Kematian Serda Ade Ardiyan Rahmadana Memicu Kecurigaan Keluarga
Kabar duka menyelimuti keluarga Serda Ade Ardiyan Rahmadana, seorang prajurit TNI Angkatan Laut yang bertugas di KRI Kujang-642. Ia dilaporkan meninggal dunia pada Jumat (27/2/2026) malam setelah mengikuti rangkaian kegiatan fisik selama masa orientasi. Kematian ini memicu kecurigaan besar dari pihak keluarga yang menduga adanya aksi penganiayaan oleh senior.
Serda Ade tewas diduga dianiaya saat masa orientasi. Hal ini terungkap setelah pihak keluarga menemukan sejumlah kejanggalan pada jasad almarhum. Paman korban, Ujang Duarman, menyebutkan adanya luka lebam yang tidak wajar di sekujur tubuh keponakannya tersebut saat jenazah tiba di rumah duka.
“Terdapat banyak luka lebam kebiru-biruan di badan dan wajah korban. Kami menilai ini penyiksaan di luar batas kemanusiaan. Kami meminta keadilan, tegakkan hukum seadil-adilnya dan usut tuntas,” tegas Ujang, Sabtu (28/2/2026).
Selain tanda kekerasan, keluarga menyayangkan lambatnya informasi resmi dari pihak kesatuan. Ujang mengaku pihak keluarga justru lebih dulu mengetahui kabar duka tersebut melalui media sosial sebelum akhirnya dihubungi pihak TNI AL beberapa jam kemudian.
Berdasarkan keterangan dari kesatuan yang diterima keluarga, Serda Ade dinyatakan meninggal dunia dengan diagnosa Death On Arrival (DOA) saat tiba di Balai Kesehatan Fasharkan Mentigi pukul 21.02 WIB. Hasil pemeriksaan medis menunjukkan korban sudah tidak bernapas, nadi tidak teraba, dan pupil mata telah melebar maksimal saat pertama kali diperiksa.
Visum Menemukan Trauma Benda Tumpul
Sementara, data visum et repertum mengungkap fakta mengerikan. Ditemukan lebam hitam akibat trauma benda tumpul di sebagian besar punggung dan pinggang, serta memar luas di area bokong. Selain itu, terdapat luka lecet di dagu, siku, dan lutut, serta keluarnya cairan dari hidung korban.
Jenazah Serda Ade Ardiyan telah diterbangkan dari Kepulauan Riau (Kepri) menuju Bandara Internasional Minang Kabau (BIM). Almarhum dimakamkan secara kedinasan di pemakaman keluarga di Sicincin, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat, Sabtu (28/2/2026).
Pihak keluarga mendesak pimpinan tertinggi TNI AL untuk mengungkap kasus ini secara transparan dan memberikan sanksi tegas kepada para pelaku serta pihak-pihak yang bertanggung jawab atas hilangnya nyawa Serda Ade Ardiyan Rahmadana. Mereka berharap proses hukum dapat berjalan dengan adil dan tidak ada yang terlewat dalam penyelidikan.
Tanggapan dari Pihak TNI AL
Hingga saat ini, pihak TNI AL belum memberikan pernyataan resmi mengenai kematian Serda Ade. Namun, keluarga berharap institusi tersebut segera membuka hasil investigasi secara terbuka agar kebenaran bisa terungkap. Mereka juga menuntut agar semua pihak yang terlibat dalam insiden ini ditindak sesuai aturan yang berlaku.
Kasus ini menjadi sorotan publik, terutama karena dugaan adanya praktik kekerasan yang dilakukan oleh senior di lingkungan militer. Isu ini sering kali muncul dalam berbagai kasus serupa, namun jarang mendapatkan penanganan yang transparan dan cepat.
Tuntutan Keadilan dari Keluarga
Kelompok keluarga menegaskan bahwa mereka tidak hanya ingin keadilan bagi almarhum, tetapi juga ingin agar langkah-langkah pencegahan dilakukan agar kejadian serupa tidak terulang. Mereka berharap TNI AL dapat menjadikan kasus ini sebagai momentum untuk melakukan evaluasi terhadap sistem orientasi dan pengawasan di lingkungan militer.
Dengan harapan besar, keluarga berdoa semoga almarhum diterima di sisi Tuhan dan mendapatkan tempat yang layak. Sementara itu, mereka akan terus menantikan respons dari pihak TNI AL dan proses hukum yang adil.





