Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dilaporkan meninggal dunia dalam serangan gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel. Meski awalnya ada penyangkalan, kini media lokal mengonfirmasi bahwa kematian Khamenei terjadi bersama dengan anggota keluarganya.
Menurut laporan dari kantor berita Tasnim dan Fars, Khamenei dinyatakan gugur sebagai syahid dalam serangan yang dilakukan oleh AS dan rezim Zionis pada pagi hari Sabtu, 28 Februari 2026. Ia tewas di kantornya saat menjalankan tugasnya. Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa “Yang Mulia Ayatollah Agung Imam Sayyid Ali Khamenei, Pemimpin Revolusi Islam, telah gugur dalam serangan gabungan yang dilancarkan oleh AS dan rezim Zionis.”
Dalam citra satelit setelah serangan, kediaman Khamenei tampak hancur total. Menurut laporan dari Serambinews, ia tewas bersama putrinya, menantu laki-lakinya, serta cucunya dalam serangan yang disebut sebagai salah satu yang paling mematikan sejak eskalasi konflik terbaru pecah.
Pengumuman ini datang setelah Presiden AS, Donald Trump, menyatakan bahwa operasi militer besar terhadap Iran telah dimulai menyusul serangan rudal Israel. Trump mengklaim bahwa pemboman yang disebutnya “berat dan tepat” akan terus berlanjut sepanjang pekan ini atau selama diperlukan untuk mencapai tujuan strategis Washington.
Profil Ayatollah Ali Khamenei
Ayatollah Ali Khamenei adalah pemimpin tertinggi Iran. Ia lahir di Kota Mashhad, Provinsi Khorasan, Iran, pada 19 April 1939. Ali Khamenei adalah putra kedua Sayyed Javad Khamenei, seorang ulama Islam etnis Azerbaijan yang memiliki kehidupan sederhana. Menurut laporan Kompas, Ali Khamenei telah mendalami Al Quran sejak usia empat tahun. Ia kemudian melanjutkan pendidikan teologi di pusat-pusat studi bergengsi seperti Najaf dan Qom.
Di Qom inilah ia menjalin hubungan erat dengan Ayatollah Khomeini, pemimpin tertinggi Iran sebelumnya. Sebagai aktivis politik yang menentang monarki Shah Pahlavi, Khamenei berulang kali ditangkap oleh polisi rahasia SAVAK dan sempat diasingkan ke wilayah terpencil. Namun, ia kembali ke Teheran untuk memimpin protes tahun 1978 yang akhirnya menumbangkan dinasti Pahlavi.
Sepak Terjang Ayatollah Ali Khamenei
Ali Khamenei resmi menjadi pemimpin tertinggi Iran pada tahun 1989. Ia menggantikan Ayatollah Ruhollah Khomeini. Menurut Al Jazeera, jika Khomeini adalah motor ideologis Revolusi Islam 1979, maka Khamenei adalah arsitek yang membangun fondasi militer modern Iran.
Pengalamannya memimpin Iran sebagai presiden di tengah perang berdarah melawan Irak pada era 1980-an membentuk sudut pandang politiknya. Rasa isolasi akibat dukungan Barat terhadap Saddam Hussein kala itu memperdalam ketidakpercayaannya terhadap AS dan sekutunya.
Di bawah arahannya, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) bertransformasi dari sekadar pasukan paramiliter menjadi institusi keamanan, politik, dan ekonomi paling berpengaruh di Iran. Khamenei juga seorang pragmatis. Dia percaya bahwa pertempuran melawan Barat harus dilakukan dengan strategi yang berbeda, melawan tetapi juga bernegosiasi, jika itu perlu.
Pada 2015, Iran berjuang di bawah sanksi internasional yang melumpuhkan akibat program nuklirnya. Untuk menjaga stabilitas domestik dan meningkatkan legitimasi, Khamenei menyadari perlunya mengurangi tekanan ekonomi. Oleh karena itu, ia menyetujui negosiasi Presiden Hassan Rouhani dengan Barat yang menghasilkan Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA) tahun 2015.
Kesepakatan penting yang ditandatangani oleh Iran dan kekuatan dunia ini dirancang untuk mengekang program nuklir Teheran sebagai imbalan atas pencabutan sanksi.
Teheran Umumkan 40 Hari Berkabung
Sebelumnya, Iran sempat membantah kabar kematian Ayatollah Ali Khamenei pasca serangan udara gabungan yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel ke Teheran. Bantahan itu dikeluarkan usai Donald Trump, melalui media sosial Truth Social, secara eksplisit mengeklaim bahwa Khamenei telah tewas dalam operasi militer tersebut.
Namun, pada Minggu (1/3/2026), agensi berita lokal akhirnya mengonfirmasi bahwa kabar kematian pemimpin tertinggi Iran itu benar. Usai Ayatollah Ali Khamenei meninggal dunia, pemerintah Iran pun menetapkan 40 hari berkabung nasional. Selain itu, tujuh hari libur nasional juga diumumkan.
Bagi Republik Islam Iran, kematian Khamenei disebut sebagai “hari yang berbeda” dalam sejarah negara tersebut. Ia merupakan figur sentral dalam Revolusi Islam dan memainkan peran kunci sebelum maupun sesudah revolusi. Di dalam negeri, ia dipandang sebagai sosok yang sangat berpengaruh—baik oleh para pendukungnya maupun para pengkritiknya. Kini, media Iran menyebutnya sebagai “martir Revolusi Islam”.
Namun hingga kini, tidak ada rincian resmi mengenai bagaimana persisnya ia tewas dalam serangan tersebut.





