Pertumbuhan Kredit di Awal Tahun 2026 Diperkirakan Masih Terbatas
Bank CIMB Niaga memproyeksikan pertumbuhan penyaluran kredit pada kuartal I-2026 akan bergerak terbatas. Hal ini disebabkan oleh kondisi animo investasi usaha dan daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih. Presiden Direktur & CEO CIMB Niaga, Lani Darmawan, menyampaikan bahwa pertumbuhan kredit pada periode tersebut diperkirakan berada di bawah 5%.
“Kami melihat masih akan relatif mild di bawah 5%,” tulis Lani dalam pernyataannya.
Optimisme di Semester II-2026
Meskipun pertumbuhan kredit di awal tahun diperkirakan moderat, manajemen CIMB Niaga tetap optimistis bahwa kinerja penyaluran dana akan meningkat seiring masuknya semester II-2026. Peningkatan ini didukung oleh kualitas aset yang terjaga. Rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) CIMB Niaga tercatat rendah di level 1,8%. Dengan kondisi tersebut, ruang ekspansi dinilai masih terbuka selama risiko tetap terkendali.
“Seluruh segmen relatif baik asset quality-nya,” ujar Lani. Ke depan, CIMB Niaga berharap muncul sentimen positif baik dari dalam negeri maupun global yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi dan memperkuat permintaan kredit.
Pertumbuhan Kredit Perbankan Nasional
Di sisi regulator, Bank Indonesia (BI) mencatat pertumbuhan kredit perbankan nasional tetap solid pada awal tahun. Berdasarkan data uang beredar, kredit perbankan tumbuh 10,2% secara tahunan (year on year/YoY) menjadi Rp 8.416,4 triliun per Januari 2026. Pertumbuhan tersebut lebih tinggi dibandingkan Desember 2025 yang tercatat 9,3% (yoy).
Untuk sepanjang 2026, BI memproyeksikan pertumbuhan kredit berada di kisaran 8%–12%. Meski demikian, sejumlah bank masih memilih bersikap hati-hati pada awal tahun sambil mencermati dinamika ekonomi domestik dan global.
Faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan Kredit
Beberapa faktor utama yang memengaruhi pertumbuhan kredit di awal tahun 2026 antara lain:
- Animo Investasi Usaha: Banyak pelaku usaha masih ragu untuk melakukan investasi besar karena ketidakpastian ekonomi.
- Daya Beli Masyarakat: Daya beli masyarakat belum sepenuhnya pulih akibat inflasi dan kenaikan harga kebutuhan pokok.
- Kualitas Aset Bank: Kualitas aset yang baik memberikan ruang bagi bank untuk menyalurkan kredit dengan risiko terkendali.
- Dinamika Ekonomi Global: Perubahan kondisi perekonomian global dapat memengaruhi sentimen pasar dan permintaan kredit.
Prospek Kredit di Tengah Ketidakpastian
Meski ada tantangan, para pemangku kepentingan tetap optimis bahwa pertumbuhan kredit akan meningkat seiring waktu. Proses pemulihan ekonomi yang bertahap serta adanya stimulus dari pemerintah dapat menjadi faktor pendukung. Selain itu, peningkatan kepercayaan konsumen dan pengusaha juga bisa menjadi indikator positif bagi pertumbuhan kredit.
Strategi Bank dalam Menghadapi Tantangan
Untuk menghadapi tantangan di awal tahun, bank-bank seperti CIMB Niaga menjalankan strategi yang lebih hati-hati dalam menyalurkan kredit. Hal ini dilakukan guna memastikan bahwa risiko kredit tetap terkendali. Beberapa langkah yang diambil antara lain:
- Pemantauan Kualitas Aset: Memastikan bahwa rasio kredit bermasalah tetap rendah.
- Analisis Risiko: Melakukan analisis risiko secara mendalam sebelum menyetujui peminjaman.
- Peningkatan Layanan: Memberikan layanan yang lebih baik kepada nasabah agar meningkatkan kepercayaan dan loyalitas.
Kesimpulan
Pertumbuhan kredit di awal tahun 2026 diproyeksikan masih terbatas akibat berbagai faktor eksternal dan internal. Namun, dengan kualitas aset yang baik dan optimisme di semester II-2026, prospek kredit tetap menjanjikan. Bank-bank akan terus beradaptasi dengan dinamika ekonomi sambil tetap menjaga stabilitas dan kualitas layanan.





