Pernyataan Keras Reza Pahlavi terhadap Khamenei dan Seruan untuk Perubahan di Iran
Tokoh oposisi Iran, Reza Pahlavi, memberikan pernyataan yang sangat keras dan emosional mengenai situasi terkini di negara tersebut. Ia menilai bahwa kematian Ayatollah Ali Khamenei sebagai titik balik sejarah bagi masa depan Iran. Dalam pesan terbuka yang ia bagikan di X, Pahlavi menyatakan bahwa dirinya adalah figur sentral dalam momen ini dan mengklaim bahwa tindakan militer yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel adalah jawaban atas permohonan rakyat Iran.
Pahlavi menyampaikan apresiasi terbuka kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump atas keputusan militer tegas terhadap rezim Teheran. Ia menilai langkah Trump sebagai peristiwa bersejarah yang akan dikenang lintas generasi. Dalam pernyataannya, ia juga mengutip pesan Trump yang menyatakan bahwa “saat kebebasan kalian telah tiba”, yang ia tafsirkan sebagai panggilan langsung bagi rakyat Iran untuk bangkit dan mengakhiri penindasan rezim teokrasi.
Khamenei Disebut “Diktator Haus Darah”
Dalam pesan yang ditujukan langsung kepada rakyat Iran, Reza Pahlavi menyebut Khamenei sebagai “diktator haus darah” yang ia anggap bertanggung jawab atas kematian puluhan ribu putra-putri terbaik bangsa. Ia menyatakan keyakinannya bahwa segala upaya sisa-sisa rezim untuk menunjuk pengganti Khamenei akan menemui kegagalan. Menurutnya, legitimasi kekuasaan telah runtuh bersama sosok pemimpin tertingginya.
Ia menegaskan bahwa kematian Khamenei bukan sekadar peristiwa politik, melainkan simbol berakhirnya fondasi kekuasaan lama yang selama ini bertahan melalui represi dan ketakutan. Pahlavi menilai bahwa kejadian ini adalah kesempatan besar bagi rakyat Iran untuk membangun masa depan yang bebas dan makmur.
Ultimatum Terbuka dan Seruan Aksi Massa
Reza Pahlavi secara khusus mengarahkan ultimatum kepada unsur militer, penegak hukum, dan pasukan keamanan Iran. Ia mendesak mereka untuk segera menghentikan dukungan terhadap rezim yang, menurutnya, sedang berada di ambang kehancuran. Pahlavi menawarkan jalan keluar dengan mengajak aparat keamanan bergabung bersama rakyat demi menjamin transisi yang stabil menuju Iran yang bebas dan makmur.
Dalam pernyataan resminya, ia menegaskan, “Ini adalah kesempatan terakhir kalian untuk bergabung dengan bangsa… dan mengambil bagian dalam membangun masa depan tersebut,”. Meski menyebut kabar kematian Khamenei sebagai “obat penawar” bagi keluarga korban Revolusi Nasional Singa dan Matahari, Pahlavi mengingatkan bahwa perjuangan belum usai. Ia menginstruksikan para pendukungnya untuk tetap waspada dan bersiap melakukan aksi massa dalam waktu dekat.
Menutup pesannya, Pahlavi menyuarakan optimisme dan menyerukan persatuan nasional. Ia menegaskan bahwa momen penentuan sudah di depan mata dengan pernyataan, “Waktu untuk kehadiran yang luas dan menentukan di jalan-jalan sudah sangat dekat. Bersama-sama, bersatu dan teguh, kita akan mewujudkan kemenangan akhir,”.
Pesan Lengkap Reza Pahlavi untuk Warga Iran
Rekan-rekan senegaraku sekalian,
Ali Khamenei, diktator haus darah di zaman kita, pembunuh puluhan ribu putra dan putri terbaik Iran, telah dihapuskan dari muka sejarah. Dengan kematiannya, Republik Islam pada hakikatnya telah mencapai ajalnya dan akan segera dibuang ke tong sampah sejarah.
Setiap upaya oleh sisa-sisa rezim untuk menunjuk pengganti Khamenei dipastikan akan gagal sejak awal. Siapa pun yang mereka tempatkan sebagai penggantinya tidak akan memiliki legitimasi maupun daya tahan, dan niscaya akan turut terlibat dalam kejahatan rezim ini juga.
Kepada militer, aparat penegak hukum, dan pasukan keamanan: setiap upaya untuk mempertahankan rezim yang sedang runtuh akan gagal. Ini adalah kesempatan terakhir kalian untuk bergabung dengan bangsa, membantu memastikan transisi Iran yang stabil menuju masa depan yang bebas dan makmur, serta ikut serta dalam membangun masa depan tersebut.
Kematian penjahat Khamenei, meskipun tidak dapat membalaskan darah yang telah tumpah, kiranya dapat menjadi obat penawar bagi hati yang terluka dari para ayah dan ibu yang berduka, suami dan istri, putra dan putri, serta keluarga dari mereka yang telah memberikan nyawa dalam Revolusi Nasional Singa dan Matahari Iran.
Rakyat Iran yang terhormat dan pemberani,
Ini mungkin menjadi awal dari perayaan nasional besar kita, namun ini bukanlah akhir dari perjalanan. Tetaplah waspada dan bersiap. Waktu untuk kehadiran yang luas dan menentukan di jalan-jalan sudah sangat dekat. Bersama-sama, bersatu dan teguh, kita akan mewujudkan kemenangan akhir, dan kita akan merayakan kebebasan Iran di seluruh tanah air tercinta.
Hidup Iran,
Reza Pahlavi
Profil Reza Pahlavi
Reza Pahlavi adalah putra sulung sekaligus putra mahkota dari Mohammad Reza Pahlavi, Shah (Raja) terakhir Iran yang digulingkan dalam Revolusi 1979. Ia lahir di Teheran pada 31 Oktober 1960, dan resmi menyandang status pangeran saat penobatan ayahnya pada 1967.
Pahlavi meninggalkan Iran pada usia 17 tahun untuk menjalani pelatihan pilot jet Angkatan Udara di Amerika Serikat. Namun, hanya beberapa bulan setelah kepergiannya, revolusi meletus dan memaksa keluarganya melarikan diri dari Iran. Sejak saat itu, ia menghabiskan sebagian besar hidupnya di pengasingan, terutama di wilayah Washington D.C., AS.
Meski ayahnya sangat tidak populer di akhir masa jabatannya karena gaya kepemimpinan yang otokratis, Reza Pahlavi membangun citra baru di pengasingan sebagai pendukung pemerintahan sekuler dan demokrasi penuh untuk Iran. Ia memiliki gelar sarjana di bidang ilmu politik dari University of Southern California (USC).
Sepanjang tahun 1990-an hingga 2000-an, Pahlavi rutin muncul di stasiun televisi berbahasa Persia untuk mengampanyekan pembangkangan sipil tanpa kekerasan. Meskipun ia menyatakan tidak berambisi kembali ke takhta sebagai raja, ia sering memposisikan diri sebagai “katalisator” bagi rakyat Iran untuk menentukan masa depan mereka sendiri.
Pasca-kematian Khamenei, Pahlavi mengeluarkan seruan krusial kepada militer dan aparat keamanan Iran untuk segera membelot dan bergabung dengan gerakan rakyat. Posisi politik Pahlavi sering kali sejalan dengan kebijakan luar negeri AS. Pada 2023, ia melakukan kunjungan bersejarah ke Israel dan bertemu dengan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.
Dukungannya terhadap kebijakan “tekanan maksimum” Donald Trump terhadap Iran menjadikannya tokoh sentral bagi oposisi Iran di luar negeri. Kini, dengan tewasnya Khamenei di Teheran, dunia menunggu apakah seruan Pahlavi untuk “kehadiran masif di jalanan” akan benar-benar mengakhiri kekuasaan Republik Islam Iran yang telah bertahan sejak 1979.





