Pesan Hendrik Lewerissa dalam Dialog Publik DPW GEMA Mathla’ul Anwar Maluku

Logopit 1712094146798
Logopit 1712094146798

Gubernur Maluku Sosialisasikan Moderasi Beragama dalam Dialog Publik

Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa, hadir dalam dialog publik yang diselenggarakan oleh Dewan Pimpinan Wilayah Generasi Muda (DPW) GEMA Mathla’ul Anwar Maluku, pada Jumat (27/2/2026). Acara ini mengangkat tema “Moderasi Beragama Sebagai Fondasi Harmoni Antar Umat Beragama di Maluku”. Kegiatan tersebut dihadiri oleh berbagai pihak, termasuk perwakilan Pemerintah Provinsi Maluku, akademisi dari berbagai kampus, dan generasi muda.

Dalam kesempatannya, Gubernur Hendrik Lewerissa menekankan bahwa keragaman masyarakat Maluku adalah anugerah sekaligus keharusan yang harus dijaga dengan serius. Ia menyatakan bahwa harmoni antarumat beragama menjadi fondasi utama untuk menjaga stabilitas daerah.

Ia juga menilai pentingnya menjaga kehidupan horizontal antarwarga sebagai dasar dari stabilitas sosial. Gubernur mengapresiasi berbagai kegiatan bertemakan moderasi agama yang digelar selama ini. Ia menekankan bahwa gerakan-gerakan civil society terkait perdamaian harus terus ditingkatkan.

“Menjaga Maluku tetap damai merupakan bagian dari misi Sapta Cita Lawamena, khususnya dalam menjaga dan merawat kohesi sosial,” ujar Hendrik.

Selain itu, Gubernur juga menegaskan bahwa stabilitas keamanan menjadi prasyarat bagi masuknya investasi ke daerah. Konflik komunal, menurutnya, dapat menjadi hambatan serius bagi pertumbuhan ekonomi dan pembangunan. Ia mengajak masyarakat untuk mendukung Polri, TNI, serta stakeholder lainnya dalam menjaga keragaman dan kedamaian di tengah masyarakat.

Peran Generasi Muda dalam Menjaga Harmoni

Ketua DPW Gema Mathla’ul Anwar Maluku, Bansa Hadi Sella, menegaskan bahwa dialog ini bukan sekadar seremoni. Ia menekankan bahwa moderasi beragama bukanlah sekadar slogan, melainkan kebutuhan riil bagi Maluku.

“Kita punya pengalaman pahit pada tahun 1999. Jangan ada lagi ruang bagi narasi perpecahan,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa generasi muda Mathla’ul Anwar ingin memastikan ruang-ruang dialog terus hidup agar kohesi sosial tidak hanya menjadi jargon pemerintah, melainkan praktik sehari-hari warga.

Sementara itu, politisi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Maluku, Rovik Akbar Afifudin, menyoroti peran generasi muda dalam ruang publik. Ia menegaskan bahwa pemuda memiliki tanggung jawab dalam menyampaikan informasi. Peran mereka tidak hanya sebagai konsumen informasi, tetapi juga sebagai penggerak perubahan.

“Apabila ada pihak yang membangun kembali narasi perpecahan, maka pihak tersebut sedang mundur ke belakang, bukan maju ke depan,” ungkap Rovik. Menurutnya, setiap pemuda bertanggung jawab meninggalkan legacy bagi generasi berikutnya. Harmoni dan persatuan harus menjadi warisan utama generasi saat ini.

Langkah Konkret untuk Memperkuat Moderasi Beragama

Dialog ini menjadi salah satu bentuk upaya konkret untuk memperkuat moderasi beragama di Maluku. Dengan melibatkan berbagai elemen masyarakat, acara ini membuka ruang diskusi yang inklusif dan transparan. Harapan besar diarahkan kepada generasi muda sebagai pelaku utama dalam menjaga harmoni antarumat beragama.

Beberapa langkah strategis telah diusulkan, seperti penguatan pendidikan karakter, peningkatan partisipasi masyarakat dalam dialog, serta pemberdayaan organisasi kemasyarakatan. Semua ini bertujuan untuk menciptakan lingkungan yang aman, nyaman, dan saling menghormati.

Dengan kolaborasi yang kuat antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat, Maluku dapat menjadi contoh nyata dalam menjaga keragaman dan harmoni antarumat beragama. Tantangan yang dihadapi bukanlah halangan, tetapi kesempatan untuk membangun masa depan yang lebih baik bersama.

Pos terkait