PTKIN Mengapresiasi Pendekatan Humanis Polri

Aa1xl86p 2
Aa1xl86p 2



JAKARTA – Koordinator pusat Dema PTKIN Se-Indonesia, Miftahul Rizqi, menilai bahwa jajaran Kepolisian Negara Republik Indonesia menunjukkan pola penanganan yang lebih humanis dalam mengawal aksi unjuk rasa mahasiswa dari Universitas Indonesia dan beberapa kampus lain di Jakarta, pada Jumat (27/2).

Menurutnya, aparat kepolisian hadir dengan pendekatan yang lebih ramah dan tidak menggunakan barikade kawat berduri atau formasi represif yang cenderung menimbulkan kesan intimidatif. Pendekatan ini dinilai menciptakan ruang dialog yang lebih sejuk serta meminimalisir potensi gesekan antara aparat dan mahasiswa.

Miftahul juga menyampaikan duka mendalam atas meninggalnya seorang pelajar MTsN akibat dugaan tindakan kekerasan oleh anggota Brimob di Tual, Maluku. Ia menilai hal tersebut menjadi peringatan penting bagi seluruh pihak untuk tetap menjaga sikap profesional dan menghormati hak asasi manusia.

Seperti diketahui, mahasiswa UI bersama rekan-rekannya dari Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta menyampaikan aspirasi mereka secara bergantian. Dalam aksinya, mereka menyampaikan beberapa tuntutan kepada Kapolri, seperti:

  • Mengusut tuntas dan menindak tegas secara pidana pelaku oknum Brimob.
  • Mendorong reformasi Polri secara konkret.
  • Membebaskan tahanan politik.
  • Membatasi kewenangan Polri dalam jabatan sipil.

Miftahul mengatakan bahwa mahasiswa memiliki kekecewaan terhadap perilaku oknum aparat yang masih menunjukkan sikap arogan dan melakukan kekerasan terhadap rakyat. Namun, ia menilai bahwa pola pelayanan dan pengamanan aksi di depan Mabes Polri kali ini menunjukkan wajah lain institusi kepolisian yang lebih terbuka, profesional, dan menghormati hak konstitusional warga negara dalam menyampaikan pendapat.

Dari pengamatan PTKIN, pendekatan humanis seperti ini perlu dijadikan role model dalam penanganan aksi unjuk rasa di masa mendatang. Keamanan dan ketertiban umum dapat tetap terjaga tanpa harus mengedepankan pendekatan represif.

“Kami berharap semoga pola pendekatan humanis yang ditunjukkan oleh Polri di Mabes Polri tersebut dapat diterapkan secara konsisten oleh seluruh jajaran kepolisian di berbagai wilayah Indonesia,” ujar Miftahul.

Selain itu, DEMA PTKIN SE-Indonesia berpendapat bahwa aspirasi mahasiswa harus didengar, dan keadilan harus ditegakkan.

“Pendekatan humanis bukan hanya strategi pengamanan, tetapi wujud komitmen terhadap negara hukum dan demokrasi yang berkeadaban,” pungkas Miftahul.

Pos terkait