Ramadan, Masa Aktifisasi Literasi

Desain Kover Omera 1 684x1024 3
Desain Kover Omera 1 684x1024 3

Ramadan: Bulan Literasi dalam Tradisi Islam

Ramadan sering dianggap sebagai bulan yang penuh dengan ibadah khas seperti shalat tarawih, tadarus Al-Qur’an, dan berbuka puasa bersama. Namun, di balik itu, terdapat potensi besar yang sering kali luput dari perhatian. Sebenarnya, Ramadan adalah bulan yang paling kondusif untuk menghidupkan budaya literasi.

Perintah pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW adalah Iqra’, yang berarti “bacalah!”. Wahyu perdana ini turun di bulan Ramadan. Isyarat mendalam ini menunjukkan bahwa membaca, berpikir, dan mencari ilmu adalah inti dari spiritualitas Islam itu sendiri.

Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan haus, tetapi juga menahan diri dari kemalasan intelektual. Dalam ayat Al-Qur’an yang turun paling awal, yaitu Al-Alaq 1-5, terdapat dua poin penting: Iqra’ dan Qalam. Keduanya memberikan perintah untuk membaca dan menulis. Dengan demikian, Ramadan menjadi momentum untuk mengaktifkan budaya literasi, berdasarkan wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad SAW.

Perintah Iqra’ tidak hanya sekadar membaca Al-Qur’an, melainkan juga membaca secara kritis, memahami konteks, dan menyaring makna. Perintah ini turun di bulan Ramadan, menjadi deklarasi bahwa literasi adalah fondasi peradaban Islam. Secara teologis, ada alasan kuat untuk menyebut Ramadan sebagai bulan literasi. Al-Qur’an yang diturunkan pada bulan ini disebut Nuzulul Qur’an, artinya, Ramadan adalah bulan di mana “Bacaan” (al-Qur’an secara harfiah berarti bacaan atau yang dibaca) hadir ke dunia. Dengan kata lain, Ramadan adalah bulan kelahiran budaya baca.

Tradisi Islam pun kaya akan budaya literasi. Para ulama besar seperti Imam Al-Ghazali, Ibnu Sina, dan Al-Biruni adalah contoh para pembaca dan penulis yang produktif. Mereka tidak hanya membaca Al-Qur’an, tetapi juga mengkontekstulisasikan bacaan mereka dalam kehidupan sehari-hari.

Di Sulawesi, tradisi literasi sudah tertanam sejak lama. Misalnya, Tradisi Massure’ merupakan sebuah kesenian yang mengiringi pembacaan manuskrip La Galigo. Tradisi lisan ini masih dilestarikan oleh passure’ (pembaca) tetua adat hingga saat ini. Di wilayah Sulawesi Selatan, aksara Lontara juga menjadi produk pengetahuan yang mengarah pada literasi. Aksara ini digunakan oleh suku Bugis, Makassar, Mandar, dan lainnya.

Dalam konteks ini, Ramadan bisa menjadi momentum untuk merawat dan menghidupkan kembali tradisi literasi Islam. Membaca Al-Qur’an, membaca buku, membaca realitas sosial, membaca tantangan zaman, dan bahkan membaca diri sendiri.

Namun, data literasi Indonesia menunjukkan angka yang memprihatinkan. Studi PISA dan riset lain menempatkan kemampuan membaca pelajar Indonesia di bawah rata-rata negara-negara. Indonesia juga sering menempati posisi rendah dalam indeks minat baca global. Meski riset tersebut perlu dikaitkan dengan faktor-faktor seperti akses terhadap buku dan infrastruktur pendidikan, faktor lingkungan dan kepentingan riset tersebut tetap menjadi alarm yang tidak bisa diabaikan.

Selain itu, Indonesia adalah negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, sekitar 87 persen dari 270 juta penduduknya beragama Islam. Namun, bangsa yang hidupnya diikat oleh ajaran Iqra justru menghadapi krisis minat baca yang serius. Di sisi lain, pengguna media sosial di Indonesia sangat tinggi, tetapi apakah aktivitas digital ini bisa disebut literasi?

Indonesia saat ini berada dalam kondisi paradoks literasi yang tidak sederhana. Di satu sisi, masyarakat menjadi salah satu pengguna media sosial terbesar di dunia. Namun di sisi lain, kemampuan teknis mengoperasikan gawai tidak sejalan dengan kemampuan mengolah informasi. Masyarakat yang literat lahir dari kebiasaan membaca. Dan Ramadan, dengan segala keistimewaannya, bisa menjadi titik balik membangun kebiasaan itu.

Penguatan literasi dilakukan pada Ramadan karena bulan ini memiliki ekosistem sosial yang unik. Orang-orang berkumpul di masjid, pengajian, dan majelis ilmu. Rutinitas sahur dan buka puasa bersama menciptakan ruang-ruang diskusi yang hangat.

Akhirnya, tantangan literasi Indonesia bukan semata-mata persoalan teknis tentang berapa banyak buku yang dibaca. Ia adalah persoalan kebudayaan dan spiritual; yang lebih dalam, dengan menerjemahkan nilai-nilai spiritual ke dalam praktik intelektual yang produktif.

Nabi Muhammad SAW pernah bersabda bahwa menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap Muslim. Kewajiban ini tidak terbatas pada bulan Ramadan, tetapi Ramadan bisa menjadi titik balik, momentum untuk membangun kebiasaan yang kemudian berlanjut sepanjang tahun.


Pos terkait