Penjualan Perdana Bijih Nikel di IGP Pomalaa Menandai Langkah Penting PT Vale Indonesia
PT Vale Indonesia Tbk (PT Vale) telah mencatat penjualan perdana bijih nikel dari Indonesia Growth Project (IGP) Pomalaa di Kabupaten Kolaka, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra), pada Minggu (1/3/2026). Proyek ini menjadi salah satu langkah strategis dalam pengembangan industri nikel nasional dan penguatan posisi Indonesia di pasar global.
IGP Pomalaa dapat dicapai melalui jalur darat dengan menggunakan sepeda motor atau mobil dari Kota Kendari, ibu kota Provinsi Sultra. Jarak tempuhnya sekitar 177 kilometer, yang membutuhkan waktu sekitar 5 hingga 6 jam perjalanan.
Direktur dan Chief Project Officer PT Vale Indonesia Tbk, Muhammad Asril, menjelaskan bahwa penjualan perdana ini bukan hanya sekadar milestone operasional, tetapi juga merupakan langkah penting dalam proses de-risking proyek, validasi kesiapan sistem produksi, serta penguatan fondasi pertumbuhan jangka panjang perusahaan.
Dengan nilai investasi terintegrasi sebesar Rp74,44 triliun (US$4,43 miliar), IGP Pomalaa menjadi salah satu proyek strategis yang memperkuat fondasi industri nikel nasional. Proyek ini juga berkontribusi pada meningkatkan daya saing Indonesia di pasar global.
Capaian ini menandai fase penting dalam transisi proyek dari tahap konstruksi menuju fase operasional yang menghasilkan pendapatan. Selain itu, proyek ini memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global mineral kritis.
Fase Operasional yang Menghasilkan Pendapatan
Penjualan perdana ini dimungkinkan melalui aktivasi area oresale di Pit PB5 dan Pit PB1, yang dirancang untuk mengoptimalkan arus material dan menjaga stabilitas produksi. Kedua pit tersebut memiliki kapasitas penampungan hingga 4 juta wet metric ton (Mwmt) bijih limonit.
Kapasitas penyimpanan ini memberikan fleksibilitas inventori yang signifikan serta menjamin keberlanjutan suplai menuju fasilitas pengolahan di Pomalaa. Aktivasi kapasitas stockpile skala besar ini memperkuat stabilitas pasokan bahan baku, ketahanan logistik di tengah volatilitas pasar komoditas, dan kesiapan menuju fase produksi penuh.
Dengan kapasitas penyimpanan 4 Mwmt dan target produksi bulanan, proyek ini memiliki inventory buffer yang memadai untuk menjaga konsistensi suplai sekaligus mengurangi risiko gangguan operasional.
Target Produksi dan Strategi Peningkatan
Memasuki Maret 2026, IGP Pomalaa menargetkan produksi sekitar 300.000 ton limonit per bulan atau sekitar 9.600 ton per hari. Strategi peningkatan produksi dilakukan secara bertahap guna memastikan keberlanjutan operasional dan optimalisasi kapasitas.
Proses ini menunjukkan komitmen PT Vale dalam menjaga kualitas dan efisiensi produksi sekaligus memenuhi permintaan pasar yang terus berkembang. Dengan demikian, IGP Pomalaa tidak hanya menjadi proyek yang strategis, tetapi juga menjadi contoh nyata dari inovasi dan pengembangan industri nikel di Indonesia.





