Industri Manufaktur Indonesia Tumbuh Kembali, PMI Mencapai Level Terbaik Dalam Dua Tahun
Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia mengalami peningkatan signifikan pada bulan Februari 2026. Berdasarkan data yang dirilis oleh S&P Global, angka PMI naik menjadi 53,8 dari 52,6 pada Januari 2026. Angka ini menandai posisi tertinggi dalam hampir dua tahun terakhir dan menunjukkan bahwa sektor manufaktur sedang berada dalam fase ekspansi yang lebih stabil.
Menurut Abdul Sobur, Ketua Umum Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI), kenaikan PMI tersebut menjadi tanda positif bagi industri manufaktur setelah menghadapi tantangan global selama periode 2024–2025. Ia menyebut bahwa indeks ini mencerminkan pertumbuhan yang sehat dan menunjukkan adanya perbaikan dalam aktivitas produksi di berbagai sektor.
Sobur menjelaskan beberapa faktor utama yang mendorong kenaikan PMI manufaktur Indonesia:
-
Peningkatan permintaan domestik
Momentum menjelang Ramadan dan Idulfitri memberikan dorongan musiman terhadap permintaan produk-produk seperti makanan dan minuman, tekstil, furnitur rumah tangga, serta produk konsumsi berbasis gaya hidup. Namun, ia menekankan bahwa kenaikan ini tidak hanya disebabkan oleh faktor musiman. Indikator pesanan baru dan output produksi juga menunjukkan pertumbuhan yang merata. -
Pemulihan aktivitas ekspor
Banyak eksportir mulai meningkatkan produksi seiring dengan membaiknya ekspektasi pasar global. Permintaan dari kawasan Timur Tengah, Asia Selatan, serta negara-negara emerging market menjadi alternatif pasar yang penting di tengah ketidakpastian perdagangan global. -
Penyesuaian internal industri
Dalam dua tahun terakhir, banyak pelaku industri melakukan efisiensi, diversifikasi pasar, serta pembenahan manajemen rantai pasok. Hasilnya terlihat dari peningkatan utilisasi kapasitas produksi.
Meski ada optimisme, Sobur menyatakan bahwa pengusaha tetap bersikap “cautiously optimistic”. Beberapa tantangan yang masih menjadi perhatian antara lain:
- Ketidakpastian kebijakan perdagangan global
- Dinamika tarif di pasar utama seperti Amerika Serikat
- Biaya logistik dan pembiayaan yang relatif tinggi
- Kebutuhan percepatan deregulasi industri dalam negeri
Potensi Sebagai Motor Pertumbuhan Ekonomi
Ke depan, sektor manufaktur berpotensi menjadi salah satu motor utama pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026, asalkan momentum ekspansi ini diikuti oleh konsistensi kebijakan pemerintah. Pelaku industri berharap pemerintah dapat menjaga daya saing ekspor, memperluas akses pembiayaan, serta mempercepat kemudahan berusaha di sektor produksi.
“Jika faktor-faktor tersebut terjaga, kami melihat sektor manufaktur berpotensi menjadi salah satu motor utama pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026,” ujar Sobur.





