Penyebab Kekerasan yang Membuat Seseorang Mengambil Tindakan Ekstrem
Peristiwa kekerasan yang menimpa Faradilla Ayu Pramesti (23), seorang mahasiswi UIN Suska Riau, menjadi perhatian besar di masyarakat. Kejadian ini terjadi pada Kamis (26/2/2026) pagi di area kampus saat korban sedang bersiap mengikuti seminar proposal (sempro) tugas akhir KKN. Tanpa peringatan, Raihan Mufazzar (21), tersangka yang merupakan rekan satu jurusannya di Ilmu Hukum, datang membawa kapak dan parang serta menyerang korban secara membabi buta.
Akibat serangan tersebut, Fara mengalami luka serius di kepala, lengan, dan punggung. Dalam proses penyelidikan, polisi menemukan bahwa pelaku memiliki latar belakang psikologis yang kompleks. Tim Psikologi Biro SDM Polda Riau melakukan pendampingan terhadap Raihan pada Senin (2/3/2026) untuk menelusuri kondisi kejiwaannya.
Latar Belakang Pelaku
AKBP Dr. Winarko, yang memimpin tim psikologi, menjelaskan bahwa Raihan adalah sosok introvert yang kurang mendapatkan kasih sayang dari keluarga. Dari penelusuran sementara, diketahui bahwa pelaku tumbuh dalam lingkungan yang tidak memberikan kehangatan yang cukup. Hal ini membuatnya menjadi posesif berlebihan ketika merasa dijauhi oleh orang lain.
Meski memiliki latar belakang tersebut, Raihan menunjukkan penyesalan saat menjalani proses pemeriksaan di tahanan. Ia sempat mengelak dan mengaku tidak berniat menghabisi nyawa Fara. Namun, setelah ditekan, ia akhirnya mengakui bahwa target utamanya adalah untuk menghabisi nyawa korban.
Proses Pemeriksaan dan Pendampingan Psikologis
Kabid Humas Polda Riau, Kombes Pol Zahwani Pandra Arsyad, menyebutkan bahwa pemeriksaan ini dilakukan bukan hanya untuk kepentingan hukum, tetapi juga untuk menjaga stabilitas mental semua pihak yang terlibat. “Pendampingan ini bertujuan memastikan proses berjalan secara menyeluruh, baik dari sisi hukum maupun pemulihan psikologis,” ujar Pandra.
Sementara proses hukum berjalan, Polda Riau juga fokus pada pemulihan Faradilla yang masih dirawat di RSUD Arifin Achmad. Tim psikologi menerapkan metode Post Traumatic Stress Disorder (PTSD) untuk membantu korban mengatasi rasa cemas dan bayangan ketakutan akibat kekerasan yang dialaminya.
Dinamika Hubungan Sepihak
Penyelidikan polisi mengungkap bahwa Raihan dan Fara sebenarnya sempat memiliki kedekatan, namun hubungan tersebut mulai merenggang sejak November 2025. Perubahan sikap Fara membuat Raihan menarik diri dari lingkungan hingga memutuskan berhenti aktif kuliah pada periode tersebut.
Raihan diduga memiliki persepsi bahwa kedekatan mereka di masa lalu berarti ia sudah memiliki Fara sepenuhnya. Sementara itu, Fara yang dikenal ceria dan mudah bergaul tetap menganggap hubungan mereka hanya sebatas teman biasa.
“Kami tanyakan hubungan seperti apa, tersangka menyatakan dia merasa lebih dari sekadar teman, namun korban sendiri tidak merasakan hal yang sama,” kata Kasatreskrim Polresta Pekanbaru, AKP Anggi Rian Diansyah.
Pentingnya Komunikasi Keluarga
Pandra mengingatkan pentingnya komunikasi di dalam keluarga agar tekanan pribadi seorang anak tidak berujung pada tindakan kriminal. “Pengawasan, komunikasi, dan kehangatan keluarga merupakan faktor penting agar persoalan pribadi tidak berkembang menjadi tindakan yang merugikan,” pungkasnya.





