JAKARTA – Tensi geopolitik yang meningkat akibat konflik antara Iran, Amerika Serikat (AS), dan Israel dianggap memiliki potensi dampak terhadap kinerja ekspor minyak kelapa sawit nasional. Hal ini disampaikan oleh Ketua Umum Persatuan Organisasi Petani Sawit Indonesia (POPSI), Mansuetus Darto, yang menilai bahwa meskipun Timur Tengah bukan pasar utama terbesar bagi crude palm oil (CPO) nasional dibandingkan dengan India, Tiongkok, dan Uni Eropa, ketegangan tersebut dapat memengaruhi sejumlah aspek industri sawit dalam negeri.
Darto menjelaskan bahwa harga minyak mentah dunia yang terdampak oleh konflik bisa berdampak pada harga minyak nabati, termasuk CPO. “Kenaikan harga minyak mentah global akan berimbas pada harga komoditas minyak nabati,” ujarnya.
Selain itu, ia mengungkapkan bahwa ketegangan geopolitik juga dapat meningkatkan biaya logistik dan premi asuransi pengiriman akibat risiko tinggi di jalur perdagangan internasional. Secara global, situasi ini juga berpotensi memicu volatilitas nilai tukar mata uang.
Yang lebih signifikan, menurut Darto, adalah dampaknya terhadap impor solar yang digunakan dalam program biodiesel B40. Jika harga impor solar meningkat akibat konflik, maka kewajiban campuran B40 bisa saja dikurangi. “Ini bisa menjadi langkah mitigasi untuk mengurangi beban industri,” katanya.
Darto menilai bahwa perang lebih berpotensi menjadi sentimen jangka pendek yang memengaruhi volatilitas harga, alih-alih mengganggu volume ekspor secara signifikan. “Industri sawit kita relatif resilien karena pasar ekspor yang terdiversifikasi,” tambahnya.
Untuk mengurangi risiko, Darto menyarankan agar industri sawit terus mengoptimalkan diversifikasi pasar ekspor ke Asia Selatan, Afrika, dan pasar domestik melalui program biodiesel. Ia menilai pentingnya penguatan hilirisasi produk sawit agar ekspor tidak hanya berbentuk CPO mentah, tetapi juga produk turunan bernilai tambah.
Selain itu, efisiensi biaya produksi juga menjadi faktor krusial dalam menjaga daya saing industri sawit ketika harga global tertekan. “Dengan efisiensi biaya, industri sawit dapat tetap bertahan dan berkembang meski menghadapi tantangan dari luar,” pungkas Darto.





