Raihan Ingin Akhiri Hidup Usaianiaya Fara, Kini Akan Salat Taubat, Polisi Beri Buku Agama

Aa1xffoc 2
Aa1xffoc 2

Penyesalan dan Konseling Psikologis Raihan Mufazzar

Raihan Mufazzar (21), tersangka kasus pembacokan terhadap seorang mahasiswi di lingkungan kampus Universitas Islam Negeri Sultan Syarief Kasim (UIN Suska) Riau, menunjukkan tanda-tanda penyesalan yang mendalam setelah menjalani pendampingan psikologi. Ia tampak beberapa kali melafalkan Surah Al-Kafirun dan Ayat Kursi selama sesi konseling yang dilakukan oleh tim Bagian Psikologi Biro SDM Polda Riau.

Selain itu, ia juga mengungkapkan keinginan untuk melaksanakan salat taubat serta membaca buku-buku bernuansa spiritual selama berada di tahanan. Pendampingan ini dipimpin oleh Kabag Psikologi Biro SDM Polda Riau AKBP Dr Winarko, yang memastikan bahwa semua aspek psikologis tersangka diperiksa secara komprehensif.

  • Dalam sesi konseling, tim psikologi melakukan serangkaian tes untuk memahami kondisi kejiwaan tersangka.
  • Tes tersebut mencakup perilaku di lingkungan keluarga, pertemanan, serta dinamika emosinya sebelum peristiwa terjadi.
  • Hasil sementara menunjukkan bahwa tersangka menunjukkan rasa penyesalan yang sangat mendalam.
  • Ia mengaku bertanggung jawab atas perbuatannya, meskipun sempat memiliki keinginan untuk mengakhiri hidupnya setelah melakukan penganiayaan.

Dikenal sebagai Orang yang Introvert

Dari hasil asesmen awal, diketahui bahwa Raihan memiliki kepribadian introvert atau tertutup. Ia disebut tidak pernah merasakan kehangatan dalam lingkungan keluarga. Raihan merupakan anak pertama dari tiga bersaudara. Ayahnya bekerja sebagai tukang bangunan.

Sebelum kejadian, Raihan sempat tidak lagi aktif kuliah pada November dan Desember 2025 karena hubungan dengan korban, Farradhilla Ayu Pramesti (23), merenggang. Meskipun pelaku dan korban memiliki kedekatan, mereka tidak berpacaran.

Aksi Pembacokan yang Menyedihkan

Aksi pembacokan terjadi pada Kamis, 26 Februari 2026, sekitar pukul 08.00 WIB, di lantai dua Gedung Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum UIN Suska Riau. Saat itu, korban tengah menunggu jadwal ujian akhir skripsi di sebuah ruangan, tiba-tiba diserang menggunakan senjata tajam oleh Raihan Mufazzar.

Korban mengalami luka serius dan sempat menjalani operasi. Sebelumnya, tim trauma healing Polda Riau juga telah memberikan pendampingan psikologi kepada korban di RSUD Arifin Achmad Pekanbaru tempat ia menjalani pemulihan.

Pentingnya Peran Keluarga

Pandra menekankan bahwa peristiwa ini menjadi pengingat pentingnya peran keluarga dalam memantau tumbuh kembang anak, terutama dalam pengendalian emosi dan kesehatan mental. Pengawasan, komunikasi, serta kehangatan di lingkungan rumah dinilai menjadi fondasi penting agar persoalan pribadi tidak berkembang menjadi tindakan yang merugikan banyak pihak.

  • Keluarga harus lebih aktif dalam mendampingi anak-anak.
  • Komunikasi yang terbuka dapat mencegah masalah yang lebih besar.
  • Kesehatan mental perlu diperhatikan sejak dini.

Peristiwa ini juga menunjukkan bahwa kejahatan tidak hanya tentang hukuman, tetapi juga bagaimana cara memperbaiki sisi kemanusiaan dari pelaku.

Pos terkait