Promo Ramadan Memicu Peningkatan Penjualan Toko Konvensional

Strategi Peningkatan Penjualan Di Bulan Puasa Ramadhan Tambah Untung Jadi Mitra Kiosbank 1
Strategi Peningkatan Penjualan Di Bulan Puasa Ramadhan Tambah Untung Jadi Mitra Kiosbank 1

Perubahan Pola Belanja Masyarakat di Kendal

Di tengah momentum Lebaran, berbagai promo penjualan terus bermunculan di berbagai platform belanja online. Hal ini mulai memengaruhi perilaku masyarakat dalam berbelanja, termasuk di wilayah Kendal. Banyak warga kini lebih memilih berbelanja secara daring karena berbagai keuntungan yang ditawarkan.

Pengalaman Berbelanja Online

Wahyuni, seorang ibu rumah tangga dari Kendal, mengatakan bahwa ia sering menemukan berbagai promo menarik di marketplace sejak awal Ramadan. Menurutnya, harga yang ditawarkan lebih murah dibandingkan dengan toko konvensional. Ia bahkan telah memilih pakaian Lebaran untuk keluarganya.

“Beberapa hari lalu aku cek ada promo di marketplace, tapi belum aku beli. Nah kemarin pas aku cek kok sudah enggak ada, untungnya ini ada toko online lain yang masih ada promo,” ujarnya.

Ia lebih memilih berbelanja secara online karena adanya diskon dan tidak perlu mengeluarkan ongkos bensin. “Aku kalau mau ke Kendal untuk belanja langsung itu jauh, lebih enak beli online saja.”

Meski begitu, Wahyuni mengakui bahwa ia tidak bisa menjajal bahan dari pakaian yang diinginkan. “Ya kan memang itu risikonya. Tapi alhamdulillah aku kalau beli pakaian di online bahannya sesuai, cuma kadang ukuran yang enggak sesuai. Kalau ukuran enggak sesuai biasanya aku bawa ke tukang permak.”

Perubahan Perilaku Konsumen

Perubahan perilaku belanja masyarakat sangat terasa dalam beberapa tahun terakhir. Ratnasari, seorang pedagang pakaian di Pasar Johar, mengatakan bahwa banyak konsumen kini beralih ke platform daring untuk berbelanja kebutuhan Ramadan dan Lebaran. Hal ini berdampak pada penurunan penjualan di toko konvensional.

Dibandingkan dengan Ramadan tahun lalu, penjualannya turun sekitar 30 persen. Bahkan, pada hari-hari biasa di luar akhir pekan, pasar terlihat lengang. Meski demikian, Ratnasari tetap berupaya menarik pembeli dengan menyediakan model pakaian yang mengikuti tren terbaru. Ia menyasar segmen ibu-ibu yang dinilai masih gemar berbelanja langsung ke pasar.

“Kami cari model yang update saja. Soalnya enggak banyak orang yang tahu online. Jadi kayak ibu-ibu itu kan lebih suka datang ke pasar, terus beli bisa lihat barang, bahan, dan sebagainya,” jelasnya.

Penurunan Penjualan di Toko Konvensional

Ros, seorang pedagang makanan ringan di Pasar Johar, juga mengakui bahwa penjualannya tahun ini turun sekitar 50 persen dibandingkan periode sama tahun sebelumnya. Menurutnya, gempuran promo di toko online, termasuk di momen Ramadan ini turut memengaruhi pola belanja masyarakat.

Meski demikian, Ros punya antisipasi dengan menyediakan varian yang lebih ekonomis. Misalnya nastar dan kastengel, ia menyediakan kualitas di bawahnya dengan harga hampir setara promo-promo di toko daring.

“Kalau yang murah kan juga ada yang Rp 120 ribu, Rp150 ribu per kilogram. Bahkan yang di bawah Rp 100 ribu juga ada, per kilogram loh ya. Cuma kalau pembeli di tempat saya kalau nggak puasa kan langsung saya suruh coba, tinggal pilih yang mana,” ungkapnya.

Tetap Mengandalkan Penjualan Luring

Di tengah perubahan pola belanja masyarakat, Ratnasari mengaku hingga kini belum memiliki toko online dan masih mengandalkan penjualan secara luring. Ia menyebut, lonjakan pembeli biasanya terjadi sekitar H-7 Lebaran dan bertepatan dengan keluarnya THR.

“Biasanya H-7 itu mulai ramai, pas THR sudah keluar,” tuturnya. Pada masa puncak tersebut, dia menambahkan, penjualannya bisa melonjak drastis. “Lonjakan di momen THR sekitar lima kali lipat.”

Adapun, Ros tetap memilih berjualan secara offline dan belum pernah mencoba berjualan online. “Enggak ada tenaganya. Enak di sini saja, langsung ketemu pembeli, bisa jelasin barangnya.” Ia menilai, tidak semua konsumen puas dengan belanja online, terutama untuk produk makanan.

Ros bercerita, beberapa pelanggannya pun kembali berbelanja secara konvensional setelah tidak puas dengan barang yang dibeli secara online. “Saya pernah cek kacang mete, memang lebih murah online, tapi belum tahu barangnya kayak apa. Langgananku pernah beli di online, tapi satu kali tok. Tidak sesuai barangnya, dia kembali ke sini.”

“Jadi kalau kletikan (makanan ringan) itu bentuknya bisa sama, tapi rasanya beda, mereknya beda. Punyaku memang agak mahal, tapi kualitasnya jelas. Pelanggan sudah tahu rasanya,” paparnya.


Pos terkait