Kembang Goyang: Jajanan Tradisional yang Tetap Disukai di Tengah Perkembangan Modern
Kembang goyang adalah salah satu jajanan tradisional yang masih bertahan hingga saat ini. Meski banyaknya aneka camilan modern, kue renyah ini tetap memiliki tempat istimewa di hati masyarakat. Di Dusun Jagalan, Desa Kepatihan, Kecamatan Jombang, Kabupaten Jombang, seorang perajin bernama Ika Trisna Savitri masih setia memproduksi kue tersebut sejak tahun 1996.
Usaha rumahan yang dirintis keluarganya sejak dulu itu bertahan lebih dari dua dekade dan terus berkembang berkat cita rasa yang konsisten. Perempuan yang akrab disapa Vivi ini menjelaskan bahwa nama “kembang goyang” berasal dari bentuknya yang menyerupai bunga serta teknik memasaknya. Adonan cair dicetak menggunakan alat khusus, lalu digoreng sambil digoyang hingga terlepas dari cetakan.
“Meski digoreng, hasilnya tetap ringan dan tidak berminyak. Teksturnya renyah,” ujarnya saat dikonfirmasi pada Senin (2/3/2026). Menurutnya, kue tersebut dulunya identik dengan hajatan seperti pernikahan atau khitanan. Namun kini, kembang goyang juga dinikmati sebagai camilan sehari-hari karena rasanya yang gurih dan tidak terlalu manis.
Permintaan Meningkat Selama Ramadan dan Lebaran
Saat Ramadan, jajanan tradisional yang masih diproduksi di rumah pribadinya itu bukannya sepi peminat. Pesanan selalu ada bahkan setiap harinya. Satu hingga lima bungkus kue kembang goyang ukuran 80 gram selalu terjual. “Ramadan ini banyak yang pesan. Cocok juga untuk camilan kalau setelah tarawih atau memang distok untuk Lebaran,” katanya.
Untuk menjangkau pasar yang lebih luas, Vivi melakukan inovasi pada varian rasa dan warna agar tampil lebih menarik, khususnya bagi kalangan muda. Strategi tersebut turut mendongkrak permintaan, terutama saat Ramadan. Pemasarannya pun tak lagi terbatas di wilayah Jombang. Pesanan datang dari berbagai daerah hingga luar kota, termasuk Jakarta.
Produksi Meningkat Jelang Lebaran
Menjelang Lebaran, jumlah produksi meningkat signifikan. Hal tersebut dikarenakan untuk memenuhi lonjakan permintaan. Dalam satu kali proses produksi, Vivi bisa memproduksi sekitar empat kilogram kue atau setara 20 bungkus ukuran 200 gram dapat dihasilkan. Produk tersebut dipasarkan dengan harga Rp12 ribu per bungkus 200 gram dan Rp7 ribu untuk kemasan 80 gram. Sementara pembelian dalam jumlah besar mendapat potongan harga khusus.
“Kami juga melayani pesanan reseller minimal 50 bungkus dengan harga lebih terjangkau,” kata Vivi. Keunikan bentuk menyerupai bunga serta pilihan warna yang menarik turut menjadi daya tarik tersendiri.
Keberlanjutan dan Inovasi dalam Produksi
Dengan mempertahankan cara produksi tradisional sekaligus melakukan inovasi, kembang goyang buatan warga Jagalan itu terus menjadi pilihan masyarakat sebagai suguhan khas saat hari raya. “Alhamdulillah selalu ada pelanggan, dan tidak pernah mati. Semoga ke depannya jajanan ini bisa terus eksis dan bertahan,” pungkas Vivi.





