Presiden Prabowo Pimpin Upacara Pemakaman Try Sutrisno di TMP Kalibata

745x489 Img 35938 Presiden Prabowo Subianto Kiri Memimpin Upacara Ziarah Nasional Dan Renungan Suci Dalam Rangka Har 2
745x489 Img 35938 Presiden Prabowo Subianto Kiri Memimpin Upacara Ziarah Nasional Dan Renungan Suci Dalam Rangka Har 2

Upacara Militer Pemakaman Wakil Presiden ke-6 RI Try Sutrisno

Upacara pemakaman Wakil Presiden ke-6 Republik Indonesia, Try Sutrisno, digelar secara militer di Taman Makam Pahlawan Nasional Utama (TMP) Kalibata, Jakarta. Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, bertindak sebagai inspektur upacara (irup) dalam acara tersebut. Upacara dimulai dengan pembacaan riwayat hidup almarhum, termasuk pengabdian di militer dan berbagai penghargaan yang diperoleh sepanjang karier.

Penghargaan yang diterima oleh Try Sutrisno tidak hanya berasal dari dalam negeri, tetapi juga dari luar negeri. Dalam pidatonya, Presiden Prabowo menyampaikan rasa belasungkawa atas kepergian almarhum. Ia menegaskan bahwa nama almarhum akan selalu diingat sebagai tokoh penting dalam sejarah bangsa.

Di dekat makam, Presiden Prabowo menyaksikan prosesi penimbunan liang lahat bersama Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dan beberapa perwira tinggi TNI. Hadir pula Panglima TNI, Menteri Pertahanan, serta sejumlah menteri Kabinet Merah Putih.

Selain keluarga, sejumlah tokoh nasional juga hadir dalam pemakaman ini. Mereka antara lain Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono, Wakil Presiden ke-11 Boediono, dan sejumlah menteri. Setelah upacara selesai, Presiden Prabowo menyerahkan bendera Merah Putih dan naskah apel persada kepada keluarga almarhum.

Try Sutrisno menjabat sebagai Wakil Presiden pada masa pemerintahan Presiden Soeharto. Almarhum meninggal pada usia 90 tahun. Kepergiannya menambah daftar tokoh bangsa yang berpulang pada 2026, sekaligus menjadi momen refleksi atas kontribusi para pemimpin nasional bagi Indonesia.

Perjalanan Karier Militer dan Politik Try Sutrisno

Try Sutrisno lahir di Surabaya pada 15 November 1935. Karier militernya dimulai saat ia diterima sebagai taruna Akademi Teknik Angkatan Darat (Atekad) pada 1956. Pada 1957, ia terlibat dalam operasi menghadapi Pemberontakan PRRI di Sumatra. Operasi itu menjadi pengalaman tempur pertamanya, bahkan sebelum resmi lulus pada 1959.

Pada 1962, ia ikut dalam Operasi Pembebasan Irian Barat. Dalam penugasan tersebut, ia berinteraksi dengan Mayor Jenderal Soeharto yang saat itu menjabat Panglima Komando Mandala. Hubungan profesional mereka berlanjut dalam perjalanan karier berikutnya.

Sepanjang karier awalnya, ia mendapat berbagai penugasan di Sumatera, Jakarta, dan Jawa Timur. Pada 1972, ia menempuh pendidikan di Seskoad, memperluas wawasan strategisnya di bidang militer.

Perjalanan kariernya terbilang konsisten. Tahun 1974, ia dipercaya menjadi ajudan Presiden Soeharto. Posisi itu menjadi batu loncatan penting dalam karier militernya. Ia kemudian menduduki sejumlah jabatan strategis, mulai dari panglima Kodam IV/Sriwijaya hingga Kodam V/Jaya.

Pada 1985, pangkatnya naik menjadi Letnan Jenderal dan menjabat Wakil Kepala Staf Angkatan Darat. Setahun berselang, ia resmi menjadi KSAD. Pada April 1987, ia menyandang pangkat Jenderal.

Awal 1988 menjadi puncak karier militernya ketika diangkat sebagai Panglima ABRI menggantikan L.B. Moerdani. Ia memimpin ABRI selama lima tahun, 1988–1993.

Pada Sidang Umum MPR 1993, ia dicalonkan oleh Fraksi ABRI dan terpilih menjadi Wakil Presiden ke-6 RI untuk periode 1993–1998, mendampingi Presiden Soeharto.

Kepribadian dan Kepedulian Terhadap Negara

Dalam keterangan resmi Sekretariat Presiden, di Jakarta, Senin, almarhum adalah sosok prajurit sekaligus negarawan yang sepanjang hidupnya mendedikasikan diri bagi Indonesia. Selain itu, Try Sutrisno dikenal sebagai figur pemimpin yang teguh memegang prinsip kedisiplinan, kesederhanaan, serta loyalitas tinggi terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Ahmad Muzani mengatakan mantan Wakil Presiden Try Sutrisno hingga akhir hayatnya tetap memperjuangkan agar amendemen UUD 1945 yang kelima terjadi. Permintaan itu merupakan bukti bahwa Try Sutrisno di usia senjanya selalu ingin memberikan yang terbaik untuk bangsa dan negara.

“Beliau pernah berbicara kepada kami pada saat Lebaran tahun yang lalu, beliau ingin sebelum meninggal ada amendemen Undang-Undang Dasar 45 yang kelima dan beliau ingin itu dilakukan sebelum beliau wafat,” kata Ahmad Muzani, kemarin.

Melalui amendemen UUD 1945 kelima, kata Muzani, Try Sutrisno meyakini Indonesia akan menjadi negara yang lebih kuat dan kompak. “Beliau ingin agar amendemen itu dilakukan untuk menjaga persatuan, untuk menjaga kebersamaan dan menjamin kelangsungan Indonesia ke depan yang lebih baik,” kata Muzani.

Presiden Ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengenang sosok Wakil Presiden ke-6 Try Sutrisno sebagai seorang patriot dan negarawan. “Beliau (seorang) prajurit dan patriot. Beliau contoh teladan dengan keluarga Beliau, dan di atas segalanya, Beliau negarawan,” kata SBY mengenang sosok Try Sutrisno saat ditemui selepas upacara di TMP Kalibata.

Dari luar negeri, Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim menyampaikan ucapan dukacita atas wafatnya Wakil Presiden ke-6 Republik Indonesia Try Sutrisno. Pernyataan belasungkawa itu disampaikan Anwar melalui media sosial Telegram, yang dipantau di Kuala Lumpur, Malaysia, Senin.

“Berdukacita yang amat mendalam atas kepergian Wakil Presiden ke-6 Republik Indonesia Try Sutrisno pada hari ini (kemarin, red),” kata Anwar seperti dilansir Kantor Berita Antara.

Atas nama Malaysia, Anwar Ibrahim menyampaikan simpati dan belasungkawa tulus kepada keluarga besar yang ditinggalkan serta seluruh rakyat Indonesia.


Pos terkait