Profil Try Sutrisno, Wapres RI ke-6 yang Tutup Usia Hari Ini

Img 20230425 Wa0025 2
Img 20230425 Wa0025 2

Kabar Duka: Wakil Presiden ke-6 RI, Try Sutrisno, Meninggal Dunia

Wakil Presiden ke-6 Republik Indonesia, Try Sutrisno, meninggal dunia pada hari Senin (2/3/2026) pagi. Ia menghembuskan napas terakhirnya di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto, Jakarta Pusat, pada pukul 07.00 WIB. Kabar duka ini telah dikonfirmasi oleh Wakil Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Rima Agristina.

“Benar,” kata dia, menjawab pertanyaan mengenai kematian Try Sutrisno.

Jenazah almarhum akan disemayamkan di RSPAD sebelum kemudian dibawa ke rumah duka di Jalan Purwakarta Nomor 6, Menteng, Jakarta Pusat. Proses pemakaman akan dilakukan sesuai dengan tradisi dan kepercayaan yang berlaku.

Try Sutrisno lahir di Surabaya, Jawa Timur, pada tanggal 15 November 1935, saat Indonesia masih dalam masa penjajahan Hindia Belanda. Ia berasal dari keluarga sederhana, dengan ayahnya bekerja sebagai sopir ambulans dan ibunya sebagai ibu rumah tangga.

Meninggal pada usia 90 tahun, Try Sutrisno adalah seorang purnawirawan Jenderal TNI. Ia merupakan salah satu tokoh militer yang kemudian beralih ke dunia politik dan menjabat sebagai Wakil Presiden Indonesia pada era Orde Baru. Perjalanan karier serta kontribusinya selama puluhan tahun di dunia militer dan pemerintahan menjadikannya sebagai figur penting dalam sejarah modern Indonesia.

Perjalanan Karier Militer

Pendidikan dasar hingga menengah Try Sutrisno diselesaikan sebelum ia memutuskan untuk bergabung dengan militer. Pada tahun 1956, ia diterima di Akademi Teknik Angkatan Darat (Atekad) dan menyelesaikan pendidikannya tiga tahun kemudian, pada 1959. Hal ini menjadi awal dari kariernya sebagai perwira TNI.

Selama masa pendidikan militer, ia juga mengikuti berbagai pelatihan khusus seperti pendidikan staf dan komando (Seskoad), serta pendidikan para serta zeni yang memperkaya kemampuannya sebagai perwira.

Try mengawali karier militernya dengan terjun langsung ke medan operasi. Pada tahun 1957, ia ikut serta dalam penumpasan Pemberontakan PRRI (Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia) di Sumatra, yang menjadi pengalaman awalnya di medan perang.

Hubungan dengan Soeharto dan Peningkatan Karier

Karier Try Sutrisno semakin menanjak setelah mengenal Letnan Jenderal Soeharto pada masa Operasi Pembebasan Irian Barat (1962). Hubungan ini menjadi penting dalam perjalanan kariernya. Ia kemudian menjabat sebagai ajudan Presiden Soeharto pada 1974, sebuah posisi yang menjadi batu loncatan bagi kariernya selanjutnya.

Try Sutrisno juga pernah memimpin beberapa komando daerah militer penting seperti Panglima Kodam XVI/Udayana, Kodam IV/Sriwijaya, serta Kodam V/Jaya di Jakarta. Jabatan strategis ini memberinya pengalaman luas dalam kepemimpinan militer.

Puncak Karier Militer

Puncak karier militernya terjadi ketika ia diangkat menjadi Kepala Staf Angkatan Darat (1986–1988), dan kemudian Panglima Tentara Nasional Indonesia (1988–1993). Dalam posisi ini, Try bertanggung jawab atas keseluruhan operasi TNI dan menjadi salah satu perwira senior yang berpengaruh pada masa itu.

Menjadi Wakil Presiden

Setelah puluhan tahun mengabdi di militer, Try Sutrisno kemudian menjabat sebagai Wakil Presiden ke-6 Republik Indonesia pada periode 1993–1998, mendampingi Presiden Soeharto. Ia menjadi salah satu Wakil Presiden dengan latar belakang militer yang kuat, dan sempat dianggap sebagai figur penting dalam stabilitas pemerintahan saat itu.

Usai masa jabatan sebagai Wakil Presiden berakhir pada 1998, Try tetap aktif dalam beberapa organisasi veteran militer, termasuk menjadi Ketua Persatuan Purnawirawan ABRI (Pepabri), serta terlibat dalam forum-forum diskusi politik dan kebangsaan.


Pos terkait