Prabowo Berangkat ke Iran sebagai Juru Damai, Hikmahanto: Waktu Belum Tepat, Tak Akan Diterima

Aa1xhwip 2
Aa1xhwip 2

Presiden Prabowo Subianto dan Peran Indonesia dalam Konflik Iran-AS

Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, atau lebih dikenal sebagai Prabowo Subianto, dikabarkan siap menjadi mediator dalam konflik antara Iran dan Amerika Serikat (AS). Namun, sejumlah ahli menilai bahwa langkah ini perlu dipertimbangkan secara matang karena situasi geopolitik saat ini masih sangat dinamis.

Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia (UI), Hikmahanto Juwana, menyampaikan pandangan kritis terkait rencana Prabowo untuk berperan sebagai penengah. Ia menilai bahwa momentum saat ini belum tepat karena eskalasi konflik baru saja terjadi, sehingga peluang diterimanya upaya mediasi oleh pihak-pihak yang bersengketa masih kecil.

Mengapa Momentum Belum Tepat?

Menurut Hikmahanto, waktu menjadi faktor penting dalam diplomasi konflik bersenjata. Ia menjelaskan bahwa upaya mediasi akan lebih efektif ketika konflik telah berlangsung cukup lama. Pada fase tersebut, kebutuhan akan perantara biasanya muncul secara psikologis dari pihak-pihak yang bertikai.

“Sebaiknya tunggu bila perang ternyata akan selesai untuk jangka waktu yang lama, karena saat itu juru damai dibutuhkan untuk menyelamatkan muka negara-negara yang berkonflik,” ujar Hikmahanto.

Ia juga menambahkan bahwa dalam konflik yang berkepanjangan, negara yang terlibat umumnya enggan mengakui kekalahan secara terbuka. Mereka tidak mau dikatakan kalah dan karenanya menerima proposal damai.

Karena itu, ia memperkirakan langkah mediasi akan sulit diterima jika dilakukan saat eskalasi baru saja terjadi. “Kalau sekarang terlalu dini dan tidak akan diterima oleh para pihak yang berkonflik,” tuturnya.

Kesiapan Indonesia sebagai Penengah

Pernyataan kesiapan Indonesia sebagai penengah disampaikan melalui akun resmi X milik Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, @Kemlu_RI. Dalam pernyataannya, pemerintah menyampaikan kesiapan untuk memfasilitasi dialog bagi terciptanya kembali kondisi keamanan yang kondusif. Jika disetujui kedua belah pihak, Presiden Indonesia bersedia untuk bertolak ke Teheran untuk melakukan mediasi.

Namun, situasi saat ini tetap memicu kekhawatiran. Ketegangan meningkat setelah Israel melancarkan serangan udara ke sejumlah wilayah di Iran pada Sabtu (28/2/2026) waktu setempat. Dua ledakan dilaporkan terdengar di kawasan Teheran, ibu kota Iran, menandai babak baru dalam eskalasi konflik di kawasan tersebut.

Kematian Khamenei dan Reaksi Dunia

Dalam rangkaian serangan udara besar-besaran, Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara terbuka menyatakan bahwa pengeboman terhadap Iran akan terus dilakukan tanpa batas waktu, selama dianggap perlu untuk mencapai apa yang ia sebut sebagai perdamaian dunia.

Trump secara resmi mengumumkan bahwa Ayatollah Ali Khamenei tewas dalam serangan tersebut, mengakhiri 36 tahun kekuasaannya sebagai pemimpin tertinggi Iran sejak 1989. Pernyataan itu disampaikan setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu lebih dahulu mengungkapkan klaim serupa.

Menurut laporan Axios, jasad Khamenei ditemukan di kompleks kediamannya yang hancur akibat serangan Israel. Pukulan telak ini memberikan dampak besar terhadap struktur negara Iran, yang kini harus memilih pemimpin tertinggi baru.

Serangan Berlanjut dan Balasan Iran

Serangan AS dan Israel terhadap Iran terus berlangsung dengan skala yang masif. Operasi militer gabungan Amerika Serikat dan Israel yang diberi nama Operation Epic Fury dilaporkan dimulai pada pukul 01.15 dini hari waktu setempat. Serangan udara tersebut menyasar berbagai target strategis, mulai dari pusat komando militer hingga fasilitas peluncuran rudal dan drone.

Bulan Sabit Merah Iran melaporkan lebih dari 200 orang tewas dan hampir 750 lainnya mengalami luka-luka akibat serangan tersebut. ISW menilai respons Iran terhadap serangan AS dan Israel berlangsung dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Iran telah merespons serangan AS dan Israel dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Sedikitnya 35 rudal dilaporkan telah diluncurkan ke wilayah Israel. Selain itu, Iran juga mengirim rudal dan drone ke berbagai pangkalan AS di kawasan Teluk Persia, termasuk Bahrain, Uni Emirat Arab, Qatar, dan Kuwait.

Diplomasi Buntu dan Dunia Menunggu

Serangan ini terjadi setelah perundingan antara diplomat AS dan Iran mengenai program nuklir mengalami kebuntuan. Trump bersama anggota parlemen dari kedua partai tetap menentang pengembangan senjata nuklir oleh Iran, tudingan yang selama ini dibantah oleh Teheran.

Dengan situasi yang terus memburuk dan arah konflik yang belum jelas, dunia kini menanti: apakah eskalasi ini akan berujung pada perdamaian seperti yang diklaim Washington, atau justru membuka bab paling berbahaya dalam sejarah konflik global modern.

Pos terkait