Program MBG Dukung Pertanian dan Pemberdayaan Perempuan, Ekonom Sebut Peluang Nyata

1705400041
1705400041

Dampak Positif Program Makan Bergizi Gratis (MBG) terhadap Ekonomi dan Sosial

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dijalankan pemerintah telah menunjukkan dampak yang signifikan, tidak hanya dalam memenuhi kebutuhan gizi masyarakat, tetapi juga memberikan efek domino terhadap perekonomian nasional. Salah satu sektor yang paling terdampak adalah pertanian, yang pada tahun 2025 mencatat pertumbuhan yang luar biasa.

Seorang ekonom dari Universitas Indonesia, Fithra Faisal Hastiadi, menjelaskan bahwa program MBG turut mendorong pertumbuhan sektor pertanian karena adanya pembentukan ekosistem ekonomi yang lebih inklusif. Ia menyebutkan bahwa pada kuartal keempat 2025, pertumbuhan ekonomi secara makro mencapai 5,39% (yoy), dengan salah satu motor penggeraknya adalah Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) yang tumbuh sebesar 6,12% (yoy). Pertumbuhan sektor pertanian sendiri mencapai 5,33% (yoy), karena produknya terserap oleh SPPG.

Lebih lanjut, Fithra mengungkapkan bahwa saat ini mitra pengelola SPPG serta para pengusaha mulai berinvestasi di sektor hulu MBG seperti pertanian dan peternakan. Hal ini memicu lonjakan pertumbuhan di sektor pertanian akibat dampak positif dari program MBG. Ia menambahkan bahwa pertumbuhan sektor pertanian pada tahun lalu terbilang tertinggi selama beberapa tahun terakhir, dengan pertumbuhan 5,33% pada 2025, dibandingkan hanya 0,68% pada 2024 dan 1,31% pada 2023.

Investasi pada sektor hulu ini dianggap sebagai solusi jangka panjang untuk menjaga stabilitas harga di pasar umum dan memperkuat ketahanan pangan nasional melalui peningkatan kapasitas produksi petani lokal.

Selain berdampak pada sektor pertanian, program MBG juga memberikan dampak jangka pendek yang nyata, yaitu peningkatan rantai nilai (value chain) di tingkat UMKM. Partisipasi aktif perempuan di sektor formal maupun informal juga semakin meningkat. Fithra menyebutkan bahwa program ini lebih inklusif dalam hal pola investasi, dengan partisipasi perempuan yang lebih terlihat karena dominasi mereka di sektor kuliner. Hal ini memberikan peluang ekonomi nyata bagi perempuan.

Jumlah SPPG yang Terus Bertambah

Hingga hari ini, jumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang dibangun telah mencapai 23 ribu unit. Diperkirakan sebanyak 1,4 juta tenaga kerja terserap secara langsung di dapur yang mengolah MBG. Berdasarkan data internal Badan Gizi Nasional, sekitar 55% pekerja dapur SPPG adalah perempuan, atau sekitar 770 ribu pekerja yang terserap oleh program MBG adalah perempuan.

Partisipasi aktif perempuan dalam SPPG juga berkontribusi pada pemberdayaan ekonomi. Program MBG membuka peluang kerja baru, khususnya bagi perempuan, dan berkontribusi pada peningkatan pendapatan rumah tangga.

Dampak Positif pada Anggaran Rumah Tangga

Menurut survei yang dilakukan Research Institute of Socio-Economic Development (RISED), terhadap 1.800 orang tua, program MBG terbukti memberikan dampak positif terhadap efisiensi anggaran rumah tangga. Sebanyak 36% responden mencatat penurunan pengeluaran harian, terutama berkat berkurangnya biaya bekal dan uang saku anak. Meskipun 63% keluarga melaporkan penghematan yang masih di bawah 10% dari total belanja bulanan, kehadiran MBG dinilai efektif dalam menjaga stabilitas pengeluaran rutin keluarga.

Dukungan terhadap keberlanjutan program MBG menurut hasil studi RISED mencapai 81 persen di kalangan orang tua rumah tangga rentan. Orang tua siswa ternyata tidak hanya melihat MBG sebagai manfaat ekonomi semata, tetapi juga sebagai program yang memberikan keamanan dan kenyamanan.

Kepuasan Orang Tua terhadap Standar Gizi

Standar gizi yang diberikan MBG mendapat apresiasi tinggi dari para orang tua siswa. Sebanyak 72% orang tua dalam survei merasa setuju bahwa anak-anak jadi lebih rutin mengonsumsi makanan bergizi sejak menerima MBG. Dengan begitu, beban pikiran orang tua pun berkurang untuk memikirkan nutrisi harian anak-anaknya.


Pos terkait