Pesan Terakhir Pemimpin Tertinggi Iran
Setelah kematian Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei dalam serangan yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel, sebuah pesan khusus telah dirilis dari akun media sosial resminya. Pesan tersebut menunjukkan perasaan kehilangan dan harapan bagi umat Muslim.
Dalam unggahan tersebut, terdapat foto yang menggambarkan Ayatollah Ali Khamenei dengan penuh rasa hormat. Pesan itu dimulai dengan nama Allah, Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Selain itu, unggahan tersebut juga merujuk pada ayat 23 Surah Al-Ahzab, yang menyatakan bahwa di antara orang-orang mukmin ada yang telah menunaikan perjanjian mereka kepada Allah, sebagian dari mereka telah menunaikan perjanjian mereka dan sebagian lagi masih menunggu, dan mereka tidak berubah sedikit pun.
Media pemerintah Iran telah mengonfirmasi kematian Ayatollah Ali Khamenei. Sebagai bentuk penghormatan, Iran mengumumkan hari libur selama 7 hari serta masa berkabung selama 40 hari. Menurut laporan media pemerintah, putri, menantu, dan cucu Ayatollah Khamenei juga gugur dalam serangan tersebut.
Respons Iran terhadap Kematian Pemimpin Tertinggi
Setelah mengakui kematian Ayatollah Ali Khamenei, Iran meningkatkan serangan rudal balistiknya terhadap Israel. Meskipun kemungkinan besar Khamenei tewas pada saat-saat awal perang akibat sekitar 30 bom pada pukul 8:00 pagi hari Sabtu, respons yang lebih intens baru datang kemudian.
Pada Minggu pagi, Iran meningkatkan volume dan kecepatan serangan rudal balistiknya terhadap Israel dengan beberapa putaran peringatan sirene udara yang bergema di seluruh negeri secara berturut-turut. Hal ini sebagai tanggapan atas pengakuan kematian Pemimpin Tertingginya, Ayatollah Ali Khamenei.
Meskipun Khamenei kemungkinan tewas pada saat-saat awal perang, Republik Islam Iran baru mengakui kematiannya setelah pukul 03.00 Minggu pagi. Tampaknya membutuhkan beberapa jam lagi untuk mengorganisir respons terkoordinasi sepenuhnya.
Kapasitas Rudal Balistik Iran
Secara total, Teheran memasuki babak konflik terbaru ini dengan sekitar 2.000 rudal balistik. Namun, Amerika Serikat juga telah menembakkan ratusan rudal ke lima negara Arab Sunni lainnya di kawasan itu yang memiliki pangkalan Amerika. Serangan AS dan Amerika tampaknya telah menghancurkan setidaknya 100 rudal balistik, meskipun jumlah tersebut bisa jauh lebih tinggi.
Pada Juni 2025, Iran memiliki 2.500 rudal balistik dan 400 peluncur rudal. Israel berhasil menghancurkan sekitar setengah dari keduanya selama 12 hari dan akhirnya mengurangi volume rudal balistik Republik Islam dari 200 per hari menjadi sekitar 10 per hari.
Perkiraan tentang Pergantian Pemimpin
CIA memperkirakan bahwa jika Ayatollah Ali Khamenei terbunuh, ia akan digantikan oleh elemen-elemen garis keras IRGC (Korps Garda Revolusi Islam). Presiden AS Donald Trump selama beberapa minggu terakhir telah mengisyaratkan bahwa AS tertarik untuk melihat perubahan rezim di Iran. Namun, ia belum memberikan rincian apa pun tentang pemikiran Washington mengenai siapa yang dapat memimpin negara tersebut.
Menjelang serangan AS dan Israel pada hari Sabtu, CIA menilai bahwa bahkan jika Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei tewas dalam operasi tersebut, ia kemungkinan akan digantikan oleh tokoh-tokoh garis keras dari Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), menurut dua sumber yang diberi informasi tentang intelijen tersebut.
Laporan badan intelijen tersebut tidak menyimpulkan skenario apa pun dengan pasti, kata sumber-sumber yang berbicara dengan syarat anonim untuk membahas masalah intelijen.
Pernyataan Trump dan Upaya Diplomasi
Dalam pidato video pagi harinya pada hari Sabtu, Trump menggambarkan Teheran sebagai “rezim teroris” dan mendorong rakyat Iran untuk mengambil alih pemerintahan, dengan mengatakan bahwa serangan militer AS akan membuka jalan bagi pemberontakan.
Serangan AS dan Israel ini terjadi setelah berminggu-minggu pertimbangan di dalam pemerintahan AS tentang apakah akan menyerang Iran menyusul protes mematikan yang meletus di sana pada bulan Desember. Dalam beberapa pekan terakhir, para pejabat AS telah berupaya mencapai kesepakatan nuklir dengan Teheran dalam upaya untuk mencegah intervensi.
Dalam sebuah pengarahan pekan lalu, Menteri Luar Negeri Marco Rubio mengatakan kepada para anggota parlemen terkemuka yang dikenal sebagai Gang of Eight bahwa operasi AS kemungkinan akan dilanjutkan. Akan tetapi Trump dapat berubah pikiran, terutama jika negosiasi nuklir berhasil. Pembicaraan di Jenewa tersebut tidak menghasilkan kesepakatan.
Rubio memberi tahu Gang of Eight pada Jumat malam bahwa operasi untuk menyerang Iran kemungkinan akan dimulai dalam beberapa jam berikutnya. Akan tetapi mengatakan Trump masih bisa berubah pikiran, kata dua sumber yang mengetahui masalah tersebut.
Peran IRGC dalam Skenario Politik Iran
IRGC adalah pasukan militer elit yang bertujuan untuk melindungi kekuasaan ulama Muslim Syiah di Iran. Dalam penilaian intelijen, peran IRGC akan semakin penting dalam situasi politik pasca-kematian Ayatollah Ali Khamenei.
Sejumlah analisis menunjukkan bahwa perebutan kekuasaan di Iran akan sangat rumit, terutama karena adanya ancaman dari luar dan tekanan internal. Pasukan IRGC akan menjadi salah satu faktor utama dalam menentukan arah pemerintahan Iran ke depan.





