Presiden Prabowo Usulkan Jadi Perantara Konflik AS-Israel dengan Iran – “Sangat Tidak Realistis”

Kesiapan Presiden Prabowo Subianto untuk Memediasi Konflik AS-Israel dan Iran

Kementerian Luar Negeri Indonesia menyatakan kesiapan Presiden Prabowo Subianto untuk bertolak ke Teheran guna “memfasilitasi dialog” dalam upaya menciptakan kondisi keamanan yang lebih baik. Namun, gagasan ini mendapat banyak pertanyaan dari berbagai kalangan, termasuk mantan diplomat Indonesia Dino Patti Djalal, yang menilai ide tersebut “sangat tidak realistis”.

Pernyataan ini dikeluarkan pada saat AS dan Israel memutuskan serangan terhadap Iran pada Sabtu (28/01). Beberapa analis mengatakan bahwa konflik antara AS-Israel dengan Iran akan berlangsung lama. Di tengah ketidakpastian ini, Iran telah menutup Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis bagi perdagangan energi global. Penutupan ini secara tidak langsung berdampak pada ekonomi dunia, termasuk Indonesia sebagai importir minyak.

Di sisi lain, warga Indonesia yang tercatat berada di Iran sebanyak 329 jiwa. KBRI Teheran menyatakan bahwa jaringan WNI di sana “tidak merasakan adanya ancaman langsung”. Namun, KBRI setempat tetap menyerukan kewaspadaan.

Kritik terhadap Gagasan Mediasi Indonesia

Gagasan Presiden Prabowo untuk memediasi konflik AS-Israel dengan Iran dipertanyakan oleh Dino Patti Djalal. Ia mengatakan bahwa ide ini tidak difilter sebelum diumumkan. Menurutnya, tidak mungkin Presiden Prabowo memediasi konflik yang semakin keras karena AS jarang tunduk kepada pihak ketiga.

Ego Amerika sebagai negara superpower terlalu tinggi untuk menerima mediasi dari Indonesia. Selain itu, pemerintah Iran belakangan ini tidak begitu dekat dengan pemerintah Indonesia. Hal lain yang membuat gagasan ini mustahil adalah membujuk pihak AS seperti Trump atau Menlu AS Marco Rubio melakukan kunjungan dengan petinggi Iran. Belum lagi kemungkinan Presiden Prabowo harus bertemu dengan PM Israel Benjamin Netanyahu dalam upaya memediasi.

Kritik dari Para Peneliti

Peneliti dari PARA Syndicate, Virdika Rizky Utama menyebut gagasan ini sebagai “cari panggung internasional”. Ia mengatakan bahwa ini bukan lagi soal strategi diplomasi Indonesia yang konsisten, tapi lebih ke upaya memoles citra di tengah krisis. Ia menyarankan agar Indonesia lebih berani datang ke Amerika dan Israel lalu minta mereka berhenti menyerang Iran.

Selain itu, menurut Virdika saat ini politik bebas aktif Indonesia “sudah mati” setelah bergabung dengan Dewan Perdamaian (Board of Peace) bentukan Trump. Jadi, jika sekarang mau bergaya jadi mediator di Iran, dunia internasional pasti tertawa. Bagaimana mungkin negara yang sudah beraliansi dengan salah satu pihak yang terlibat konflik bisa dipercaya jadi penengah yang jujur.

Pengamatan dari Pengamat Pertahanan

Pengamat pertahanan dari ISEAS-Yusof Ishak Institute, Made Supriatma menilai gagasan presiden jadi juru runding sebagai “gimmick”. Ia menulis pendapatnya dalam unggahan di Facebook pribadinya dan memuat banyak pertanyaan, termasuk: “Indonesia menawarkan diri sebagai mediator. Serius?”

Menurut Made, hingga saat ini Indonesia tidak cukup memiliki pengaruh dari segi kekuatan politik, netralitas, hubungan baik dengan negara-negara berkonflik, pengaruh ekonomi-militer, dan saluran komunikasi yang aktif. Apalagi dalam konteks perang AS-Israel dengan Iran, bukan lagi urusan mendongkel satu-dua pemimpin negara, tapi meruntuhkan rezim.

Dampak Penutupan Selat Hormuz

Sejak serangan AS-Israel dimulai, Iran memutuskan menutup Selat Homuz. Sampai Minggu (01/03), AS-Israel meluncurkan serangan terbaru setelah pimpinan Iran, Ali Khemeni wafat. Menurut Dino Patti Djalal, konflik yang melibatkan tiga negara secara langsung ini akan menjadi “berkepanjangan”. Karena tujuan dari serangan militer ini, kali ini bukan hanya untuk menghentikan kapasitas nuklir Iran, tapi untuk menumbangkan pemerintah di Teheran.

AS-Israel akan mengerahkan segala daya dari militer hingga intelijen untuk menumbangkan Iran. Sebaliknya, Iran tak akan tinggal diam, dan melakukan perlawanan. Selat Homuz adalah jalur perdagangan minyak vital global, yang terletak antara Iran dan Oman. Jalur masuk dan keluarnya memiliki lebar sekitar 50 km, dan sekitar 40 km pada titik tersempitnya. Sekitar seperlima dari minyak mentah di dunia hilir mudik melalui jalur tersempitnya.

Dampak Ekonomi di Indonesia

Banyak negara bergantung distribusi energinya melalui jalur ini. Selain China, ekonomi-ekonomi besar Asia lainnya, termasuk India, Jepang, dan Korea Selatan, juga sangat bergantung pada minyak mentah yang melewati Selat Hormuz. Penelitian lembaga kajian Vortexa mengindikasikan, ekspor minyak mentah dari Arab Saudi mencapai sekitar enam juta barel per hari melalui jalur Selat Hormuz.

EIA memperkirakan pada 2022, sekitar 82% minyak mentah dan kondensat melintasi selat menuju ke negara-negara di Asia, tak terkecuali Indonesia. Banyak kalangan di Indonesia masih memantau situasi ke depan menyusul penutupan Selat Homuz. Dilansir dari Kompas.id, penutupan jalur perdagangan secara tidak langsung dapat memengaruhi harga barang domestik karena banyak barang di Indonesia diimpor, terutama dari China.

Nasib Warga Negara Indonesia di Iran

Husein Ali mengatakan kedua anaknya yang saat ini berada di Kota Qom, Iran dalam kondisi “aman-aman saja” meskipun keluarga tetap merasa “was-was”. Sejak serangan diluncurkan, terjadi pemadaman internet di Iran. Beberapa komunikasi dapat terhubung melalui jaringan Starlink. Dan, Qom menjadi salah satu kota yang menjadi sasaran serangan selain Teheran, Isfahan, Karaj, dan Kermanshah, menurut kantor berita Fars.

KBRI Teheran melaporkan sedikitnya 329 WNI yang telah melapor dan tercatat. KBRI Teheran saat ini fokus memastikan keselamatan WNI. “Konsentrasi KBRI Teheran saat ini adalah terus melakukan komunikasi dua arah dengan seluruh warga negara Indonesia yang ada di Iran, di seluruh kota,” kata Duta Besar Luar Biasa Indonesia untuk Iran dan Turkmenistan, Roy Soemirat dikutip Kompas.com. Ia menambahkan, saat ini komunikasi dari WNI di Iran sangat vital untuk menentukan langkah perlindungan yang tepat.

Pos terkait