Suasana Ramai di Depan Masjid Babussalam Saat Hari ke-11 Ramadan
Di tengah suasana kota yang biasanya tenang, masjid menjadi pusat perhatian pada hari ke-11 Ramadan. Di depan Masjid Babussalam, Kopang, Lombok Tengah, terjadi fenomena unik yang dikenal dengan sebutan “war takjil”. Fenomena ini tidak hanya sekadar tentang membeli makanan, tetapi juga menjadi momen penting untuk interaksi sosial dan kebersamaan antar warga.
Pada sore hari Senin (2/3/2026), suasana di depan masjid tampak sangat ramai. Warga berbondong-bondong mencari takjil sebagai persiapan berbuka puasa. Mereka datang dari berbagai penjuru, baik yang ingin membeli makanan maupun sekadar menikmati keramaian.
Berdasarkan pantauan, jalanan di depan masjid terlihat hampir penuh oleh barisan motor yang berlalu lalang. Aspal nyaris tidak terlihat karena tertutup kendaraan yang berjejer. Aroma makanan seperti gorengan, sate ayam, ayam taliwang, dan sirup cocopandan mengisi udara, menciptakan sensasi yang menyenangkan bagi para pengunjung.
Setiap sudut trotoar berubah fungsi menjadi etalase dagangan. Para pedagang dadakan bersaing dalam menawarkan barang mereka. Meski panas dan lelah, pembeli tetap sabar menunggu giliran. Mata mereka tertuju pada gorengan yang baru saja diangkat dari minyak panas. Kecepatan menjadi kunci dalam melakukan transaksi di tengah kerumunan.
Seorang pengendara motor, Habib Rizky, warga Kopang, memberikan pesanan tanpa turun dari kendaraannya. “Satu bungkus es kelapa muda,” katanya. Penjual langsung merespons dengan cepat, mengupas kelapa dan melayani pesanan di tengah kepungan pembeli lainnya.
Meskipun situasi sesak, kegembiraan terlihat di wajah warga. Fenomena ini bukan hanya tentang membeli makanan, tetapi juga menjadi ritual kecil dalam merayakan setelah seharian menahan lapar dan dahaga. Interaksi sosial yang hangat tercipta, mulai dari tetangga yang saling bertegur sapa hingga orang asing yang berbagi tips mengenai gorengan paling renyah.
Panji, warga Desa Semparu yang juga berburu takjil, menyatakan bahwa suasana tahun ini jauh lebih ramai dibanding Ramadan sebelumnya. “Saya rasa dibanding tahun lalu, hari ini jauh lebih ramai ketimbang yang dulu,” ujarnya. Panji menambahkan bahwa berburu takjil di momen Ramadan telah menjadi rutinitasnya setiap tahun menjelang berbuka puasa.
Fenomena tahunan ini membuktikan bahwa “war takjil” telah menjadi tradisi populer di Indonesia. Bukan hanya sekadar kebiasaan, tetapi juga momen sosial yang dinanti-nanti setiap bulan suci Ramadan.
Berbagai Jenis Takjil yang Dijual
- Gorengan berbagai jenis, seperti bakwan, pisang goreng, dan donat
- Sate ayam yang dibakar dengan bumbu khas lokal
- Ayam taliwang yang terkenal dengan cita rasa pedas dan gurih
- Minuman segar seperti sirup cocopandan dan es kelapa muda
Kegiatan Sosial di Tengah Keramaian
- Interaksi antar warga yang semakin hangat
- Pembelian takjil yang dilakukan secara cepat dan efisien
- Pergaulan antar tetangga dan orang asing yang saling berbagi pengalaman
- Kebersamaan dalam menantikan waktu berbuka puasa
Peran Masjid dalam Tradisi Ini
- Masjid menjadi pusat perhatian selama Ramadan
- Tempat ibadah yang juga menjadi tempat berkumpul warga
- Menjadi simbol kebersamaan dan keharmonisan antar komunitas





