Puasa dan Metode Belajar Praktis “Learning by Doing”

1728080454 1
1728080454 1

Metode Belajar yang Efektif: Learning by Doing dan Ibadah Puasa

Metode belajar yang dikenal efektif hingga saat ini adalah learning by doing (belajar sambil dipraktikkan), yang dirumuskan oleh John Dewey, seorang filsuf asal Amerika yang terkenal dengan aliran pragmatisme. Dewey menekankan pentingnya pengalaman langsung dalam proses pembelajaran, di mana peserta didik tidak hanya memahami teori tetapi juga melaksanakan tindakan nyata, kemudian merefleksikan hasilnya dan mengambil pelajaran dari pengalaman tersebut.

Melalui metode ini, peserta didik mampu meningkatkan retensi, keterampilan, motivasi, kreativitas, kemampuan berpikir kritis, kerjasama, komunikasi, dan kemandirian. Dengan demikian, learning by doing menjadi pendekatan belajar yang sangat efektif untuk meningkatkan kemampuan dan keterampilan peserta didik.

Puasa sebagai Bentuk Pembelajaran Praktis

Puasa yang kita lakukan memiliki esensi dan praktik yang sama dengan metode learning by doing. Lewat puasa, umat Muslim tidak hanya menjalani ibadah, tetapi juga belajar tentang pentingnya empati dan kepedulian sosial. Tuhan tidak cukup hanya memberi perintah melalui Al-Qur’an untuk mengasihi fakir miskin, tetapi juga menciptakan perintah puasa agar hamba-Nya merasakan lapar seperti yang dirasakan oleh orang-orang miskin.

Ini adalah cara Tuhan mengajarkan hamba-Nya untuk mengasah empati dan kepedulian sosial, sehingga mereka tergerak hati dan aksinya untuk membantu sesama. Ritual puasa benar-benar merupakan proses belajar lewat pengalaman langsung, yang memberi kesan dan pelajaran kepada setiap umat yang melaksanakannya.

Sejarah dan Konsep Pembelajaran dalam Ibadah Puasa

Praktik ibadah puasa jauh lebih awal dibandingkan teori learning by doing yang diajukan oleh John Dewey. Jika Dewey menggagas teori ini pada awal abad ke-19, ternyata ajaran Islam sejak lama telah memiliki konsep pembelajaran serupa melalui ibadah puasa. Seperti diketahui, ibadah puasa Ramadan pertama kali dilaksanakan oleh Nabi Muhammad pada tahun kedua Hijriyah atau 625 Masehi. Artinya, 1275 tahun sebelum teori learning by doing lahir, umat Islam telah mengimplementasikan esensi teori tersebut melalui ibadah puasa.

Pelajaran Empati dan Kepedulian Sosial dalam Al-Qur’an

Pelajaran empati dan kepedulian sosial melalui ibadah puasa juga terkait dengan peringatan Tuhan dalam ayat-ayat Al-Qur’an. Contohnya, dalam Surat Al-Mau’un, Tuhan memberi peringatan keras bagi hamba-Nya yang tidak peduli dengan nasib anak yatim. Ayat pertama menyebutkan, “Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Maka itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak mendorong memberi makan orang miskin”.

Keterkaitan ini menunjukkan bahwa ajaran Islam konsisten dan sangat peduli dengan nasib anak yatim dan fakir miskin. Islam tidak hanya mengajarkan sikap empati dan peduli melalui puasa, tetapi juga menegaskan kembali nilai-nilai solidaritas dan kepedulian sosial dalam ayat-ayat lainnya.

Aksi Sedekah sebagai Bentuk Implementasi

Nilai-nilai yang diajarkan melalui puasa harus bermuara pada aksi sedekah atau santunan bagi saudara-saudara kita yang masih miskin. Daerah-daerah mayoritas Muslim seperti Nusa Tenggara Barat (NTB) seharusnya tidak banyak warga miskin jika setiap orang Muslim mempraktikkan sedekah sebagaimana anjuran puasa.

Namun, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa pada tahun 2025, 11,38 persen penduduk NTB masih tergolong miskin, yang melampaui rata-rata nasional sebesar 8,25 persen. Data ini menjadi pekerjaan rumah serius bagi kita karena ajaran agama masih dianggap sebagai perintah “langit” tanpa diwujudkan menjadi solusi nyata.

Pendidikan Karakter untuk Membentuk Generasi Peduli

Kepedulian sosial dan kesediaan berbagi seperti yang diajarkan melalui puasa sejatinya menjadi bagian dari pendidikan karakter yang diajarkan kepada anak-anak sejak usia dini atau di pendidikan dasar. Dengan demikian, kepedulian sosial dapat menjadi bagian dari gaya hidup anak bangsa.

Jangan sampai pengalaman buruk perilaku pelit beberapa santri di pondok pesantren terulang kembali. Seorang teman saya bercerita tentang pengalamannya di dua tempat yang berbeda. Di Australia, anak-anak TK diajarkan untuk membawa makanan kesukaannya dalam jumlah yang lebih untuk dibagikan kepada teman kelasnya. Namun, di sebuah pondok pesantren di daerah kita, kamar mandi dan toilet kotor karena anak-anak pesantren takut makanannya diminta oleh temannya.

Cerita ini menunjukkan dua kondisi yang kontras: di negara sekuler, anak-anak dermawan dan peduli sosial; sementara di pondok pesantren yang diajarkan Surat Al-Mau’un, santri-santri pelit dan tidak mau berbagi.

Kesimpulan

Mengajarkan anak berpuasa harus disertai dengan mengajarkan mereka peduli dan empati terhadap sesama. Semoga kita yang sudah belajar melalui metode learning by doing selama berpuasa bisa menjadi bagian dari solusi terhadap rantai kemiskinan yang masih tinggi di daerah kita. Kita bersama-sama berkomitmen untuk membangun tradisi atau gerakan sedekah pasca-Ramadan.

Pos terkait