jatim.
, JAKARTA – House of Tugu Jakarta kembali menghadirkan tradisi Cap Go Meh melalui perjamuan eksklusif yang diberi tajuk Cap Go Meh Gala Feast. Acara ini akan berlangsung dari tanggal 3 hingga 31 Maret 2026 dan disajikan di Babah Koffie by Kawisari, sebuah ruang yang dirancang khusus sebagai bagian dari narasi kuliner Peranakan.
Cap Go Meh, yang dalam dialek Hokkien berarti malam kelima belas, menjadi momen penting untuk merenungkan akulturasi budaya Tionghoa dan Nusantara. Dari perpaduan bahan, rempah, serta teknik memasak lahir hidangan ikonis seperti Lontong Cap Go Meh, sajian yang tidak ditemukan dalam bentuk serupa di tradisi kuliner Tiongkok maupun Jawa klasik.
Ruang yang Merawat Narasi Peranakan
Babah Koffie by Kawisari bukan sekadar restoran bertema Peranakan. Interior yang autentik, koleksi artefak, serta dapur yang mengakar pada tradisi Jawa-Tionghoa menjadi identitas kuat ruang tersebut. Setiap sudut ruangan menyimpan cerita tentang sejarah dan warisan lintas generasi.
Kopi yang disajikan berasal dari Perkebunan Kawisari di Jawa Timur yang telah berdiri sejak tahun 1870 dan masih beroperasi hingga saat ini. Setiap cangkir kopi menghadirkan cerita panjang tentang sejarah dan warisan lintas generasi.
Tiga Hidangan Sarat Makna
Seluruh sajian dirancang bersama Jajaghu dan Babah Koffie dengan pendekatan yang menempatkan simbol budaya setara dengan cita rasa. Berikut adalah tiga hidangan yang menjadi andalan:
-
Imperial Prawn Money Bag
Kantong kulit tahu renyah berisi udang dan water chestnut, disajikan dengan asap tipis mengepul. Bentuknya menyerupai pundi uang, melambangkan doa akan rezeki dan keberuntungan. -
Tugu Lontong Cap Go Meh
Lontong daun bambu disajikan bersama ayam opor resep pusaka Mpok yang diwariskan lintas generasi, lodeh labu siam dan udang, telur hitam, sate ayam, balado kentang tipis, koya kedelai putih, serta peyek kacang. Hidangan ini merepresentasikan pertemuan budaya Tionghoa dan Nusantara yang telah berakulturasi selama berabad-abad. -
Ronde Tiga Warna
Bola ketan merah, putih, dan hijau dalam kuah jahe hangat berisi gula merah dan kacang cincang. Tiga warna yang hidup berdampingan dalam satu mangkuk melambangkan harmoni dalam keberagaman.
Komitmen Merawat Narasi Sejarah Peranakan
Manajemen House of Tugu Jakarta menyebut program ini sebagai bagian dari komitmen merawat narasi sejarah Peranakan melalui pengalaman kuliner kontekstual.
“Cap Go Meh Gala Feast kami hadirkan sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan Peranakan dan sejarah Kota Tua Jakarta. Kami ingin menghidupkan kembali tradisi dalam ruang yang autentik dan relevan dengan masa kini,” ujar perwakilan manajemen.





