Proyek Jalan Tol Tangerang 39,4 KM Senilai Rp 30 Triliun Dijalankan

Aa1xks0f 3
Aa1xks0f 3

Rencana Pengembangan Jalan Tol di Wilayah Tangerang

Wilayah Tangerang, Banten akan segera memiliki calon jalan tol baru yang direncanakan dengan panjang mencapai 39,4 kilometer dan nilai proyek sebesar Rp 30 triliun. Proyek ini akan dikerjakan oleh PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) mulai tahun 2026. Fokus utama perusahaan adalah melanjutkan pembangunan Jalan Tol Serpong-Balaraja (Serbaraja), yang menjadi proyek infrastruktur kunci menghubungkan Serpong dengan pusat pertumbuhan baru di Balaraja, Kabupaten Tangerang.

Jalur tol ini dirancang dalam tiga fase utama. Fase 1 (Serpong-Legok) sepanjang 5,15 kilometer telah beroperasi penuh dengan tarif Rp 6.000 untuk kendaraan Golongan I. Kini, perhatian beralih pada Fase 2 (Legok-Tigaraksa Selatan) sepanjang 11,5 kilometer dan Fase 3 (Tigaraksa Selatan-Balaraja) yang membentang 18,6 kilometer.

Secara teknis, kebutuhan investasi untuk keseluruhan proyek ini diperkirakan menembus angka Rp 30 triliun. Namun, Direktur BSDE, Hermawan Wijaya menyebut bahwa angka final belanja modal (capital expenditure) untuk Fase 2 dan 3 masih dalam tahap pengolahan di Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT).

“Secara garis besar, jika diasumsikan dari fase pertama yang memakan biaya sekitar Rp 5,2 triliun untuk jarak 5 kilometer, maka sisa 30 kilometer berikutnya akan memiliki angka yang cukup signifikan,” tutur Hermawan menjawab, (25/2/26).

Target penyelesaian total proyek Tol Serbaraja dicanangkan pada tahun 2030. Saat itu, jalur ini diproyeksikan telah mencapai titik Balaraja Timur. Ruas ini menjadi krusial karena menghubungkan BSD City langsung dengan jalur logistik utama menuju Merak dan kawasan industri Tangerang Barat.

Hermawan optimistis target 2030 dapat tercapai, meskipun realisasinya sangat bergantung pada kesiapan lahan dan penentuan tarif oleh BPJT. Mengenai struktur tarif, ia memperkirakan formulasinya akan menyerupai Fase 1 yang saat ini berada di kisaran Rp 6.000 untuk jarak 5 kilometer pertama.

Dalam jangka pendek, menghadapi momentum mudik dan libur Lebaran 2026, manajemen memastikan bahwa Tol Serbaraja Fase 1 dalam kondisi prima. Mengingat jalur ini merupakan akses aglomerasi dan bukan jalur utama mudik nasional yang mengarah ke Trans-Jawa, tingkat kepadatan diperkirakan tetap terkendali tanpa kendala operasional yang berarti.

Keunggulan Strategis Jalan Tol Serbaraja

Secara strategis, keberadaan Tol Serbaraja memberikan keunggulan kompetitif bagi BSDE dalam memasarkan lahan-lahan di sisi barat BSD City. Konektivitas tol ini tidak hanya memangkas waktu tempuh, tetapi juga mengubah wajah kawasan dari daerah pinggiran menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru. Dengan adanya jalan tol ini, aksesibilitas terhadap wilayah tersebut meningkat secara signifikan, sehingga mendorong pertumbuhan ekonomi dan pengembangan infrastruktur di sekitarnya.

Selain itu, proyek ini juga diharapkan mampu mengurangi kemacetan lalu lintas di wilayah Tangerang, khususnya di area yang dekat dengan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi. Dengan demikian, Tol Serbaraja tidak hanya menjadi sarana transportasi yang efisien, tetapi juga berkontribusi pada peningkatan kualitas hidup masyarakat sekitar.

Pengembangan jalan tol ini juga diharapkan bisa menjadi contoh sukses dalam pengelolaan infrastruktur yang berkelanjutan, dengan mempertimbangkan aspek lingkungan dan keberlanjutan ekonomi. Dengan adanya proyek ini, diharapkan bisa menjadi salah satu bagian dari upaya pemerintah dalam membangun kawasan perkotaan yang lebih terintegrasi dan efisien.

Pos terkait