Mengenal Night Terror pada Anak
Night terror, atau sering disebut sebagai gangguan tidur parasomnia, adalah kondisi yang umum terjadi pada anak-anak. Psikolog Anak dan Keluarga dari Universitas Indonesia, Rose Mini, menjelaskan bahwa night terror ditandai dengan kepanikan ekstrem, menjerit, atau meronta-ronta saat tidur. Meskipun lebih sering dialami oleh anak-anak, kondisi ini juga bisa terjadi pada orang dewasa.
Fase night terror biasanya muncul setelah anak tidur selama beberapa jam. Pada titik ini, anak belum sepenuhnya masuk ke fase tidur yang lelap. Saat episode terjadi, anak akan tiba-tiba merasakan takut atau cemas. Gejalanya dapat mencakup detak jantung yang meningkat, keringat berlebih, teriakan atau tangisan, serta perilaku gelisah yang intens.
Rose mengatakan bahwa night terror dapat dipicu oleh berbagai faktor. Misalnya, anak yang sedang demam atau memiliki kondisi penyakit tertentu bisa mengalaminya. Selain itu, faktor psikologis seperti ketakutan, baru saja dimarahi, atau mengalami tekanan emosional juga bisa menjadi pemicu.
Tidak Perlu Khawatir Berlebihan
Menurut Rose, orang tua tidak perlu merasa khawatir secara berlebihan jika anak mengalami night terror. Dalam banyak kasus, kondisi ini cenderung membaik seiring pertambahan usia anak. Namun, ia menekankan pentingnya pemantauan berkala terhadap perkembangan anak.
Anak yang mengalami night terror mungkin memiliki kerentanan terhadap kecemasan. Namun, kondisi ini tidak langsung menyebabkan gangguan kesehatan mental. Jika kejadian tersebut terjadi secara berulang, tidak menunjukkan perbaikan, atau bahkan semakin parah, orang tua disarankan untuk berkonsultasi dengan psikiater, psikolog, atau dokter yang kompeten.
Cara Menangani Night Terror
Saat anak mengalami night terror, orang tua perlu memahami bahwa anak sedang dalam keadaan tidak sepenuhnya sadar. Kondisi ini mirip dengan fenomena tidur berjalan. Oleh karena itu, penanganannya pun sama. Orang tua tidak boleh berusaha membangunkan anak secara paksa atau mengagetkannya.
Sebaliknya, orang tua disarankan untuk tetap tenang dan mendampingi anak hingga episode mereda. Jika anak tampak meronta atau gelisah, cukup sentuh atau pegang tangannya secara lembut untuk memastikan keselamatannya. Jauhkan juga anak dari benda-benda berbahaya. Hindari memeluk atau menahan tubuh anak secara berlebihan karena tindakan ini bisa meningkatkan ketidaknyamanan.
Pencegahan yang Efektif
Untuk mencegah terjadinya night terror, Rose menyarankan orang tua menciptakan rutinitas tidur yang konsisten dan suasana yang menenangkan sebelum anak tidur. Aktivitas yang terlalu stimulatif, seperti bermain terlalu keras, melompat-lompat, menonton tayangan menegangkan, atau situasi yang memicu kemarahan dan tangisan, sebaiknya dihindari menjelang tidur.
Sebaliknya, orang tua dapat menciptakan rutinitas yang lebih menenangkan. Contohnya, membacakan cerita, menyanyikan lagu lembut, atau memberikan sentuhan ringan agar anak merasa nyaman. Yang terpenting, anak harus merasakan kehadiran dan dukungan orang tua sehingga bisa memasuki waktu tidur tanpa rasa cemas.




