Kematian Ayatollah Ali Khamenei dan Korban Lainnya dalam Serangan Udara
Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dikabarkan meninggal dunia dalam serangan udara yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel. Peristiwa ini terjadi pada hari Sabtu (28/2/2026) dan menjadi peristiwa yang mengejutkan dunia. Dalam serangan tersebut, kompleks kediaman Khamenei menjadi sasaran utama, sehingga mengakibatkan kematian sang pemimpin.
Selain Khamenei, beberapa anggota keluarganya juga dinyatakan meninggal dalam serangan tersebut. Berdasarkan laporan dari berbagai media, termasuk Press TV, Tasnim, dan Fars, korban tidak hanya terbatas pada sang ayah, tetapi juga mencakup putrinya, cucu perempuan, menantu perempuan, dan menantu lelaki. Meskipun jumlah pasti korban masih dalam proses penyelidikan, informasi yang tersedia menunjukkan bahwa banyak anggota keluarga Khamenei menjadi korban dalam insiden ini.
Salah satu korban yang menjadi sorotan adalah cucu perempuan Khamenei bernama Zahra Mohammadi Golpayegani. Zahra masih berusia 14 bulan atau sekitar 1 tahun lebih dua bulan saat ia meninggal. Potret Zahra semasa hidupnya mulai tersebar di media sosial setelah kabar kematianannya. Dalam foto-foto yang beredar, Zahra terlihat cantik dengan rambut pirang dan mengenakan baju warna merah muda pastel. Penyebaran potret ini memicu simpati dari berbagai kalangan, karena bayi malang ini menjadi korban tak bersalah dari konflik yang sedang berlangsung.
Pernyataan Donald Trump Setelah Khamenei Meninggal
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memberikan pernyataan resmi melalui akun Truth Socialnya setelah kematian Khamenei. Dalam unggahannya, Trump menyebut Khamenei sebagai “orang paling jahat dalam sejarah”. Ia menulis:
“Khamenei, salah satu orang paling jahat dalam sejarah, telah mati. Ini bukan hanya keadilan bagi rakyat Iran, tetapi juga bagi semua warga Amerika yang hebat, dan orang-orang dari banyak negara di seluruh dunia, yang telah dibunuh atau dimutilasi oleh Khamenei dan geng preman haus darahnya. Tidak ada satu pun yang bisa dia, atau para pemimpin lain yang terbunuh bersamanya, lakukan.”
Trump juga menekankan bahwa ini merupakan “kesempatan terbesar” bagi rakyat Iran untuk “merebut kembali” negara mereka. Ia menyatakan bahwa pengeboman besar-besaran dan tepat sasaran akan terus dilakukan “tanpa gangguan” sepanjang minggu. Tujuan dari aksi tersebut, menurutnya, adalah untuk mencapai “PERDAMAIAN DI SELURUH TIMUR TENGAH DAN, BAHKAN, DI SELURUH DUNIA”.

Profil Ayatollah Ali Khamenei
Ali Khamenei memiliki nama lengkap Ali Hosseini Khamenei dan lahir pada 19 April 1939. Sebagai seorang ulama sekaligus tokoh politik berpengaruh di Iran, ia menjadi pemimpin tertinggi negara tersebut sejak tahun 1989. Masa kepemimpinannya yang panjang membuatnya menjadi kepala negara dengan masa jabatan terlama di kawasan Timur Tengah.
Selain itu, Khamenei juga tercatat sebagai pemimpin Iran dengan masa jabatan terlama kedua pada abad ke-20 dan ke-21, setelah Mohammad Reza Pahlavi.

Kehidupan Pribadi Ayatollah Ali Khamenei
Ali Khamenei lahir dari pasangan Javad dan Khadijeh Mirdamadi. Ayahnya, Javad, adalah seorang Alim dan Mujtahid. Sementara itu, ibunya, Khadijeh, berasal dari etnis Persia dari Yazd. Leluhur Khamenei adalah Sayyid Hossein Tafreshi, keturunan Sayyid Aftasi yang diperkirakan sampai ke Sultan ul-Ulama Ahmad, yang dikenal sebagai Sultan Sayyid, cucu dari Imam Syiah keempat, Ali al-Sajjad.
Ayatollah Ali Khamenei adalah anak kedua dari delapan bersaudara. Kehidupan pribadinya dan keluarganya selalu menjadi perhatian publik, terutama setelah kematian sang ayah dan beberapa anggota keluarga lainnya dalam serangan udara yang terjadi.





