Raihan Akan Akhiri Hidup Usai Bacok Farra, Hasil Asesmen Terkuak

Kronologi Raihan130109c
Kronologi Raihan130109c

Kasus Pembacokan di Kampus UIN Suska Riau: Tersangka Menyesal dan Jalani Pendampingan Psikologi

Kasus pembacokan yang terjadi di lingkungan kampus Universitas Islam Negeri Sultan Syarief Kasim (UIN Suska) Riau pada Kamis, 26 Februari 2026, menimbulkan keguncangan dalam komunitas akademik. Kejadian ini melibatkan seorang mahasiswa bernama Raihan Mufazzar (21 tahun) yang menyerang rekannya, Farradhilla Ayu Pramesti (23 tahun), menjelang ujian munaqosah atau sidang skripsi.

Peristiwa Pembacokan yang Menggegerkan

Pada pukul 08.00 WIB, korban sedang menunggu jadwal ujian akhir skripsi di lantai dua Gedung Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum UIN Suska Riau ketika tiba-tiba diserang menggunakan senjata tajam oleh tersangka. Akibat serangan tersebut, korban mengalami luka serius dan harus menjalani operasi di rumah sakit.

Setelah melakukan aksi brutalnya, Raihan sempat memiliki niat untuk mengakhiri hidupnya. Namun, niat tersebut urung dilakukan karena ia lebih dulu diamankan oleh pihak keamanan kampus.

Penyesalan dan Pendampingan Psikologi

Raihan menunjukkan rasa penyesalan yang mendalam selama menjalani pendampingan psikologi di Markas Polresta Pekanbaru. Dalam sesi konseling yang dipimpin oleh Kabag Psikologi Biro SDM Polda Riau AKBP Dr Winarko, pelaku sempat melafalkan Surah Al-Kafirun dan Ayat Kursi. Ia juga menyampaikan keinginannya untuk melaksanakan salat taubat dan membaca buku-buku bernuansa spiritual.

Menurut informasi dari pihak kepolisian, pendampingan psikologis dilakukan untuk memahami kondisi kejiwaan tersangka secara komprehensif. Hasil sementara menunjukkan bahwa Raihan menunjukkan rasa penyesalan yang sangat mendalam dan mengaku bertanggung jawab atas perbuatannya.

Asesmen Awal: Kepribadian Introvert dan Masalah Pribadi

Dari hasil asesmen awal, diketahui bahwa Raihan memiliki kepribadian introvert atau tertutup. Ia disebut tidak pernah merasakan kehangatan dalam lingkungan keluarga. Raihan merupakan anak pertama dari tiga bersaudara, dengan ayahnya bekerja sebagai tukang bangunan.

Sebelum kejadian, Raihan sempat tidak aktif kuliah pada November dan Desember 2025 karena hubungan dengan korban merenggang. Meskipun memiliki kedekatan, pelaku dan korban tidak berpacaran.

Peran Keluarga dalam Pengendalian Emosi

Kombes Pol Zahwani Pandra Arsyad, Kabid Humas Polda Riau, menekankan pentingnya peran keluarga dalam memantau tumbuh kembang anak, terutama dalam pengendalian emosi dan kesehatan mental. Pengawasan, komunikasi, serta kehangatan di lingkungan rumah dinilai menjadi fondasi penting agar persoalan pribadi tidak berkembang menjadi tindakan yang merugikan banyak pihak.

Pendampingan bagi Korban

Selain tersangka, korban juga telah menerima pendampingan psikologi dari tim trauma healing Polda Riau. Korban menjalani pemulihan di RSUD Arifin Achmad Pekanbaru, tempat ia menjalani operasi setelah menerima luka serius akibat aksi pembacokan.




Pos terkait