Kembali Viral, Pernyataan Cak Nun tentang Serangan AS-Israel ke Iran
Postingan lawas yang dibagikan oleh Cak Nun kembali menjadi perbincangan publik setelah serangan militer Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran terjadi. Pernyataan yang disampaikannya pada tahun 2012 dianggap sebagai prediksi mengenai konflik tersebut. Sebagai ulama sekaligus budayawan ternama, sosok Emha Ainun Nadjib atau dikenal dengan nama Cak Nun kini kembali mendapat perhatian luas.
Pernyataan Cak Nun dalam forum di Masjid Raya Klaten pada 22 Februari 2012 menyebutkan bahwa suatu hari nanti Iran akan diserang oleh Israel dan Amerika. Ia juga menyoroti posisi Arab Saudi yang dianggap akan membela Israel, serta mempertanyakan sikap Indonesia dalam konflik tersebut. Cak Nun berharap Indonesia mampu bersikap bijak dan tidak mudah terprovokasi.
Profil Cak Nun
Cak Nun dikenal sebagai ulama, budayawan, dan pemikir yang kerap menyuarakan pandangan kritis terhadap isu sosial, budaya, dan kemanusiaan. Ia memiliki nama lengkap Muhammad Ainun Nadjib dan akrab disapa Mbah Nun. Cak Nun merupakan figur multidisipliner yang aktif dalam berbagai bidang seperti seni, sastra, teater, tasawuf, filsafat, musik, pendidikan, hingga isu-isu keislaman.
Lahir pada 27 Mei 1953, Cak Nun adalah anak keempat dari 15 bersaudara. Ia pernah menikah dengan Neneng Suryaningsih pada 1978 dan berpisah pada 1985. Setelah itu, ia menikah dengan Novia Kolopaking pada 1997. Dari pernikahannya, Cak Nun dikaruniai lima orang anak.
Riwayat Pendidikan
Pendidikan dasar Cak Nun ditempuh di Jombang dan diselesaikan pada 1965. Ia kemudian melanjutkan ke SMP Muhammadiyah di Yogyakarta. Setelah itu, Cak Nun sempat menimba ilmu di Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo, meski tidak menyelesaikan pendidikannya di sana. Ia keluar dari Gontor setelah memimpin aksi demonstrasi terhadap kebijakan pimpinan pondok yang menurutnya kurang tepat.
Usai meninggalkan Gontor, Cak Nun kembali ke Yogyakarta dan melanjutkan pendidikan di SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta hingga lulus pada 1971. Setelah lulus SMA, ia sempat tercatat sebagai mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada (UGM), namun pendidikannya hanya berlangsung hingga semester pertama.
Jejak Karier dan Aktivitas
Dalam perjalanan hidupnya, Cak Nun pernah menjalani kehidupan menggelandang selama sekitar lima tahun, dari 1970 hingga 1975. Selama masa ini, ia banyak belajar sastra dari Umbu Landu Paranggi, sosok sufi misterius yang sangat ia kagumi. Karier jurnalistik Cak Nun dimulai pada 1970 sebagai pengasuh rubrik sastra di Harian Masa Kini, Yogyakarta. Ia kemudian melanjutkan kiprahnya sebagai wartawan dan redaktur di media yang sama hingga 1976.
Selain aktif menulis puisi dan kolom di berbagai media, Cak Nun telah menghasilkan sekitar 30 buku esai. Di bidang seni pertunjukan, ia memimpin Teater Dinasti Yogyakarta serta grup musik Kiai Kanjeng, yang hingga kini masih aktif. Beragam karya teater dan sastra lahir dari tangan Cak Nun, seperti Geger Wong Ngoyak Macan, Patung Kekasih, Keajaiban Lik Par, dan Mas Dukun.
Ia juga terlibat dalam berbagai pementasan besar bersama Teater Salahudin, serta aktif mengikuti forum internasional seperti lokakarya teater di Filipina dan International Writing Program di Amerika Serikat. Pada era 1990-an, Cak Nun menggagas forum Kenduri Cinta di Taman Ismail Marzuki, sebuah ruang dialog budaya dan kemanusiaan yang terbuka dan nonpartisan.
Pandangan tentang Pluralisme
Isu pluralisme menjadi salah satu topik yang kerap ia angkat. Menurut Cak Nun, perbedaan bukanlah sesuatu yang harus dipertentangkan. “Tidak bisa disamakan, yang beda biar berbeda. Kita harus menghargai itu semua,” katanya. Pandangan-pandangannya kerap dianggap menyejukkan, terutama di tengah situasi sosial-politik yang memanas.
Menjelang runtuhnya Orde Baru, Cak Nun bahkan sempat dimintai pandangan oleh Presiden Soeharto. Ia disebut turut mendorong Soeharto untuk bersedia mengakhiri masa jabatannya. Kini, Cak Nun masih aktif mengisi berbagai forum seperti Kenduri Cinta, Macapat Syafa’at, dan Padhangmbulan, serta terus menulis melalui berbagai media, termasuk situs pribadinya.
Ramalan Serangan AS–Israel ke Iran
Cak Nun kembali diperbincangkan karena pernyataannya pada 2012 yang dianggap sebagai prediksi atas konflik Iran, Israel, dan Amerika Serikat. Pernyataan itu disampaikan saat ia menjadi pembicara di Masjid Raya Klaten pada 22 Februari 2012. Ia menyampaikan pandangannya terkait posisi Arab Saudi dalam konflik tersebut, serta mempertanyakan sikap Indonesia.
“Suatu hari nanti, Iran akan diserang oleh Israel dan Amerika,” kata Cak Nun. Ia juga menyampaikan harapan agar Indonesia mampu bersikap bijak dan tidak mudah terprovokasi, baik oleh pengaruh luar maupun akibat minimnya pemahaman di dalam negeri.
Di tengah eskalasi konflik, Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, dilaporkan dipindahkan ke lokasi yang lebih aman. Sementara itu, Israel menyebut operasi militer tersebut sebagai langkah pencegahan terhadap ancaman yang mereka nilai berasal dari Iran.





