Pertumbuhan Ekonomi Indonesia pada 2025
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengakui bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2025 masih berada di bawah capaian negara tetangga, yaitu Vietnam dan Malaysia. Meski demikian, ia menegaskan bahwa kedua negara tersebut harus menanggung ongkos fiskal yang jauh lebih besar dibandingkan Indonesia.
Purbaya menyampaikan bahwa pertumbuhan ekonomi nasional pada 2025 tercatat mencapai 5,11%. Angka ini lebih rendah jika dibandingkan dengan lompatan ekonomi Vietnam yang mencapai 8,02%, maupun Malaysia yang tumbuh sebesar 5,17%.
Namun, bendahara negara menyoroti bahwa capaian impresif dari kedua negara jiran tersebut harus dibayar mahal dengan pelebaran defisit anggaran yang signifikan. Tercatat, defisit fiskal Indonesia mampu dijaga pada level 2,92% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Di sisi lain, defisit Vietnam menyentuh angka 3,6% dari PDB, sedangkan Malaysia membengkak hingga 6,41% dari PDB.
“Jadi, mereka [Vietnam dan Malaysia] bayar pertumbuhan itu dengan ongkos yang besar sekali dibanding kita,” ujar Purbaya dalam konferensi pers APBN Kita di Kantor Kemenkeu, Jakarta, Senin (23/2/2026).
Lebih lanjut, Purbaya menjelaskan bahwa jika kinerja fiskal tersebut disandingkan dengan standar internasional terkait kehati-hatian fiskal yang mematok batas aman defisit maksimal 3% dari PDB maka Vietnam dan Malaysia telah melampaui batas tersebut. Sebaliknya, dia menilai Indonesia terbukti mampu memacu pertumbuhan dengan tetap mempertahankan prinsip kehati-hatian, sebuah manuver yang membuktikan kualitas pengelolaan fiskal domestik.
“Jadi, kita bisa menciptakan pertumbuhan dengan memastikan prinsip kehati-hatian tetap terjaga. Jadi, kita lebih jago dari negara-negara itulah,” ungkap Purbaya.
Dinamika Makroekonomi Global
Terkait dengan lanskap makroekonomi, Purbaya mencatat bahwa ekonomi dunia pada 2025 telah menunjukkan resiliensi yang banyak dimotori oleh kinerja negara-negara berkembang. Ke depan, pemerintah berkomitmen untuk terus memitigasi dinamika dan risiko global demi memastikan pertumbuhan domestik tetap solid pada tahun ini.
Mantan ketua dewan komisioner Lembaga Penjamin Simpanan itu juga menekankan bahwa instrumen APBN akan tetap bertindak sebagai shock absorber alias peredam gejolak yang responsif namun tetap terukur dalam menghadapi fluktuasi ekonomi.
“Kalau kita down, ekonominya turun, kita kasih stimulus, tapi kehati-hatian fiskal tidak kita tinggalkan,” katanya.
Strategi Pengelolaan Fiskal yang Berkelanjutan
Purbaya menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan stabilitas fiskal. Dalam konteks ini, Indonesia berhasil menunjukkan kemampuan yang baik dalam mengelola anggaran tanpa mengorbankan prinsip kehati-hatian. Hal ini menjadi salah satu faktor utama yang membuat pertumbuhan ekonomi tetap stabil meskipun di tengah tantangan global.
Selain itu, pemerintah juga terus memperkuat kebijakan fiskal yang proaktif dan responsif. Dengan pendekatan ini, Indonesia dapat menghadapi berbagai tekanan ekonomi tanpa mengganggu kesehatan keuangan negara secara keseluruhan.
Tantangan dan Peluang Masa Depan
Meski memiliki capaian positif, Indonesia tetap menghadapi berbagai tantangan. Salah satunya adalah meningkatnya volatilitas pasar global dan dampaknya terhadap ekonomi domestik. Namun, dengan strategi pengelolaan fiskal yang matang, pemerintah yakin dapat meminimalkan risiko tersebut.
Selain itu, peluang untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi juga terbuka lebar. Dengan memaksimalkan potensi sektor-sektor strategis seperti industri, pariwisata, dan teknologi, Indonesia dapat meningkatkan daya saingnya di pasar global.
Kesimpulan
Dari seluruh analisis yang dilakukan, terlihat bahwa Indonesia memiliki keunggulan dalam menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan stabilitas fiskal. Dengan prinsip kehati-hatian yang terjaga, Indonesia mampu menghadapi tantangan ekonomi global tanpa mengorbankan kesejahteraan rakyat. Dengan semangat kolaborasi dan kebijakan yang terukur, Indonesia siap menghadapi masa depan yang lebih cerah.





