Prediksi Harga Minyak dari Goldman hingga JPMorgan Pasca Perang Iran vs AS-Israel

Aa1xkkii
Aa1xkkii

Lonjakan Harga Minyak Akibat Ketegangan Geopolitik di Timur Tengah

Harga minyak mentah acuan global Brent mengalami lonjakan signifikan, naik hingga 13% ke level di atas 82 dollar AS per barel pada pembukaan perdagangan hari ini, Senin (2/3/3036). Lonjakan ini terjadi seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah yang dipicu oleh serangan Israel-Amerika Serikat terhadap Iran pada akhir pekan lalu. Kondisi ini memicu kekhawatiran akan gangguan pasokan energi global, khususnya di Selat Hormuz yang dikuasai oleh Iran.

Peningkatan harga minyak terjadi setelah lalu lintas kapal tanker melalui Selat Hormuz praktis terhenti sepanjang akhir pekan. Sekitar 20% minyak dan gas alam cair (LNG) dunia biasanya melintasi selat tersebut setiap hari. Meskipun Iran menyatakan jalur pelayaran tetap terbuka, mereka juga mengklaim bertanggung jawab atas serangan terhadap tiga kapal tanker minyak pada Minggu. Mayoritas pemilik kapal kemudian menghentikan pelayaran melalui jalur sempit itu setelah AS menetapkan zona peringatan maritim.

Peringatan dari Lembaga Keuangan Global

Beberapa lembaga keuangan global memberikan peringatan mengenai risiko volatilitas harga minyak yang berkepanjangan. Citigroup meningkatkan proyeksi jangka pendek harga minyak Brent menjadi US$85 per barel, naik sebesar US$15 dollar. Dalam perdagangan pekan ini, harga minyak Brent diperkirakan berkisar antara US$80–US$90 per barel. Citigroup menilai risiko terhadap infrastruktur energi dan aliran pasokan melalui Selat Hormuz masih tinggi.

Citigroup juga memperkirakan adanya peluang sebesar 20% untuk skenario ekstrem, di mana harga minyak bisa melonjak hingga US$120 per barel jika infrastruktur energi regional terdampak langsung. Pandangan serupa disampaikan oleh Rystad Energy. Kepala analisis geopolitik Rystad Energy, Jorge Leon, menyebut gangguan berkepanjangan di Selat Hormuz selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan berpotensi mendorong harga minyak mencapai US$100 per barel. Ia menilai tambahan produksi dari OPEC+ kemungkinan tidak efektif karena sebagian besar volume tersebut juga harus melewati selat yang sama.

Dampak pada Pasar Produk Olahan Minyak

Sementara itu, Goldman Sachs Group menghitung premi risiko real-time minyak mentah sekitar 18 dollar AS per barel, mencerminkan skenario penghentian total lalu lintas tanker selama enam minggu di Selat Hormuz. Goldman Sachs menilai pasar telah memperhitungkan gangguan pasokan global sekitar 2,3 juta barel per hari selama satu tahun.

Gangguan tersebut dinilai berpotensi berdampak besar terhadap pasar produk olahan minyak. Sekitar 9% pasokan gasoil dunia dan 18% bahan bakar jet diketahui melewati Selat Hormuz pada tahun lalu.

Prognosis Pemulihan Arus Energi

Dari sisi industri, Wood Mackenzie memperkirakan pemulihan penuh arus energi di Selat Hormuz bisa memakan waktu beberapa minggu, dengan asumsi Iran memilih bekerja sama dengan AS. Wakil Presiden Senior Wood Mackenzie Alan Gelder menyebut harga minyak berpeluang menembus 100 dollar AS per barel apabila jalur tersebut tidak segera pulih, meskipun OPEC+ berencana meningkatkan produksi.

Adapun JPMorgan Chase & Co. menilai gangguan di Selat Hormuz saat ini lebih bersifat pencegahan, dipicu oleh peringatan perusahaan asuransi yang membatalkan polis dan menaikkan premi. Namun, JPMorgan mengingatkan risiko dapat meningkat apabila konflik berkepanjangan dan kepemimpinan Iran kehilangan kendali atas Korps Garda Revolusi Islam.

“Jika konflik berlangsung lebih dari tiga minggu, produsen minyak di kawasan Teluk berisiko kehabisan kapasitas penyimpanan dan terpaksa menghentikan produksi,” tulis analis JPMorgan dalam catatannya.

Pos terkait