihat secara internal di Block. Keputusan tersebut tampaknya disambut positif oleh investor. Saham Block dilaporkan melonjak lebih dari 20% dalam perdagangan pra-pasar setelah pengumuman tersebut.

Banyak analis memandang optimistis bahwa efisiensi biaya dan peningkatan ketergantungan pada AI akan mendorong profitabilitas perusahaan ke depan. Block baru saja melaporkan pendapatan kuartal keempat sebesar US$6,25 miliar atau sekitar Rp100 triliun, yang melampaui ekspektasi Wall Street.

Namun, langkah Block juga memicu kekhawatiran tentang dampak AI terhadap lapangan kerja. Goldman Sachs sebelumnya memperkirakan bahwa percepatan adopsi AI dapat meningkatkan angka pengangguran. Estimasi tersebut menyebutkan hilangnya 5.000 hingga 10.000 pekerjaan bersih per bulan sepanjang tahun lalu.

Studi dari Massachusetts Institute of Technology bahkan menyebut bahwa hampir 12% tenaga kerja di Amerika Serikat berpotensi tergantikan oleh AI. Sektor teknologi menjadi salah satu yang paling terdampak. Banyak perusahaan besar melakukan langkah serupa. Salah satunya adalah Salesforce, yang memangkas sekitar 4.000 karyawan tahun lalu dengan alasan efisiensi berkat pemanfaatan AI.

Jack Dorsey menepis anggapan bahwa PHK dilakukan karena kondisi bisnis yang melemah. Ia menegaskan bahwa kinerja ekonomi perusahaan tetap kuat. Menurutnya, manajemen memiliki dua pilihan: melakukan pengurangan karyawan secara bertahap selama bertahun-tahun atau bertindak cepat dan transparan mengenai kondisi perusahaan saat ini.

“Pemotongan anggaran berulang kali merusak moral, fokus, dan kepercayaan yang diberikan pelanggan dan pemegang saham terhadap kemampuan kita untuk memimpin,” kata Dorsey.

Di sisi lain, dinamika internal perusahaan dilaporkan tidak sepenuhnya kondusif. Beberapa laporan menyebutkan bahwa moral karyawan menurun dalam beberapa bulan terakhir, terutama setelah perusahaan semakin mewajibkan penggunaan AI generatif dalam berbagai alur kerja.

Bahkan, dalam laporan tahunan terbarunya, Block mengakui bahwa strategi berbasis AI juga mengandung risiko. Risiko tersebut mencakup potensi kegagalan teknologi hingga ancaman keamanan siber.

Pos terkait