Pihak Trump kaget di Yordania, Tiongkok dukung Iran lawan serangan AS-Israel

132101519 Capture 54
132101519 Capture 54

Update Kekacauan di Timur Tengah

Pihak berwenang Amerika Serikat (AS) untuk sementara memindahkan seluruh personelnya dari kompleks kedutaan besar mereka di Amman, Yordania. Keputusan ini dilakukan sebagai tindakan pencegahan menghadapi ancaman keamanan yang tidak disebutkan secara spesifik.

Dalam pernyataan yang diposting di X, kedutaan menyatakan bahwa seluruh personel sedang meninggalkan kompleks kedutaan karena adanya ancaman. Namun, tidak ada penjelasan lebih lanjut mengenai sifat ancaman tersebut atau kapan personel akan kembali. Pemberitahuan tambahan yang dikeluarkan melalui Program Pendaftaran Pelancong Cerdas (Smart Traveler Enrollment Program, atau STEP) Departemen Luar Negeri AS menjelaskan bahwa langkah ini diambil sebagai tindakan pencegahan akibat “kehati-hatian ekstrem” dalam melindungi staf diplomatik tanpa memberikan detail tambahan tentang situasi keamanan.

Tidak ada informasi segera apakah layanan konsuler akan terganggu, dan tidak ada pengidentifikasian ancaman spesifik terhadap warga Amerika di Yordania selain peringatan keamanan dari kedutaan. Pihak berwenang Yordania belum memberikan komentar publik, dan tidak ada laporan langsung tentang kerusuhan atau insiden keamanan di Amman.

Evakuasi sementara ini terjadi di tengah pengetatan tindakan pencegahan keamanan AS yang lebih luas untuk personel diplomatik di seluruh Timur Tengah, di mana ketegangan regional telah memicu serangkaian peringatan perjalanan dan pesan keamanan bagi warga Amerika.

Tindakan Pencegahan yang Lebih Luas

Pada 23 Februari, AS memerintahkan para diplomat yang tidak penting dan keluarga mereka di Kedutaan Besar AS di Beirut untuk meninggalkan Lebanon, dengan seorang pejabat Departemen Luar Negeri menggambarkan langkah tersebut sebagai “bijaksana” berdasarkan penilaian berkelanjutan terhadap lingkungan keamanan regional. Dua hari sebelum evakuasi Amman, pada hari Sabtu, Kedutaan Besar AS di Yordania mengumumkan kebijakan berlindung di tempat bagi personel kedutaan dan merekomendasikan agar warga Amerika lainnya melakukan hal yang sama hingga pemberitahuan lebih lanjut, dengan alasan kekhawatiran keamanan tanpa menjelaskan insiden spesifik.

Serangan udara dan rudal terkoordinasi oleh AS dan Israel terhadap Iran pada hari Sabtu menewaskan para pemimpin senior Iran dan memicu serangan balasan rudal dan pesawat tak berawak oleh Iran dan milisi sekutunya di seluruh Timur Tengah, memperluas apa yang Washington dan Teheran sebut sebagai keadaan perang.

Yordania adalah mitra dekat AS yang bekerja sama dengan Washington dalam hal keamanan regional dan menjadi tuan rumah bagi diplomat AS, personel militer, dan pekerja bantuan, bersama dengan komunitas besar warga negara Amerika yang tinggal dan bekerja di kerajaan tersebut.

Peringatan perjalanan Departemen Luar Negeri saat ini untuk Yordania adalah Level 2, yang menyarankan warga Amerika untuk lebih berhati-hati dan tetap waspada terhadap kondisi yang berkembang, termasuk menghindari demonstrasi dan memantau media lokal. STEP, yang dikelola oleh Biro Urusan Konsuler Departemen Luar Negeri, memungkinkan warga negara AS di luar negeri untuk menerima peringatan dan membantu kedutaan besar AS menghubungi pendaftar dan kontak darurat mereka selama krisis.

China Mendukung Iran dalam Perang

Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, mengatakan kepada Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, Beijing mendukung Teheran dalam membela diri terhadap serangan Amerika Serikat (AS)-Israel, seiring dengan meluasnya perang di Timur Tengah. Hal ini disampaikan Menlu China dalam sebuah panggilan telepon dengan Abbas Araghchi pada Senin (2/3/2026).

Ratusan orang tewas di Iran sejak Sabtu (28/2/2026) ketika Amerika Serikat dan Israel mulai menyerang puluhan target di negara tersebut. Teheran merespons dengan meluncurkan gelombang rudal dan drone ke Israel, negara-negara Teluk, dan pangkalan Inggris di Siprus. Wang mengatakan kepada Abbas Araghchi, Beijing “menghargai persahabatan tradisional antara China dan Iran, mendukung Iran dalam mempertahankan kedaulatan, keamanan, integritas wilayah, dan martabat nasionalnya, serta mendukung Iran dalam melindungi hak dan kepentingan sahnya,” demikian dilaporkan oleh stasiun televisi pemerintah, CCTV, Senin.

Menurut CCTV, China telah “mendesak AS dan Israel untuk segera menghentikan operasi militer, menghindari peningkatan ketegangan lebih lanjut, dan mencegah konflik menyebar ke seluruh wilayah Timur Tengah,” kata Wang. Dalam percakapan telepon terpisah dengan menteri luar negeri Oman, juga pada hari Senin, Wang menuduh Amerika Serikat dan Israel “melanggar tujuan dan prinsip piagam PBB” dengan “sengaja memicu perang melawan Iran.”

“China juga bersedia memainkan peran konstruktif, termasuk menegakkan keadilan, mengupayakan perdamaian, dan menghentikan perang melalui platform Dewan Keamanan PBB,” kata Wang kepada Menteri Luar Negeri Oman Badr Albusaidi, seperti dilaporkan CCTV. Sementara, dalam percakapan lain dengan Jean-Noel Barrot dari Prancis, Wang memperingatkan dunia berisiko “kembali ke hukum rimba.”

Serangan Balasan Iran

Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya Angkatan Bersenjata Iran merilis peringatan keras bahwa sirine peringatan misil di wilayah pendudukan Israel tidak akan berhenti. Juru bicara militer Iran, Kolonel Ebrahim Zolfaghari, menyatakan bahwa fase kesepuluh dari operasi ini telah menghantam markas besar rezim di Tel Aviv, Haifa, dan Yerusalem Timur menggunakan misil Kheybar. Tak hanya menyasar Israel, Iran mengklaim telah menyerang aset militer Amerika Serikat di kawasan tersebut.

Iran mengklaim rudalnya menghantam kapal induk USS Abraham Lincoln hingga dipaksa menjauh ke Samudra Hindia. Serangan Iran dilaporkan melumpuhkan Pangkalan Ali al-Salem di Kuwait dan merusak pangkalan angkatan laut AS di Pelabuhan Salman, Bahrain. Teheran mengklaim setidaknya 560 tentara Amerika tewas dan terluka dalam serangan balasan ini. Klaim tersebut berbeda dengan laporan Pusat Komando AS, CENTCOM, yang menyebut empat prajurit tewas.

Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran (SNSC), Ali Larijani, mengatakan Iran siap untuk mempertahankan konflik jangka panjang. “Tidak seperti Amerika Serikat, Iran telah mempersiapkan diri untuk perang yang panjang,” kata Larijani dikutip PressTV. Ia menegaskan Iran tidak memulai perang ini, namun angkatan bersenjata Iran sejauh ini hanya bertindak untuk membela diri. “Iran dengan gigih membela diri, tanpa mempedulikan biaya apa pun dan berjanji bahwa musuh akan menyesali kesalahan perhitungan mereka,” serunya.

Persiapan Militer AS dan Israel

Sementara itu, Presiden Donald Trump, dikutip CBS News, menyatakan militer AS siap bertempur dalam jangka waktu yang jauh lebih lama dan tidak menutup kemungkinan pengiriman pasukan darat jika diperlukan. Tujuan utama Trump, yakni menghancurkan kapabilitas misil Iran, memusnahkan angkatan lautnya, mencegah kepemilikan senjata nuklir, dan memutus aliran dukungan kepada kelompok proksi.

Sementara AS menggempur dari udara dan laut, Israel melalui IDF memberikan sinyal kuat akan melakukan invasi darat. Juru Bicara IDF, Brigjen Effie Defrin, menyatakan bahwa semua opsi terbuka, termasuk serangan darat ke Lebanon untuk melumpuhkan Hizbullah. “Kepala Staf telah bertemu dengan komandan divisi di perbatasan utara dan menyetujui rencana operasional,” ujar Defrin dikutip Times of Israel. IDF kini terus memperkuat pasukan di perbatasan utara seiring meningkatnya intensitas serangan dari proksi Iran.

Pos terkait